ANAK ANAK PIJIOMBO (Part 23)

KODE ISYARAT CAHAYA

 

 

 

Sesuai petunjuk lokasi dari Ega, begitu tiba di bukit tempat gua persembunyian komplotan pencuri itu berada, Komandan Polisi segera membagi pasukannya menjadi beberapa bagian. Masing-masing bagian disertai pula dengan warga yang ikut serta. Dengan teknik barikade tapal kuda, bukit itu segera dikepung dari segala arah. Kini semua tinggal menunggu aba-aba dari komandan saja.

“Pak Polisi, lihat di atas bukit itu, Pak!” ujar Ega sambil menunjuk seberkas cahaya yang menyorot ke atas.

“Cahaya senter itu maksudmu, Ega?” tanya Komandan Polisi.

Ega mengangguk dengan mantap.

“Iya Pak, saya yakin itu adalah kode dan isyarat dari Panjul dan Jilan yang ada di dalam gua,” jawab Ega penuh semangat.

Sejenak komandan polisi itu memperhatikan pola cahaya yang panjang pendeknya berirama. Sang Komandan Polisi yang sudah hapal dengan semua kode isyarat cahaya langsung paham akan maknanya.

“Temanmu memang cerdik, Ega. Kau benar dia memang mengirim pesan lewat cahaya itu. Pola cahaya seperti itu disebut SOS atau suar meminta pertolongan,” kata Komandan Polisi dengan bangga.

Mendengar pujian Komandan Polisi itu, Adib hanya tersenyum simpul. Sedikit sesal hadir dalam hatinya. Karena ia bukan bagian dari sekolah tempat anak-anak Pijiombo yang hebat ini menimba ilmu.

“Jadi cahaya itu fungsinya sama dengan SMS ya Pak?” tanya Adib yang memang tak tahu apa-apa soal kode isyarat cahaya. Maklum dia malas mengikuti kegiatan Pramuka di sekolahnya.

“Benar Dib, itu pesan rahasia yang tidak bisa terbaca oleh sembarang orang,” jawab Komandan Polisi dengan senyum.

“Apa saya juga bisa mempelajarinya, Pak?”

“Tentu saja bisa Dib, kan hal itu diajarkan dalam Pramuka.” Ega yang justru menjawab pertanyaan Adib.

“Aku gak tanya kau!” sergah Adib sewot.

Komandan Polisi tersenyum melihat keluguan sikap bocah-bocah itu.

“Tapi yang dikatakan Ega itu memang ada benarnya, Dib. Dalam Pramuka segala sandi diajarkan. Tinggal kau rajin-rajin saja belajarnya,” sahut Komandan Polisi tetap dalam senyuman.

Selesai berkata seperti itu, sang komandan segera mengangkat radio komunikasi yang sedari tadi tak lepas dari genggamannya. Dengan suara penuh wibawa ia segera memberi komando untuk anak buahnya.

“Pasukan bagaimana statusmu semuanya?”

“Kami sudah siap di posisi,” sahut seluruh pasukan yang sudah terbagi di beberapa lokasi yang sudah ditentukan.

Sang komandan tersenyum senang.

“Baik, untuk yang bertugas di lubang atas serta pintu gua bisa mulai bertindak sekarang!” Lanjut sang komandan.

“Siap Komandan!” sahut pasukan tegas.

Dengan bantuan seutas tali, dua orang polisi yang bertugas di lubang atas gua yang tepat berada di persimpangan lorong, segera merosot turun. Bergelantungan dengan sikap waspada.

Begitu keduanya sampai di dasar gua, seorang dari mereka segera bersuara lantang dengan mempergunakan pengeras suara.

“Gua ini sudah kami kepung dari segala arah! Kalian yang berada di dalam gua sebaiknya menyerah sebelum kami lakukan tindakan tegas!”

Hening tak ada suara. Tak seorang pun dari anggota komplotan itu menyahut. Hanya derap kaki ternak yang terdengar. Ternak-ternak itu berlarian ke sana ke mari untuk mencari jalan keluar.

Seiring dengan itu, anggota pasukan dan juga warga yang ada di mulut gua juga sudah mulai merangsek masuk setelah terlebih dahulu membabat habis tumbuhan menjalar yang menghalangi pintu gua. Dengan bantuan lampu senter yang ada di bagian depan helm yang anggota polisi kenakan, mereka terus menyisir sepanjang lorong gua.

Mendengar hal itu, Bos komplotan pencuri yang baru tersadar dari tempat dia terjungkal bersama kedua anak buahnya, dengan cepat bertindak menyadarkan teman-temannya.

“Hey, kalian! Ayo, cepat bangun! Kita harus segera berlari dari kejaran para petugas!” seru sang Bos sambil mengguncang tubuh anak buahnya memakai tendangan kakinya.

Sambil meringis kesakitan kedua anak buahnya berusaha bangkit.

“Ayo cepaat, kita harus segera berlari!” Sang Bos tampak semakin tak sabaran lagi.

“I-iya Bos,” sahut salah seorang anak buahnya sambil memegangi lutut kanannya yang memar.

Demi melihat dua petugas polisi dan beberapa warga yang semakin dekat dengan keberadaan mereka, tanpa memedulikan kedua anak buahnya yang belum bisa bangkit lantaran menahan sakit, sang Bos segera berlari sambil berteriak.

“Lariii!”

Dorr!

Salah satu polisi mengeluarkan tembakan peringatan seraya berseru dengan lantang.

“Jangan lari! Tempat ini sudah kami kepung!”

Sang Bos komplotan pencuri itu tak peduli. Terus saja ia berlari meninggalkan kedua anak buahnya yang kini sudah diamankan warga sebelum mereka sempat bangkit dan berlari mengikuti bosnya. Polisi segera pula memborgol dua orang itu.

“Bawa kedua buron ini keluar! Kami akan meneruskan pengejaran lebih ke dalam,” perintah sang polisi pada warga.

Tanpa menyahut, empat orang warga segera menggelandang kedua anggota komplotan pencuri itu keluar gua. Sementara warga yang lain melanjutkan langkah mengikuti bos pencuri yang berlari sekuat tenaga.

Dorr! Pak Polisi mengeluarkan tembakan peringatan untuk yang kedua kalinya.

“Berhenti! Atau kami terpaksa akan menembakmu!” teriak pak Polisi.

Seolah merasa tubuhnya kebal peluru senapan, bos komplotan pencuri itu sedikit pun tak menghiraukan peringatan dari petugas. Dengan napas terengah-engah ia terus berlari dan berlari.

Saat langkahnya hampir sampai di pertigaan lorong gua, ia melihat adanya seutas tali yang menggantung dari lubang di bagian atas gua. Tali itu adalah alat yang tadi dipergunakan untuk turun ke dalam gua.

Hehe!

Sang Bos komplotan pencuri tersenyum. Ia menjadi yakin bahwa ia pasti bakal bisa lolos dari pengejaran petugas dengan mempergunakan tali itu. Makanya saat jarak dirinya dengan tali itu tinggal satu meter saja, ia berusaha melompat agar bisa meraih tali itu dengan cepat. Tapi di luar dugaan ….

Sreett!

Tiba-tiba terasa ada sebuah tali lain yang tahu-tahu sudah menjerat kaki kanannya. Belum sempat ia menyadari apa yang sedang terjadi sesungguhnya, kakinya sudah tertarik ke atas langit-langit gua yang penuh akar menjuntai. Tak ayal tubuhnya jadi tergantung dengan posisi kepala berada di bawah.

“Aowh … toloong! Toloong …!” teriaknya dengan tubuh terombang-ambing.

Teriakannya yang menggema di seluruh lorong gua, membuat polisi dan warga yang sedang memburunya dengan mudah mengetahui keberadaannya.

“Dengar itu, sepertinya buronan kita berada di pertigaan lorong gua!” seru seorang polisi.

Serta merta semua menghentikan langkah. Bersama-sama mereka mempertajam pendengaran. Lantas mereka pada tersenyum sambil mengangguk-angguk.

“Benar Pak Polisi, mari cepat kita ringkus!” sahut seorang warga masih bersemangat.

Dengan selang waktu yang singkat saja, kedua polisi bersama empat orang warga itu sudah tiba di tempat bos komplotan pencuri bergelantungan.

“Ha ha ha ha …! Kenapa kau bergelantungan seperti kelelawar wahai penjahat!” seru seorang petugas dengan tawa sinisnya.

“Sialan!” Bos pencuri meradang kesal.

 

 

Bersambung …

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar