ANAK ANAK PIJIOMBO (Part 18)

MENGATUR SIASAT

 

 

Jilan nampak berpikir sesaat. Ia coba mengingat-ingat sesuatu. Jilan tersenyum baru kemudian menjawab.

“Iya mereka tadi mempersiapkan banyak tali dan mereka sembunyikan di balik batu yang tadi mereka duduki itu.”

“Batu itu?” tanya Panjul sekedar memastikan.

Dengan mantap Jilan mengangguk.

“Ya,” jawabnya singkat.

“Baiklah, mari kita ambil tali-tali itu dan kita buat jebakan untuk mereka. Tentunya kau masih ingat kan pelajaran simpul tali temali yang diajarkan Pak Waluyo dalam kegiatan Pramuka?”

“Ingat sih ingat, tapi bagaimana aku bisa ambil tali dan bikin jebakan tali temali kalau tali yang mengikatku belum kau lepaskan!” seru Jilan agak geram.

Panjul malah tersenyum cengengesan.

“Iya, maaf, maaf!”

Dengan cekatan Panjul melepaskan semua tali yang mengikat tubuh Jilan. Begitu terbebas Jilan menggeliatkan tubuhnya sejenak sekadar untuk melonggarkan ototnya yang sedari tadi terikat dan tak bisa bergerak.

“Sekarang saatnya kita beri mereka sedikit kejutan!” ujar Panjul seraya menggelandang tangan Jilan menuju tempat tali-tali itu disembunyikan.

Setelah berhasil mengambil sejumlah tali yang diperlukan, Panjul dan Jilan kembali bersembunyi di tempat yang aman. Dengan bantuan cahaya obor yang remang-remang mereka mulai mengatur siasat. Dengan cekatan Jilan membantu Panjul membuat jebakan-jebakan tali ala Pramuka yang nantinya hendak mereka pasang di tempat-tempat yang tepat.

Panjul dan Jilan membuat simpul-simpul tali tanpa mengurangi kewaspadaan. Sesekali mereka mengawasi ujung lorong. Mereka bekerja dengan cekatan.

“Gak nyangka ternyata ilmu tali temali yang diajarkan Pak Waluyo sangat berguna, ya?” kata Panjul lirih.

“Iya, dan aku jadi merasa menyesal,” sahut Jilan bermuka sedih.

“Menyesal?” Panjul mengulang perkataan Jilan.

“Ya.” Jilan mengangguk lesu.

“Menyesal bagaimana maksudmu?”

“Selama ini kalau lagi diajar tali temali oleh Pak Waluyo, aku sering tidak begitu memperhatikan. Aku mengira keterampilan tali temali ini gak akan berguna. Baru sekarang aku menyadari kalau ilmu tali temali ini sangat bermanfaat. Bahkan bisa menjadi penyelamat,” kata Jilan dengan suara melemah.

“Iya, kadang hal yang kita sepelekan justru yang menyelamatkan,” ujar Panjul setelah menyelesaikan simpul tali terakhir di tangannya.

“Suatu saat aku akan meminta maaf pada Pak Waluyo tentang semua ini.”

“Aku juga.”

Panjul mengakhiri pembicaraan pelan itu. Selanjutnya ia segera mengumpulkan simpul-simpul tali yang sudah jadi. Kini mereka tinggal menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat.

Kambing dan sapi yang berada tak jauh dari mereka nampak gelisah. Kambing-kambing pada mengembik sambil mengitari patok yang dipakai untuk mengikat hewan itu. Sapi-sapi melenguh sambil mengibas-ngibaskan ekornya ke tubuh.

                                                      ****

 

Saat kedua penjaga itu kembali ke tempat jaganya, bola mata mereka langsung melotot bulat-bulat ketika menyadari bahwa tawanan mereka sudah tak ada lagi di tempatnya terikat. Spontan mereka berteriak panik.

“Bedebah! Bocah tengik itu kabur!”

“Ayo cepat kita cari! Dia pasti tak bisa jauh-jauh tinggalkan tempat ini!”

“Ayo!”

Mereka segera berpencar dan memeriksa setiap sudut gua dengan bantuan lampu senter yang mereka bawa. Akibat kepanikan mereka, hewan-hewan yang baru saja tertidur itu terbangun dan suaranya menimbulkan kegaduhan. Begitu mendengar kegaduhan itu, lelaki cebol berperut tambur dan berkepala botak yang selalu tertutup topi ala koboi, langsung mendatangi lokasi keributan.

“Ada apa kalian rebut-ribut, hah? Apa kalian ingin mengundang orang kampung agar datang ke mari untuk menangkap kita semua, hah!” bentak pimpinan komplotan pencuri itu dengan amarah.

“Ma-maaf Bos, bocah tengik yang kita tawan sudah tidak ada,” jawab salah seorang penjaga. Rona ketakutan jelas terpancar di wajahnya.

“Tidak ada bagaimana, hah?!”

“Sepertinya bocah itu telah kabur Bos.”

“Apa? Kabur?! Bagaimana bisa? Dasar ceroboh! Menjaga satu bocah perempuan saja tidak becus! Apa kerja kalian sedari tadi, hah! Sekarang cepat cari sampai ketemu! Bocah itu pasti belum jauh meninggalkan temppat ini. Cepaaat!”

“Ba-baik, Bos!”

Dengan bersungut-sungut si Bos komplotan pencuri itu terus membentak-bentak keempat orang anak buahnya. Jon dan Kris yang merupakan anak buah kepercayaannya juga tak tinggal diam. Mereka segera berbagi tugas untuk menyisir di setiap lorong gua.

Kegaduhan itu dimanfaatkan Jilan dan Panjul untuk memantapkan mengatur siasat dari tempat persembunyiannya.

                                                     ****

 

Sementara di kantor polisi.

Ega baru saja selesai menceritakan semua kejadian yang dialaminya di dalam gua. Tak lupa polisi itu menanyakan ciri-ciri orang yang Ega ceritakan. Sang polisi tersenyum kemudian menyodorkan beberapa lembar foto kepada Ega.

“Coba lihat dan perhatikan foto-foto itu! Adakah wajahnya yang mirip dengan orang-orang yang sekarang menyekap temanmu di dalam gua tadi? Amati baik-baik ya jangan sampai salah!” perintah polisi itu dengan wajah ramah.

Sejenak Ega dan Adib memperhatikan foto-foto itu dengan seksama.

“Memang ini foto-foto siapa, Pak Polisi?” tanya Adib yang tak tahu apa-apa.

“Semua ini adalah foto orang-orang jahat yang sudah masuk dalam daftar pencarian orang bagi polisi,” jawab polisi itu tanpa mengalihkan pandangan dari Ega.

“Bagaimana ada yang kau kenali wajahnya?” Sang polisi kembali bertanya.

“Ini dan ini, Pak!” jawab Ega sambil menunjuk dua foto.

“Kau yakin?”

“Yakin Pak, kedua orang inilah yang mengejar-mgejar kami tadi siang.”

“Baiklah, kalian tunggu di sini sebentar. Saya akan melapor dulu pada Bapak Komandan agar penangkapan bisa segera dilaksanakan.”

“Baik, Pak.” Adib dan Ega menjawab berbarengan.

Dengan langkah tegap polisi itu membawa dua foto yang ditunjuk Ega ke ruang sang komandan. Tampaknya mereka sedang mengatur siasat untuk menggelar operasi penangkapan. Lamat-lamat Adib dan Ega bisa mendengar kata-kata sang komandan polisi. Mereka semakin kawatir atas nasip Jilan dan Panjul sebab komplotan pencuri itu ternyata adalah para penjahat berbahaya dari luar kota yang sudah lama diincar petugas.

“Ya ampun, Dib. Kau dengar sendiri apa kata komandan polisi barusan?” Ega menyikut lengan Adib.

“Iya, aku juga mendengarnya.”

“Ternyata mereka adalah penjahat kambuhan yang sudah lama jadi incaran polisi. Aku semakin kuatir dengan keselamatan Panjul dan Jilan.”

“Iya, semoga saja mereka berdua gak kenapa-napa.”

“Aku berharap juga begitu.”

“Aku dengar Panjul itu anaknya cerdik. Aku yakin dia pasti bisa membuat rencana penyelamatan.”

“Semoga saja memang begitu, Dib.”

Sejenak mereka terdiam. Kini pandangan mereka terpusat ke ruang kerja Komandan Polisi. Kedengarannya pihak kepolisian sedang merencanakan siasat penangkapan. Kali ini mereka tak mau gagal.

Melihat polisi yang masih mengatur strategi, Ega serasa tak sabar untuk segera mengajak mereka pergi. Waktu dirasakannya seperti berjalan lebih lambat. Resah hati Ega tak terkira. Ia dapat merasakan kegelisahan yang pati sedang mencekam perasaan Panjul dan Jilan.

Besar harapan Ega semoga polisi mengatur siasat dengan tepat. Sehingga komplotan pencuri ternak itu dapat dringkus tanpa perlawanan.

 

 

Bersambung …

 

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar