Penyesalan Pak Ruru

Pak Ruru dan Pak Runo adalah rusa yang sudah lama hidup bertetangga. Mereka tinggal di Desa Randusa. Namun keduanya memiliki kebiasaan hidup yang berbeda.

Tok tok tok. Pak Runo mengetuk pintu rumah Pak Ruru. Ooohhm.. Pak Ruru menguap. Ia masih ada di ranjangnya. Padahal matahari sudah mulai naik.

“Ayo, kita berangkat bekerja!” ajak Pak Runo. Namun tak ada suara yang menjawab.

Tok tok tok. Pak Runo kembali mengetuk pintu. Akhirnya Pak Ruru menjawab, “Kamu duluan saja! Nanti aku menyusul.” 

Pak Ruru kembali menarik selimutnya. Pak Runo meninggalkan rumah Pak Ruru dan berangkat bekerja sendirian. Kejadian seperti pagi ini hampir setiap hari. Namun Pak Runo tak putus asa untuk selalu mengajak Pak Ruru.

Kini matahari sudah hampir terbenam. Pak Runo sudah pulang bekerja.

“Hai, Pak Runo. Hari ini Kau bawa apa? Sepertinya harum sekali,” tanya Pak Ruru. Dia duduk malas di teras rumah. Matanya memandang ke arah buntalan yang dibawa Pak Runo.

“Makanan Pak Ruru,” jawab Pak Runo singkat. 

“Coba ku tebak, baunya gurih. Ada pedasnya dan sedikit manis.”

Tanpa banyak bicara Pak Runo membuka buntalannya dan memberikan satu bungkus pada Pak Ruru. Tak hanya Pak Runo yang dimintai makanan. Namun hampir kepada siapa saja yang lewat di depan rumahnya.

Pak Runo duduk di samping Pak Ruru dan berkata, “Besok kita berangkat kerja bareng ya!”

“Gampang,” jawab Pak Ruru singkat. Dia melanjutkan makan dengan lahap.

Tak ada obrolan lain dari keduanya. Seusai makan Pak Runo berpamitan dan pulang ke rumahnya. Pak Ruru masih tetap duduk di terasnya. Tak ada aktivitas yang dilakukannya.

“Sebaiknya aku di rumah saja. Nanti juga ada Pak Runo yang membawakan makanan,” ucap Pak Ruru.

Keesokan harinya Pak Runo menghampiri Pak Ruru. Pak Runo memanggil-manggil Pak Ruru. Namun tak ada suara. Pak Runo tidak putus asa. Dia tetap menanti Pak Ruru. Lima belas menit kemudian muncullah suara dari dalam rumah.

“Berangkatlah dulu! Nanti aku menyusul,” jawab Pak Ruru.

Pak Runo berangkat bekerja sendiri. Sampai di tempat kerja Pak Runo bekerja penuh semangat. Dua jam lebih Pak Runo sudah bekerja. Namun tak tampak ada Pak Ruru datang.

Sepulang kerja Pak Runo mampir ke rumah Pak Ruru.

“Mengapa tadi tidak menyusul?” tanya Pak Runo.

Pak Ruru menjawab dengan memegangi perutnya, “Perutku sakit.”

“Oh, sakit ya,” Pak Runo tak percaya begitu saja. Karena Pak Ruru sudah terlalu sering berbohong.

“Aku minta makannya!”

“Maaf, hari ini aku hanya membawa satu bungkus saja. Aku pamit dulu ya, semoga kamu lekas sehat.” 

Pak Runo berlalu, Pak Ruru kebingungan. Dia menoleh kanan kiri. Dia menggerakkan telinganya. Berharap ada yang lewat dan membawa makanan. Namun ternyata tak ada yang lewat.

“Aduh!” keluh Pak Ruru. Tangannya memegangi perut dan wajahnya berkerut menahan sakit. Karena seharian dia belum makan. Dia masuk ke dapur. Namun tidak ada bahan makanan. Dia membuka dompetnya ternyata kosong. Pak Ruru mondar mandir di teras menunggu yang tak pasti.

Pak Ruru keluar mengetuk pintu tetangga. Namun ia tak mendapatkan makanan. Malam semakin larut Pak Ruru belum juga mendapat makan. Tak mungkin baginya keluar rumah di malam hari. Dia pun tertidur dengan perut kosong.

Pagi-pagi buta Pak Ruru terbangun. Karena sangat lapar, Pak Ruru mencoba lagi mencari makanan di dapur rumahnya, tetapi tidak ada. Kemudian dia duduk di teras. Bermaksud menunggu Pak Runo. Satu jam sudah berlalu Pak Runo tak kunjung datang. 

“Tumben Pak Runo tidak mampir,” pikir Pak Ruru sambil menggaruk kepalanya.

Satu jam berlalu Pak Ruru menunggu Pak Runo. Akhirnya dia keluar dari rumahnya. Berjalan dengan malas, karena energi dalam tubuhnya hanya sedikit.

“Mengapa desa hari ini sepi sekali?” Pak Ruru berjalan melewati jalanan desa yang sepi. Setelah melewati desa dan ladang. Pak Ruru sampailah di tempat kerjanya.

“Ha!” Pak Ruru terkejut. Karena tulisan libur tergantung di pintu.

“Sial benar hari ini,” keluh Pak Ruru. 

Dia mengetuk pintu berharap ada yang di dalam. Namun, nihil adanya. Akhirnya Pak Ruru berjalan pulang ke rumahnya. Kepala tertunduk lesu. Kaki seakan tak bertenaga.

Krucuk… krucuk… Perut Pak Ruru meronta. Pak Ruru menahan lapar. Dia terkapar di teras rumahnya. Matahari sudah condong ke arah barat. Pak Runo mampir ke rumah Pak Ruru.

“Pak Ruru, bangun! Pak Ruru, bangun! Ada apa denganmu?” Pak Runo menggoyang-goyang badan Pak Ruru. Pak Ruru pelan-pelan membuka matanya. Dia duduk bersandar di dinding teras.

“Aduh!” Pak Ruru memegangi perutnya.

“Makanlah ini! Mungkin kamu masuk angin,” Pak Runo menyodorkan kotak makanan.

“Dari mana saja kamu? Hari ini di balai desa ada acara makan-makan. Perayaan Desa Randusa. Mengapa kamu tidak hadir?”

Pak Ruru tak menjawab pertanyaan Pak Runo. Dia  segera makan dengan lahap. 

“Maafkan aku Pak Runo. Mulai besok aku akan rajin bekerja sepertimu.”

Bagikan artikel ini:

2 pemikiran pada “Penyesalan Pak Ruru”

Tinggalkan komentar