Nasha Si Chef Bunny Bagian #11

Bagian #11

TERUS BERJUANG, NASHA!

 

Di babak eliminasi, kami berlima, anggota tim biru menanti dengan berdebar tantangan yang akan diberikan juri.

“Bagaimana kabar kalian, Anak-anak? Masuk babak eliminasi bukan hal buruk. Kalian masih bisa bertahan jika mau berjuang lebih keras lagi. Caranya pasti kalian sudah tahu, kan?” Chef Budi bertanya dengan wajah penuh senyum. Aku diminta untuk menjawab.

“Memasak dengan performa terbaik agar menghasilkan masakan terbaik.”

Chef berwajah kebapakan itu mengangguk. Ia melanjutkan bicara. “Kegagalan memberi hidangan terbaik akan membuat impian kalian menjadi juara akan berhenti di sini. Baiklah, ada yang tahu, apa tantangan kali ini? Mari kita lihat, ya.”

Seorang panitia masuk dengan mendorong troli yang berisi wadah dengan tudung saji tertutup. Gumam penasaran keluar dari mulut kami. Bahan makanan apa yang ada di dalam tudung saji itu? Aku menelan ludah, tenggorokanku tiba-tiba saja terasa begitu kering. Chef Budi perlahan mulai membuka tudung saji.

Satu … dua … tiga …. Chef Budi mengangkat tudung saji tinggi-tinggi. Terlihatlah bahan makanan yang harus kami olah, IKAN SEGAR.

“Tantangan kali ini, kalian harus membuat kreasi baru dari olahan ikan segar.”

Kreasi baru dari ikan. Apa, ya? Otakku berpikir keras. Belum sempat mendapat jawaban, terdengar bunyi aba-aba tanda waktu masak dimulai. Waktu yang diberikan hanya satu jam. Dengan cepat, kami lari ke pantri untuk mengambil bahan makanan yang akan diolah. Aku lari sambil terus berpikir akan memasak apa, aku harus cepat menentukan pilihan. Ikan, ikan, ikan.

Memoriku berputar pada saat Nenek masih hidup.  Nenek suka memasak ikan mas bumbu acar kuning, aku suka membantu Nenek memasak menu ini. Itu dia! Aku tersenyum dan mendapat ide. Aku akan memodifikasi resep ikan Nenek, dengan mengganti acar dengan bumbu cabai kemangi.

Saat penilaian, aku mendapat giliran pertama yang dinilai.

“Saya perhatikan kamu itu jagonya masak menu rumahan. Untuk tingkat kematangan ikan sudah oke, rasanya enak. Well done!” Pujian dari Chef Arjuna membuatku senang. Selanjutnya, Chef Melinda. Ia mengambil potongan ikan dengan sendok. Usai makan beberapa suap, ia langsung mengambil air putih dan meminumnya. Apakah Chef Melinda tidak suka masakanku?

Chef Melinda meletakkan gelas. “Kali ini, saya tidak sepakat dengan Chef Arjuna. Saya kurang suka olahan ikan ini.”

Aku hanya bisa menunduk. “Baik, Chef.

“Saya memang kurang suka masakan pedas. Kamu pakai berapa cabai di sini? Pedas banget.” Aku mendongak, menatap satu-satunya juri perempuan di depanku. Chef Melinda kini tersenyum. “Tapi rasa masakannya enak. Bumbu meresap ke dalam daging ikan. Good job, Nasha!”

Aku mengembuskan napas lega, dua juri sudah memberikan komentar positif, tinggal Chef Budi. Ia mengambil potongan ikan dan mengunyahnya pelan.

“Seperti biasa, kamu selalu berhasil memasak menu rumahan dengan rasa istimewa. Saya sangat senang.” Seulas senyum mengembang di wajah Chef Budi. Alhamdulillah, lega.

 Saat pengumuman, aku tidak termasuk dua terbawah. Namun, hatiku langsung mencelos, ketika nama Ali disebutkan Chef Arjuna. Air mataku langsung jatuh begitu saja. Ketika teman-teman sibuk mengerubungi Ali dan seorang kontestan lainnya, aku hanya diam terpaku. Ternyata aku tidak siap melihat Ali pulang.

Dibandingkan Katrina, aku menangis tersedu saat Ali pamit. Tadi saat memasak, Ali mengaku kurang fokus. Perasaan bersalah karena gagal menjadi kapten tim membuatnya kehilangan konsentrasi. Hatiku sedih sekali mendengar perkataan Ali. Namun, Ali malah menepuk bahuku. “Aku nggak apa-apa, Sha.”  Lalu Ali tersenyum. “Kalian harus janji. Salah satu dari kalian harus jadi juara, oke?”

Kata-kata Ali itu malah membuatku makin terisak, Katrina sampai memelukku.

“Ayo, Nasha, semangat!”

Ali membuat ekspresi lucu di wajahnya, sengaja untuk membuatku tersenyum. Padahal aku tahu Ali pasti lebih sedih. Jadi, aku mengangguk lemah, dan menghapus air mata yang terus menetes membasahi pipi. Ali yang baik. Ia menaruh genggaman tangan di dadanya, Katrina mengikuti. Begitu pula aku. Kami meletakkan genggaman tangan di dada.

“Janji kalian akan terus berjuang menjadi juara?” Ali bersuara lantang.

“Janji.” Aku dan Katrina menjawab tidak kalah lantang.

Ali mengangguk dan tersenyum lebar. Kepalan tangan kami beradu. Selamat jalan, Ali. Aku bakal kangen sama kelucuan dan tingkah tengil kamu. Di babak eliminasi sepuluh besar, satu teman baikku harus keluar dari galeri Junior Chef.

**

Hari-hari terasa kurang tanpa kehadiran Ali. Aku kehilangan celetuk kocak dan tingkah jailnya. Aku jadi lebih pendiam, walaupun ada Katrina yang selalu memberi semangat. Namun, aku mengikuti semua aktivitas di karantina, tetap berlatih masak dan bersiap untuk menghadapi babak selanjutnya.

Babak delapan besar Junior Chef pun tiba, kami menghadapi tantangan membuat tumpeng mini. Di tantangan ini, aku menjadi pemenang dan mendapat pin winner.

“Aku tahu kamu bakal juara di tantangan ini, Sha!” Aku dan Katrina sedang berjalan menuju hotel tempat kami dikarantina. “Aku mesti banyak belajar masakan Indonesia dari kamu. Nanti aku boleh main ke rumahmu?”

Aku tersenyum. “Boleh banget. Nanti kita ajak Ali juga, ya.” Katrina mengangguk.

Kami terus berjalan sambil tertawa, membuat Titania yang berjalan di depan kami menoleh. Dengan wajah jutek, ia memandang tak suka.

“Kalian ini berisiiik banget. Bisa nggak, sih jalan tanpa ngobrol? Ganggu, tahu?” ucapnya ketus. Titania mempercepat langkahnya. Aku dan Katrina hanya mengangkat bahu dan menahan tawa. Baik di karantina maupun di galeri, Titania tidak punya teman dekat. Mungkin karena pembawaannya yang jutek, mengesalkan siapa pun.

**

Di babak enam besar, tantangan yang kami hadapi adalah mistery box. Di depan meja kami masing-masing terdapat kotak-kotak hitam. Sama sekali tidak bisa ditebak apa yang ada di dalamnya.

“Baik, anak-anak. Dalam hitungan tiga, kalian boleh membuka box di hadapan kalian!” Chef Arjuna mulai berseru. Ia kemudian mulai berhitung. “Satu … Dua … Tiga. Open!”

Dengan cepat, kami membuka box hitam itu. Hadir di hadapan kami masakan kesukaan ibu kami masing-masing. Di depanku tersaji soto ayam kesukaan Mama. Di meja Katrina tersaji oriental beef steak. Di meja Tom kulihat ada chicken kabsah.

“Oke, kalian sudah melihat apa yang ada di dalam box hitam. Tugas kalian saat ini adalah membuat masakan favorit Mama kalian. Mudah bukan?”

Sayangnya tidak semudah yang dianggap para juri, tantangan ini malah membuat empat kontestan masuk babak eliminasi. Untuk pertama kalinya Katrina masuk babak eliminasi. Ia bersama Titania dan dua kontestan lainnya harus berhasil menduplikasi masakan Chef Arjuna, Seafood Chowder.

Setelah kehilangan Ali, aku tidak ingin kehilangan Katrina. Kalau Titania pulang sih aku malah bersyukur. Rasanya campur aduk melihat Katrina sibuk memasak di cooking station. Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Andai boleh, aku ingin membantu Katrina.

Alhamdulillah, Katrina berhasil lolos. Begitu pula Titania. Dua kontestan lain mesti pulang meninggalkan galeri. Hingga Otomatis, tersisalah empat kontestan, yakni aku, Tom, Katrina dan Titania. Kami masuk empat besar Junior Chef.

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar