#TALISCERPEN – SEMANGAT HARI PAHLAWAN

#TALIS CERPEN

SEMANGAT HARI PAHLAWAN

Dor … dor … dor … begitu suara-suara yang keluar dari mulut teman-teman termasuk diriku. Kami sedang bermain perang-perangan.

Aku membagi teman-teman yang berjumlah 11 orang menjadi 3 kelompok. 4 orang termasuk diriku masuk dalam kelompok pejuang dan 4 orang lagi kelompok musuh. 3 orang sisanya sebagai pengibar bendera. 

Kelompok pejuang dan pengibar bendera, membebat kepala memakai dasi pramuka. Wah hati rasanya berbunga-bunga, mirip pejuang kemerdekaan yang ditulis dalam buku sejarah.

Aku dan teman-teman tinggal di kampung kecil di pinggir kota Surabaya di tepian sungai Brantas. Seorang diantaranya adalah teman satu sekolah, yang lain teman bermain kami di lapangan bantaran sungai. Aku mengajak teman-teman untuk bermain perang-perangan, seperti yang terjadi tanggal 10 November 1945. Kisah heroik arek-arek surabaya.

“Tapi aku nggak punya senjata mainan Gus,” kata Dudi teman sekelasku.

“Iya Gus, mana ada yang punya. Harganya mahal, kan. Mana kebeli,” sahut salah seorang dari mereka. Diiyakan oleh yang lain.

“Sama, aku juga nggak punya. Kita bikin aja dari pelepah daun pisang,” kataku.

“Yang bener aja, emang bisa?” Kudengar jawaban seperti paduan suara.

“Waktu aku liburan di kampung, permainan yang menyenangkan ya main perang-perangan. Pesertanya banyak dan nggak pakai biaya. Di sana, aku diajari bagaimana membuatnya.” 

Semua diam memandangku tidak percaya. Aku pandangi satu persatu temanku untuk meyakinkannya.

“Di bantaran banyak pohon pisang, kita ambil secukupnya. Satu pohon satu pelepah. Mudah-mudahan ada pohon yang dipanen buahnya. Din, rumahmu yang paling dekat. Pinjam pisau yang tajam, ya.”

“Pohonnya kan tinggi,” celetuk Udin.

“Emang nggak ada yang bisa manjat?”

“Manjat pohon yang bercabang-cabang sih bisa. Pohon pisang kan, lurus dan licin nggak ada pegangan,” sahut yang lain.

“Pakai galah kalau gitu. Kamu punya galah juga Din?”

Udin mengangguk, berdiri lalu melangkah pulang. Dudi kusuruh membantunya. Aku menyanggupi untuk mengajari teman-teman membuat senjata. Tidak berapa lama Udin dibantu Dudi datang membawa sebuah galah bambu. Ujung galah terbelah untuk menjepit pisau.

Segera pisau dipasang di celah ujung galah. Aku memotong pelepah daun pisang dari pohon yang terdekat. Dengan hati-hati kutarik sekali hentak, pisau terlepas.

“Ya …,” seru semuanya bersamaan.

“Biasanya ujungnya diikat biar jepitannya kenceng. Jadi pisaunya nggak lepas,” kata Bardi. “Ada rafia nggak Din?” tanyanya.

“Nggak ada. Ada juga tambang ijuk.”

“Kegedeanlah,” sahutku sambil mencari pelepah batang yang sudah kering.

Batang pisang berlapis-lapis. Sayangnya nggak ada yang kering. Aku mencoba mencongkel sedikit lalu menariknya memanjang ke bawah. Cukup panjang juga. Setelah kupotong aku mencoba kekuatannya. Lumayan ulet tidak getas. Ujung galah diikat erat. 

“Aduh aku lupa menyuruh kalian membawa pisau. Kita butuh pisau banyakan. Biar cepet bikinnya.”

Tiga orang berlari pulang. Mereka berjanji masing-masing akan membawa 2 buah. Lumayan ada 7 buah pisau. Aku berhasil memotong pelepahnya. Dilanjutkan pelepah daun di pohon yang lain. Teman-teman memunguti dan mengumpulkannya.

“Daunnya dipisahin dari pelepahnya,” teriakku sambil mencari pelepah yang panjang. Beruntung ada beberapa pohon yang ditebang untuk dipanen buahnya. Kami mendapat pelepah masing-masing satu.

Aku mengajari teman-teman membuat senjata laras panjang dari pelepah daun pisang yang segar. “Kita membuat yang sederhana saja ya. Lain kali bikin yang bagusan seperti betulan.”

Setelah masing-masing membawa senjatanya, permainan pun dimulai. Kami bermain di kebun sepanjang bantaran sungai di pinggir kampung. 

Sebagai ketua kelompok, aku mengatur kelompokku agar berlarian kocar-kacir untuk membingungkan musuh. Kami berlarian dari persembunyian satu ke persembunyian lainnya dengan waspada mengincar musuh. Kami menuju ke sebatang pohon jambu yang meranggas oleh kemarau panjang.

Senjata diarahkan ke arah musuh, dor … dor … dor … bersahutan ramai sekali. Masing-masing kelompok ada yang menjadi korban. Korban segera ditarik oleh temannya dibawa sembunyi di balik semak. Wah seru sekali seperti film perang yang aku tonton di televisi.

Sambil berteriak ‘MERDEKA! ATAU MATI!’ ketiga petugas pemasang bendera menghambur menuju pohon jambu. Mereka harus hati-hati karena musuh mengincarnya. 

Pemanjat pertama tertembak musuh. Dia jatuh sambil meneriakkan kata ‘MERDEKA’ lalu merayap menuju semak. Yang lain mengambil bendera lalu manjat. Setengah perjalanan kakinya tertembak tapi dia tetap naik. Yang tersisa segera menyusul naik dengan lincah lalu menerima bendera dari temannya. Akhirnya Sang Merah Putih berhasil dikibarkan di puncak pohon.

“Merdeka,” teriaknya lantang, disahuti kelompok pejuang.

Seperti mantra sakti, telah membakar jiwa kelompok pejuang. Mereka berlompatan keluar dari persembunyian mengejar musuh. Yang di atas pohon membantu menembaki musuh. Kelompok musuh pun menyerah.

“Merdeka …,” seru para pejuang.

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar