ANAK ANAK PIJIOMBO (Part 6)

MENGEJAR LAYANG-LAYANG

 

 

Kini layang-layang itu tampak ditarik kembali benangnya untuk mengurangi ketinggian yang sudah jauh melebihi layang-layang lain. Menyadari hal itu, Jilan dan Ega duduk kembali di atas rerumputan. Cuma Panjul yang masih saja berdiri seolah takut kalah berlari dengan para pengejar layang-layang lainnya.

Tanpa memperhatikan Jilan maupun Ega yang sedang menatap bebukitan yang berjejer menghijau, Panjul perlahan mengambil gulungan benang yang ia letakkan di atas keranjang rumput.

Sambil menatap beberapa layang-layang yang sedang memilih lawan untuk beradu sambit, Panjul bergumam dengan suara lirih.

“Semoga dengan layang-layang yang aku kejar nanti, akan bisa membalaskan kekalahanku pada Adib,” ucap Panjul mengelus gulungan benangnya.

“Amiiin,” sahut Jilan dan Ega serentak sambil mengusapkan kedua belah tangannya yang tadi sempat tengadah sesaat ketika mereka dengar permohonan Panjul.  

Panjul tersenyum sambil menoleh kepada Jilan dan Ega.

“Amin,” ujar Panjul turut mengamini keinginannya sendiri.

Karuan saja kedua temannya yang sekarang ganti tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sementara Panjul kembali memperhatikan layang-layang incarannya yang kini posisi ketinggiannya sudah kembali sejajar dengan calon-calon lawannya.

Senyum Panjul pun semakin lebar manakala ia saksikan layang-layang incarannya itu tampak menukik tajam berusaha menyambit lawan yang ada di sisi kanannya. Bukan hanya sekali atau dua kali, lawan yang diincar dengan lihai menghindari terjadinya gesekan benang. Kiranya sang calon lawan menyadari jika posisi benangnya berada di bawah maka ia akan kalah dalam mendapatkan tekanan angin. Hal itu akan sangat berpengaruh pada kekuatan gesekan benangnya terhadap benang lawan.

Senyum Panjul semakin lebar saja. Dengan mendapatkan lawan yang seimbang maka kesempatannya untuk segera mendapatkan layang-layang yang diincarnya jadi semakin besar. Diam-diam dalam hatinya ia berdoa semoga layang-layang yang diincarnya akan segera putus supaya ia bisa segera mengejar dan memilikinya.

Benar saja, sepertinya Tuhan sedang mendengarkan doa kecil dari Panjul. Saat ia memandang ke atas lagi, tahu-tahu dilihatnya layang-layang berwarna putih itu sudah berhasil menyambit benang dari layang-layang yang diincarnya. Merasa mendapat poisisi benang yang menguntungkan, pemilik layang-layang putih dengan cepat mengulur dan menarik benangnya dengan gerakan yang lincah.

Akibatnya layang-layang yang diincar Panjul jadi tidak stabil terbangnya. Bahkan beberapa kali nampak menukik ke bawah karena tak mendapat tekanan angin dengan sempurna.

“Horeee!”

Dalam hati Panjul bersorak gembira. Dengan isyarat tangannya ia segera mengajak kedua temannya untuk bersiap mengejar layang-layang yang putus. Setelah menyaksikan kehebatan layang-layang itu, sekarang Panjul tak peduli layang-layang mana yang akan putus duluan. Meski bukan layang-layang yang diincarnya ia akan tetap mengejar untuk mendapatkannya.

Sambil menggenggam erat sebatang kayu yang salah satu ujungnya berbentuk ketapel, Panjul, Jilan, dan Ega berlari-lari kecil mengikuti laju layang-layang yang semakin jauh. Tak peduli walau kini mereka harus mendaki bukit yang lumayan tinggi itu. Dan begitu dilihatnya layang-layang yang jadi incarannya telah putus dan melayang pelan, spontan Panjul berteriak.

“Kejaaarr!”

Serentak mereka mengangkat tinggi-tinggi galah yang sudah tergenggam erat seraya berlari mengikuti arah layang-layang itu jatuh. Dengan jelas mereka dapat menyaksikan panjangnya benang yang putus dan terseret layang-layang itu.

Saat mereka sampai di puncak bukit, benang itu tampak menjuntai ke bawah membentuk lengkungan panjang. Dengan sigap mereka berusaha meraih benang itu dengan ujung galah yang berbentuk ketapel.

Hap!

Galah Jilan sudah hampir berhasil menggapai benang itu. Tapi sayang benang itu tidak tepat menyangkut pada ujung galahnya yang berbentuk ketapel, sehingga benang terus melaju dengan deras. Kini ganti Ega yang melonjak-lonjak hendak menggapai benang itu. Tapi lantaran tubuh Ega yang sedikit pendek, galah yang dipegangnya tak sedikit pun berhasil menyentuh benang itu. Sehingga galah Ega hanya mengenai udara kosong.

Panjul tak mau kalah. Dengan sigap ia menggantol benang itu dengan ujung galahnya yang berbentuk ketapel. Dan begitu benang itu sudah tersangkut di sana, dengan cepat ia memutar-mutar galahnya beberapa kali sehingga laju layang-layang itu sempat terhenti.

Panjul tersenyum dan bersorak dalam hati. Sudah terbayang di benaknya bahwa layang-layang itu akan segera diterbangkan dengan benangnya guna mengalahkan layang-layang Adib yang ia targetkan sebagai musuh utama. Karena itu dengan gerakan perlahan ia menurunkan galahnya agar dapat meraih benang dan menarik layang-layangnya.

Tapi sial, saat benang itu sudah hampir berhasil ia raih, ujung yang nyangkut di ujung ketapel malah putus. Sehingga lengkungan benang panjang itu kembali terbawa angin. Sambil mendengus kecewa Panjul kembali memacu langkah sambil tetap mengacung-acungkan galahnya.

Acara mengejar layang-layang itu terus berlanjut meski mereka sudah mandi keringat. Mereka tetap bersemangat dan berusaha sampai dapat. Terlebih saat mereka saksikan laju layang-layang itu tampak semakin menurun. Itu artinya layang-layang itu sudah hampir jatuh.

“Ayo Ega! Jilan! Layang-layangnya sudah mau jatuh tuh!” teriak Panjul.

Tanpa menyahut Jilan dan Ega mempercepat langkah, menyusul Panjul yang sudah duluan. Saat mereka tiba di kaki bukit sebelah utara, mereka saksikan layang-layang itu semakin rendah saja. Hal itu membuat mereka semakin terpacu langkahnya.

Mengejar layang-layang memang harus sampai dapat.

                                                          ***

 

Mereka terus berlari menyusuri lereng bukit. Melewati semak belukar yang banyak membentang di antara pepohonan besar. Bahkan kadang harus menerobos hamparan rumput gajah setinggi lutut yang sengaja dibudidayakan warga untuk pakan ternak.

Layang-layang yang semula melayang turun, kini kembali menanjak tersapu angin. Mereka terus berlari sambil mengawasi arah layang-layang itu meluncur. Meski rimbun daun-daun cengkeh kadang menghalangi pandangan, tapi mereka tidak juga mau berhenti. Mereka ingin meraih buah kesabaran yang sedari tadi sudah dinanti.

“Ayo Jilan, cepaat! Jangan sampai kau ketinggalan oleh kami!” teriak Ega.

“Iya, iya!” Jilan menyahut sambil berusaha mengejar kedua temannya yang sudah agak jauh meninggalkannya.

Napas Jilan nampak tersengal. Cuaca yang panas membuat gadis kecil itu cepat merasa lelah. Maklumlah, tenaga perempuan tidak bisa sekuat anak laki-laki. Langkahnya kalah cepat dan lebar.

“Kalian duluan saja! Terus kejar layang-layang itu, nanti aku menyusul!” teriak Jilan sambil ngos-ngosan.

Tanpa menyahut Panjul dan Ega terus memacu langkah. Panjul tak ingin gagal mendapatkan layang-layang impiannya itu. Dengan gesit ia terus mengejar sambil meliuk-liukkan tubuh menghindar batang-batang pohon cengkeh yang berdiri kokoh. Ia bertekad bahwa layang-layang yang putus itu harus didapatkannya.

Ega menyusul dari jarak sekitar 10 meter. Sepertinya galah bambu berukuran panjang yang ia bawa, agak merepotkan langkahnya. Padahal dalam kondisi normal kecepatan berlarinya jauh lebih unggul dari Panjul.

Namun, Ega tak mempersoalkan hal itu. Ia terus berlari searah dengan Panjul. Ia harus membantu Panjul untuk mengejar layang-layang itu sampai dapat. Meski untuk itu ia harus melupakan rasa penat.

 

 

Bersambung …

 

 

 

 

 

 

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar