Busunat

Setelah terbang 30 jam, kini aku harus berada di dalam mobil selama 7 jam. Ini adalah perjalanan terpanjang dalam hidupku. Ah, aku harus kuat! Aku berusaha menghilangkan penyesalan yang mulai merayap di hatiku. Kalau saja aku mengikuti ajakan Papa, pasti aku tidak akan menderita begini.

Wajahku terasa terbakar. Keringat mengalir deras. Bajuku basah seperti habis kehujanan. Aku merasa letih seperti habis lari marathon. Panas ini benar-benar membuatku kehilangan energi. Apalagi aku tidak bisa tidur selama perjalanan. Tapi aku berusaha untuk tetap tersenyum. Mama bilang, aku harus selalu tersenyum. Aku tidak boleh mengeluh, apalagi di depan orangtua. Aku harus bersikap sopan.

Selamat datang di Sang Bumi Ruwai Jurai. Di provinsi ini mamaku dilahirkan. Sang Bumi Ruwai Jurai artinya satu wilayah yang beragam. Itu adalah penjelasan Mama padaku sebelum aku berlibur ke Indonesia.

“Sebentar lagi kita sampai,” ucap supir yang berada di sampingku. Dia kasihan padaku yang sibuk menyeka keringat dari wajahku. Padahal AC di mobil ini sudah maksimal. Suhu di luar mengalahkan udara dingin yang terus berembus dari AC yang mengarah padaku. Sinar matahari menembus kaca di depanku dan jatuh tepat di wajahku.

“Kamu tidak perlu berjemur di sini. Kulit kamu bisa gelap tanpa harus berjemur,” ucap Adin menepuk bahuku dari kursi belakang. Adin adalah sepupuku.

“Aku tidak suka berjemur. Aku bukan kerupuk.” Aku ingat mama yang sering menjemur kerupuk di rumah.

Wah banyak sekali mobil-mobil yang parkir. Aku menatap mobil-mobil yang parkir di depan rumah berpagar tinggi yang dihiasi bunga-bunga segar. Hari ini adalah busunat alias sunatan untuk Ajo, adiknya Adin yang berusia 10 tahun. Mama sengaja mengirimku melintasi benua agar aku tahu tentang tradisi Lampung. Padahal Papa mengajakku untuk bermain ski di musim dingin ini. Aku yang tertantang dan penasaran akhirnya mengikuti keinginan mama.

Pergi sendiri tanpa orangtuaku menjadi tantangan bagiku. Petugas bandara dan pramugari menjaga dan mengawasiku selama perjalanan, karena aku masih berusia 12 tahun. Mengetahui ada pesta sehabis disunat membuatku penasaran. Karena aku disunat saat bayi baru lahir, hal itu biasa dilakukan di Amerika.

“Ayo, kamu mandi biar segar, lalu ganti pakaian untuk ngarak alias arak-arakan.”

Aku bergegas mengikuti Adin. Di dalam rumah sudah menunggu Ibu Wo, panggilan untuk kakak mama, yang artinya ibu tua.

“Salim semua sekelik ya,” perintah Ibu Wo padaku. Sekelik itu artinya saudara dalam bahasa Lampung.

Ah, akhirnya aku merasa segar setelah mandi. Apalagi di dalam kamar AC berembus dengan kencang. Memakai celana pendek dan kaos oblong membuatku nyaman. Mataku mulai terasa berat untuk dibuka, apalagi tempat tidur melambai memangilku. Aku ingin tidur.

“Ilham, ayo berhias.” Tiba-tiba Adin sudah menarik tanganku sebelum aku sampai di tempat tidur. Dia membawaku ke kamar sebelah.

Ha, berhias? Panas seperti ini berhias? Aku menolak tawaran tersebut.

“Aku pakai ini saja,” ucapku meyakinkan Adin.

“Tidak bisa! Celana pendek dan kaos oblong kamu itu tidak pantas dikenakan sebagai tamu khusus.”

“Tetapi aku biasa begini saat pesta musim panas,” aku berusaha melepas tarikan tangan Adin.

“Iya, di Indonesia itu tidak sopan,” cetus Adin padaku.

Tarik menarik tangan pun terjadi. Aku yang lemas dan mengantuk, kalah kuat dengan Adin. Padahal badanku sama besarnya dengan Adin yang berusia 15 tahun.

Di dalam kamar Ajo sedang berhias layaknya pengantin pria. Menurut perias Ajo, yang disunat disebut pengantin lunik alias kecil. Ajo memakai kopiah dengan bentuk bulat ke atas dan beruji tajam pada ujungnya. Kopiah ini berbahan kuningan. Ajo memakai baju lengan panjang berwarna putih yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Di luar, dibalut dengan sarung tumpal yaitu kain sarung khas Lampung yang ditenun menggunakan benang emas. Kain ini biasa disebut kain tapis. Sarung ini dipakai menutup celana dari pinggang hingga lutut. Ajo akan diarak, dan ini merupakan salah satu rangkaian dalam acara adat sunatan.

“Kamu pakai ini ya,” ucap perias memberikan kain tapis, celana, dan jas padaku.

Aku melotot menatap pakaian tersebut. Apa tidak salah kasih? Aku diam mematung.

“Ilham, jangan bengong. Ayo pakai acara sudah akan dimulai.”

Jika tidak ingat pesan mama, sudah pasti aku akan kabur dari kamar ini.

Keringat kembali mengalir deras di tubuhku. Aku berjalan di samping Ajo yang diarak mengelilingi tamu-tamu yang sibuk dengan kameranya. Aku tidak tahu mengapa mereka sibuk mengambil gambarku. Mungkin karena aku seperti cacing yang kepanasan, sibuk menyeka keringat dengan tanganku. Lucu menurut mereka. Apalagi wajahku merah seperti kepiting rebus. Serasi dengan rambut pirangku.

Saat arak-arakan, ibu-ibu bernyanyi diiringi tabuh rebana. Lagu-lagu yang dinyanyikan berisi doa dan ungkapan kegembiraan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Lampung. Aku tidak tahu arti yang mereka ucapkan.

Aku berusaha terus mengikuti acara ini, dengan cara mengingat tujuanku ke negeri ini. Apalagi acara ini tidak pernah aku lihat di kotaku Nashville. Festival internasional memang selalu diadakan di kotaku, tetapi hanya tarian, lagu, dan makanan Indonesia saja yang disajikan.

Mataku semakin berat untuk dibuka. Aku lawan dengan cara mengedip-ngedipkan mata, tetapi mengapa orang-orang tertawa melihatku? Mereka berbisik-bisik lalu mengedipkan mata padaku. Apakah mereka mengantuk sepertiku?

Aku ingin bisa bercerita pada Mama, Papa, dan teman-temanku setelah liburan ini usai. Aku ingin katakan bahwa yang serasa disunat itu aku. Buktinya yang sibuk difoto itu aku, bukan Ajo. Tetapi yang dapat hadiah Ajo.

“Ilham, ayo mingir pelan-pelan,” bisik Adin di telingaku.

Rupanya Adin kasihan padaku yang terus berdiri sibuk melayani permintaan foto. Padahal yang lain sudah mulai makan siang. Aku juga lapar.

Aku mengikuti Adin masuk kamar. Adin membawa 2 gelas es mangga kuweni untuk kami. Ini minuman khas Lampung.

Di luar kamar aku masih mendengar suara musik, suara orang berbicara beradu dengan suara piring dan sendok. Aku penasaran apa yang terjadi di luar sana. Tetapi di dalam kamar sejuk dan nyaman.

Adin membuka tirai jendela dan mengajakku menonton kesibukan dari balik kaca. Kaca jendela satu arah membuat tamu-tamu di luar tidak dapat melihat kami yang sedang menonton mereka.

Aku dan Adin tertawa melihat para tamu menari lucu di atas panggung. Kami menonton persembahan hiburan dengan nyaman. Apalagi Ibu Wo datang membawakan berbagai makanan untuk kami.

Sekarang aku benar-benar merasa menjadi tamu khusus. Menikmati hiburan sambil makan tanpa kepanasan. Liburan musim dingin di negeri tropis ini benar-benar berkesan. Aku punya bahan cerita yang lucu dan unik.

Cerpen Ini Diikutsertakan dalam Lomba Cipta Cerpen Anak PaberLand 2024

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar