CAPUNG, SI PREDATOR SEJATI 

Tahukah kamu, binatang apa yang menyandang predikat sebagai pemangsa paling hebat di kerajaan hewan? Singa? Hiu? Bukan, melainkan capung! Meskipun singa Afrika merupakan karnivora puncak pada rantai makanan, tetapi dia hanya mampu menangkap 25 persen dari total mangsa yang mereka kejar, lo. Hiu putih besar hanya bisa menangkap 50 persen mangsa. Sementara itu, meskipun terlihat kecil, mungil, cantik, dan tidak berbahaya, ternyata capung mampu menangkap 95 persen mangsanya! Bahkan, capung sering memakan mangsanya itu sambil tetap terbang, tanpa perlu hinggap ke daun atau ranting pohon. Hebat, ya?

Capung memiliki dua pasang sayap panjang yang melekat pada dada dengan otot yang terpisah sehingga masing-masing sayap bisa bergerak dengan arah berlainan. Struktur ini membuatnya dapat terbang ke segala arah, termasuk menyamping dan mundur, bahkan terbang diam di satu titik selama lebih dari beberapa menit. Capung mampu mengepakkan sayap sekitar 30 kali/detik dengan kecepatan terbang 100 km/jam, lo.

Sayap capung memiliki tekstur bergelombang yang bisa membantu mendeteksi angin untuk membantunya terbang. Selain itu, capung memiliki daya tahan terbang yang luar biasa. Capung Pantala flavescens bahkan mampu terbang melintasi lautan selama migrasi, menempuh jarak hingga 11.000 mil dan memecahkan rekor sebagai migrasi serangga terjauh di dunia. Keren, kan? Dengan kecepatan, jarak, daya tahan, dan fleksibilatasnya, capung menjadi salah satu penerbang paling luar biasa di bumi.

Kalau kamu pernah memperhatikan capung, kamu pasti tahu bahwa mata capung mendominasi hampir seluruh kepala mereka. Capung memiliki mata majemuk yang berisi 30.000 segi, masing-masing memberikan informasi tentang lingkungan di sekelilingnya. Sudut pandangnya nyaris mencapai 360 derajat, sehingga memungkinkan untuk melihat serangga kecil sekaligus memprediksi kemana serangga itu akan terbang dan menyergapnya. Sudut pandang ini juga memungkinkan capung menghindari tabrakan dengan serangga lain.

Bukan hanya itu, capung juga dapat melihat dunia dalam warna-warna yang tak bisa kita bayangkan, lo. Kita melihat warna kombinasi merah, biru, dan hijau berkat adanya tiga jenis protein sensitif cahaya berbeda pada mata yang disebut opsin. Capung memiliki 11 hingga 30 opsin yang berbeda. Jadi, mata capung bisa melihat warna lebih banyak daripada mata manusia.

Capung meletakkan telur-telurnya di air. Dia senang berada di wilayah air yang sehat dan tidak keruh. Setelah telur menetas, larva capung, atau biasa disebut nimfa, keluar dari cangkang telur untuk kemudian masuk ke dalam dasar perairan yang dangkal. Nimfa ini hidup di dalam air hingga lebih dari dua tahun. Bahkan di daerah-daerah tertentu, beberapa jenis capung tetap berada dalam bentuk nimfa hingga enam tahun. Nimfa capung tergolong karnivora yang sangat ganas. Ia memakan semua tumbuhan dan hewan kecil perairan seperti ganggang, larva katak, anak ikan, dan bahkan memangsa temannya sendiri, lo. Benar-benar predator sejati, ya! Nimfa berganti kulit sampai 17 kali sampai akhirnya dia siap keluar dari air dan terbang di udara sebagai capung seperti yang biasa kita lihat itu.

Kehidupan capung sangat bergantung pada kualitas air. Dalam siklus hidupnya, dia akan mengalami metamorfosis tidak sempurna dari telur menjadi nimfa, kemudian baru menjadi capung dewasa. Itulah mengapa, jika kondisi lingkungan air tercemar, capung tidak dapat tumbuh atau berkembang biak. Jadi, keberadaan capung bisa menandakan daerah-daerah yang masih baik dan mana saja yang sudah tercemar.

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar