ANAK ANAK PIJIOMBO (Part 3)

JANJI SEPULANG SEKOLAH

 

 

SD Negeri Pijiombo  sudah sepi. Semua siswanya sudah pada pulang. Tinggal guru-gurunya saja yang masih sibuk kerjakan administrasi di ruang guru yang sekaligus menjadi kantor Kepala Sekolah. Tapi di bawah sebatang pohon Srikaya yang ada di sisi timur ruang kelas VI, masih terlihat ada tiga murid yang sedang asyik bercakap-cakap di sana. Tampaknya mereka sengaja bikin janji sepulang sekolah untuk membicarakan suatu masalah. Mereka adalah Panjul, Ega, dan Jilan, murid perempuan paling tomboy di sekolahan itu.

Kini mereka duduk melingkar pada bongkahan-bongkahan batu yang ada di tempat itu. Tanpa buang waktu Ega segera saja membeberkan rencana yang urung ia sampaikan pada Panjul sesaat sebelum istirahat berakhir tadi. Panjul dan Jilan mendengarkannya dengan seksama. Hanya sesekali saja Jilan mengusap rambut poninya.

“Nah jadi begini cara cepat untuk mendapatkan layang-layang yang berpeluang besar bisa mengalahkan Adib adalah dengan mencari layang-layang yang sudah kalah adu sambit. Selain tidak harus keluar uang dengan cara itu kita juga dapat memilih layang-layang sesuai yang kita inginkan. Gimana kalian setuju kan dengan ide hebatku ini?”

Panjul tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya ia setuju dengan ide yang disarankan oleh Ega.

“Wah, saya kira itu ide yang jempolan, Ega!” puji Panjul bangga.

Yang dipuji sedikit membusungkan dada sambil tersenyum jumawa.

 “Kalau menurutmu bagaimana Jilan?” Panjul bertanya seraya beralih menatap Jilan yang sedari tadi diam tak bersuara.

“Ooh jadi semua ini tadi hanya soal layang-layang toh,” sahut Jilan seenak udelnya.

“Iya, memang kenapa?” Ega merasa sedikit kurang suka.

“Ya enggak apa-apa sih. Hanya saja ….” Jilan seolah sengaja menggantung kalimatnya. Sehingga Panjul dan Ega semakin penasaran jadinya.

“Hanya saja kenapa?” tanya Panjul dan Ega serentak.

“Menurutku apa yang hendak kita lakukan ini terlalu berlebihan deh.”

“Berlebihan bagaimana maksudmu, Jilan?” desak Ega sedikit pias.

Sejenak Jilan menatap Panjul dan Ega secara bergantian baru kemudian menjawab.

“Coba deh kalian pikir, saat ini warga dusun Pijiombo termasuk orang tua kita pada susah karena beberapa ternak mereka hilang diserang oleh harimau. Masa dalam situasi yang berduka seperti ini kita malah sibuk berpikir soal layang-layang? Enggak banget deh. Sebagai anak sepertinya kurang pantas kalau kita bersikap tak peduli pada permasalahan yang sedang melanda dusun ini.”

Sesaat Panjul dan Ega saling pandang. Kehadiran Jilan di tengah-tengah mereka selalu saja menjadi penyeimbang dalam setiap kegiatan yang hendak mereka lakukan. Meski kadang mereka juga merasa heran ketika membahas masalah yang menyangkut kehidupan dan kepentingan masyarakat luas, Jilan selalu mampu berpikir lebih dewasa dari usia yang sebenarnya.

“Mungkin akan lebih baik jika kita gunakan waktu kita untuk ikut menjaga ternak warga dari sergapan harimau-harimau itu,” lanjut Jilan kemudian.

“Aduuh Jilan, cara mikirmu itu ribet banget sih. Soal harimau yang memangsa ternak warga itu, biarlah dipikirkan oleh para orang tua. Tugas kita itu hanya sekolah dan bermain saja,” bantah Panjul.

“Tapi orang tua kita memelihara ternak itu juga untuk mempersiapkan masa depan kita,” Jilan tentu saja tak mau kalah.

“Kalau begitu menurutmu kita harus diam membiarkan Adib terus menerus merendahkan kita, begitu?” tukas Ega.

Jilan langsung terdiam. Apa yang dikatakan Ega memang cukup beralasan. Semua anak Pijiombo tahu persis bagaimana sifat Adib. Dia akan betah berlama-lama mengejek seseorang yang telah dianggapnya kalah.

“Kalau begitu rencana kalian selanjutnya apa?” Jilan mulai melunak.

“Rencanaku begini, sepulang dari sini nanti, setelah kita sholat Duhur dan makan, kita bertemu lagi di pinggir lapangan. Kita sama-sama mencari layang-layang yang terbagus untuk mengalahkan Adib. Biar segera berakhir kesombongan anak gendut itu!” sahut Panjul.

“Untuk kau Jilan, kami tidak memaksamu. Kau mau ikut silakan dan jika tidak ikut juga tidak apa-apa,” sambung Ega.

Sesaat Jilan menunduk kelu. Menatap ujung sepatunya yang sedikit berdebu.

“Jadi bagaimana keputusanmu, Jilan?” desak Panjul selanjutnya.

“Iya deh, aku ikut kalian,” sahut Jilan dengan sedikit berat hati.

“Nah, begitu dong …,” sambut Panjul dan Ega dengan wajah sumringah.

“Ya sudah, ayo sekarang kita pulang, nanti setengah dua kita bertemu di tempat biasa ya,” kata Panjul yang disambut anggukan oleh kedua sahabatnya.

Perlahan mereka melangkah meninggalkan area sekolah.

                                                         ****

 

Sampai di rumah, Panjul langsung berganti pakaian, ambil air wudhu, sholat kemudian bergegas makan siang. Tentu saja ibunya merasa sedikit heran melihat tingkah anaknya yang rada lain dari biasanya. Sebab biasanya pulang sekolah Panjul selalu makan duluan sambil nonton tivi sebelum ganti pakaian dan mengerjakan hal yang lainnya. Karena itu sang ibu segera menghampiri anaknya ketika Panjul selesai makan.

“Kau nampak terburu-buru sekali, memangnya mau ke mana Panjul?” tanya ibunya.

“Panjul mau main ke rumah Ega, Buk?” sahut Panjul sambil meletakkan gelas kosong yang seluruh isinya baru saja ia teguk seusai makan.

“Siang-siang begini?” Sang ibu bertanya dengan tatapan tajam.

Sesaat Panjul menganggukkan kepala baru kemudian menjawab.

“Iya, Buk. Memang kenapa? Gak boleh?”

Sang ibu tersenyum serasa mengusap rambut Panjul yang ikal.

“Tentu saja boleh Panjul tapi ingat, kau jangan sampai melupakan tugasmu untuk membantu bapakmu mencari rumput.”

“Iya Bu, nanti sekalian saya merumput sama Ega.”

“O seperti itu, baguslah. Jangan lupa pakai topi ya.”

“Iya, Buk.”

Panjul beranjak ke belakang rumah. Ia mengambil keranjang kecil di samping kandang sapi, yang biasa ia pakai untuk menyabit rumput. Tak lupa sebilah sabit ia letakkan di dalamnya. Termasuk satu gulung benang untuk adu sambit layang-layang.

“Panjul berangkat dulu ya Buk,” ucap Panjul seraya menyalami tangan ibunya.

“Iya, hati-hati dan jangan terlalu sore pulangnya, ya,” pesan ibunya pula.

“Iya, Buk. Assalammualaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Dengan langkah riang Panjul melangkah meninggalkan halaman rumah. Sebuah topi berhiaskan gambar kepala harimau di bagian sampingnya bertengger manis di kepalanya. Panjul melangkah penuh semangat sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Beberapa warga yang sempat melihatnya pada tersenyum melihat Panjul yang selalu ceria dan ramah pada setiap orang.

Janji yang telah ia sepakati sepulang sekolah membuatnya makin mantap dalam setiap langkah. Angin pegunungan yang bertiup semilir seolah sengaja hadir sebagai musik pengiring di sepanjang perjalanan Panjul siang ini.

Sepanjang perjalanan Panjul terus berpikir, mencari cara agar nanti mendapatkan layang-layang yang terbaik. Di rumah ia sudah pula mempersiapkan sebuah benang gelasan yang dijaman tajam. Setajam silet. He he he …! Ia juga sudah ancang-ancang untuk belajar cara mengendalikan layang-layang yang benar pada Pak Surip yang pernah menjadi juara adu sambit layang-layang dua tahun berturut-turut.

Semangat Panjul memang tak pernah surut.

                                                   

 

 

 

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar