PINDAH KE KOTA HANTU

Malam yang sangat berisik. Flaugo menutup telinga. Suara kucing bertengkar dan tangisan bayi terdengar sangat keras. Belum lagi bunyi deru kendaraan di jalan raya. Flaugo merasa terganggu.

“Aduh! Menyebalkan sekali!” keluhnya.

Flaugo semakin geram. Apalagi saat para penghuni rumah bersliweran menembus tubuhnya. Hantu itu merasa kepanasan jika berdekatan dengan mereka.

Flaugo melayang keluar lewat pintu depan. Ia duduk menyendiri di ayunan. Ada dua hantu lain sedang berjalan-jalan. Kedua hantu itu sedang mengobrol.

“Tabunganku dong, sudah berisi sejuta teriakan!” pamer Hantu Putri Bangsawan,

“Hebat sekali! Kemarin aku melihat tabunganku. Aku baru dapat 970 ribu teriakan. Masih kurang banyak. Padahal aku sudah ingin sekali pindah ke Kota Hantu. Tempatnya cocok banget buat kita, bangsa hantu,” keluh Hantu Ksatria.

Kota Hantu? Kedengarannya menarik. Flaugo mengejar kedua hantu itu untuk meminta penjelasan.

Kata Hantu Putri Bangsawan, syarat menempati Kota Hantu adalah membayar sebanyak sejuta teriakan anak-anak. Kata Hantu Ksatria, Kota Hantu enak sekali. Sepi, dingin, dan tidak ada manusia menjengkelkan.

Setelah mendapatkan penjelasan lengkap, Flaugo masuk ke dalam rumah. Di loteng, ia mencari-cari buku tabungan miliknya. Ketemu.

“Wow! Rupanya aku sudah memiliki tabungan dua juta lima ratus teriakan! Aku bisa pindah ke Kota Hantu!” Flaugo bicara sendiri.

Tepat tengah malam Flaugo berangkat. Di Kota Hantu, Flaugo disambut hantu polisi yang menjaga pintu gerbang kota. Setelah buku tabungannya diperiksa, Flaugo diizinkan tinggal di sana.

“Yippi!” Flaugo gembira.

Flaugo takjub dengan keadaan Kota Hantu. Betul kata Hantu Ksatria. Di sana dingin, sepi, tak ada manusia. Rumah-rumahnya sungguh megah dan bagus! Maksud Flaugo, bagi para hantu tampak seperti itu. Namun, bila dilihat manusia, rumah-rumah di sana cuma reruntuhan bangunan saja.

Flaugo mendapat rumah bernomor 13. Tanpa membuang waktu Flaugo langsung masuk ke dalam rumah bercat putih. Ia terpukau melihat tempat tidurnya yang dilengkapi bantal batu nisan. Ugh, rasanya dingin. Rumah yang nyaman bagi para hantu. Merasa kelelahan, Flaugo bersiap tidur.

Aneh! Flaugo justru tidak bisa tidur. Tempat itu terlalu lengang. Bahkan suara jangkrik pun tidak ada. Flaugo mencoba lagi. Dia memejamkan mata. Tetap saja tidak bisa tidur.

“Biasanya aku mendengar suara kucing. Tangisan bayi. Lagu nina bobo,” keluhnya.

Flaugo semakin gelisah. Dia tidak betah. Dia seperti satu-satunya makhluk hidup yang tinggal di bumi.

Akhirnya Flaugo terbang. Dia kembali ke tempat tinggal sebelumnya. Sebuah rumah kecil yang ditempati satu keluarga terdiri dari seorang ayah, ibu, anak berusia enam tahun, dan bayi berumur satu tahun. Oh iya, juga sepasang kucing yang saling menyayangi sekaligus suka bertengkar.

Begitu Flaugo tiba di rumah, dua kucing itu mengeong heboh. Flaugo tersenyum kepada mereka.

“Halo. Aku pulang,” bisiknya.

Flaugo melayang ke atas lemari pakaian. Suara dan bunyi yang berisik masih terdengar. Namun, Flaugo merasa lebih tenteram. Flaugo menguap. Matanya semakin berat. Sebelum benar-benar terlelap, hatinya berbisik.

Aku mencintai tempat ini.

* “Pindah ke Kota Hantu” adalah salah satu cerita yang ada di dalam buku “Dongeng Misterius Dari Lima Benua 1” karya Widya Ross, diilustrasi oleh Mira Widhayati dan Amna Oriana, dieditori oleh Pradikha Bestari. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kiddo, imprint dari Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), pada tahun 2014.

* Buku “Dongeng Misterius dari Lima Benua 1” bisa diunduh dan dibaca di aplikasi Gramedia Digital.

* Dilarang memplagiat cerita di atas atau menggunakannya untuk keperluan komersial.

Bagikan artikel ini:

4 pemikiran pada “PINDAH KE KOTA HANTU”

Tinggalkan komentar