Tarian Ajeng di Negeri Impian (Part 1)

Bab 1 Lomba Tari Tradisional

Diiringi alunan Gending Jawa, para penari cilik dengan luwes melakukan gerakan tari tradisional di pelataran sanggar. Salah satu penari itu bernama Ajeng Mahiswara, anak 11 tahun yang bercita-cita menjadi penari tradisional.

“Bagus, Ajeng. Gerakan kamu sudah sangat luwes!” puji sang guru.

Sambil memperhatikan tiap gerakan para penari cilik, sang guru memberi aba-aba untuk gerakan selanjutnya.

“Yang lain, perhatikan gerakan Ajeng, ya,” pinta sang guru.

Para penari lain pun segera memperhatikan gerakan tarian Ajeng yang gemulai.

Sore itu hari terakhir mereka berlatih Tari Gambyong yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Karena esok lusa, beberapa anak akan mengikuti lomba tari tradisional di kota.

Tarian ini sudah ada sejak zaman dahulu dan mulai ditampilkan di lingkungan Istana Mangkunegaran pada era 1916–1944. Makna Tari Gambyong sendiri diumpamakan seorang Dewi Padi (Dewi Sri) yang tengah menari.

Oleh karena itu, Tari Gambyong dikenal dengan gerakannya yang halus nan anggun sehingga membuat kagum para penonton yang melihat.

Setelah empat bulan berlatih, kini sang guru akan memilih lima anak yang dianggap cakap dari 20 penari cilik. Mereka yang terpilih akan mengikuti lomba tari tradisional tingkat provinsi.

Ketika sang guru menyebut nama anak-anak yang terpilih, nama Ajeng ada di antaranya.

“Horeee! Aku terpilih!” sorak Ajeng gembira.

Saat kelas menari dibubarkan, Ajeng langsung berpamitan pada Mita, temannya. “Aku pulang duluan, ya, Mit.”

“Kita nggak bareng, Jeng?”

“Aku buru-buru!” teriak Ajeng sambil berlari.

Karena jarak dari sanggar ke rumah tak begitu jauh, Ajeng terbiasa pulang pergi dengan jalan kaki. Namun, sore ini Ajeng berlari karena ingin cepat sampai di rumah. Dia ingin memberitahu kabar bahagia kepada bundanya.

“Ya Allah, aku seneng banget bisa terpilih. Bunda pasti senang kalau dengar berita ini,” gumam Ajeng.

Rasa senang yang begitu besar, membuat Ajeng tak memperhatikan jalan. Hingga waktu menyeberang jalan, Ajeng tak melihat rambu-rambu dan kendaraan yang berlalu lalang.

Ajeng yang seharusnya menyeberangi jalan di zebra cross, kali ini sembarangan dan tak menoleh ke kanan-kiri lebih dahulu. Ajeng pun terserempet kendaraan beroda dua. Kemudian, tak sadarkan diri.

***

Setelah dua hari Ajeng dirawat, pagi ini Ajeng baru tersadar dari pingsan.

“Alhamdulillah … akhirnya, anak Bunda siuman juga,” ucap Bunda sambil mengusap kepala Ajeng.

“Ajeng di mana, Bun?”

“Di rumah sakit, Sayang.”

“Kenapa Ajeng di rumah sakit?”

Ajeng sepertinya lupa dengan peristiwa waktu itu.

“Karena ….” Belum sempat Bunda melanjutkan ucapannya, Ajeng sudah kembali bertanya.

“Ini hari apa, Bun?”

“Hari Rabu, Ajeng.”

“Apa?! Hari Rabu?” Ajeng tampak terkejut.

“Iya, memang kenapa, Jeng?” tanya Bunda bingung.

Ajeng diam saja dan malah hendak turun dari ranjang pasien. Baru juga menggerakkan kakinya sedikit, Ajeng sudah menjerit kesakitan.

“Aduh! Kakiku sakit, Bunda,” rengek Ajeng.

“Makanya, jangan banyak gerak dulu. Sebenarnya, ada apa dengan hari Rabu, Sayang?”

Bukannya menjawab, Ajeng justru menangis, membuat Bunda makin panik. Saat akan bertanya kembali, ponsel Bunda berdering.

“Sebentar, ya, Bunda angkat telepon dulu.”

Mendengar penjelasan dari seseorang yang menelepon, Bunda baru tahu penyebab Ajeng menangis. Kini Bunda turut sedih. Namun, Bunda harus menguatkan hati Ajeng.

“Ajeng Sayang. Jangan sedih lagi, ya. Kata Pak Dokter, ‘kaki Ajeng bakal sembuh, kok. Ajeng nanti bisa menari kembali seperti biasa’. Ajeng yang sabar, ya. Yakin sama Bunda, akan ada hikmah di balik sebuah musibah,” bujuk Bunda lembut.

Ajeng hanya mengangguk tanpa menyahuti.

Karena cidera kaki yang diderita, posisi Ajeng untuk perlombaan tari tradisional diganti dengan teman yang lain.

Ajeng pun menyesal, tak mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan akhirnya kecelakaan.

***

Sudah seminggu semenjak pulang dari rumah sakit, Ajeng menjadi murung. Kini dia pun harus menggunakan tongkat penyangga saat berjalan.

“Bunda, Ajeng bosan. Ajeng ingin ke taman depan, boleh?” pamitnya.

“Boleh, apa mau Bunda antar, Sayang?”

“Nggak perlu, Bun. Ajeng bisa, kok, sendirian.”

Ajeng yang bosan berada di rumah, memilih pergi ke taman kompleks yang berjarak 100 meter saja.

Meski jaraknya begitu dekat, ternyata berjalan dengan tongkat penyangga sangat melelahkan. Begitu tiba di taman, Ajeng langsung duduk di bangku taman yang panjang.

Tak seberapa jauh, tampak beberapa anak seumuran dengan Ajeng sedang berlatih tari modern. Seketika Ajeng menjadi sedih. Dia lalu memandangi kaki kanannya yang dipasang gips. Tak terasa, air matanya menetes di pipi.

Tiba-tiba, Ajeng mendengar ada suara seseorang yang menyapanya.

“Hai, Anak Cantik. Mengapa kau menangis?”

“Aku ingin bisa menari lagi,” sahut Ajeng sambil menoleh ke sekeliling.

Aneh, Ajeng tidak melihat siapa pun di dekatnya duduk.

“Tadi, siapa yang mengajakku bicara?” gumamnya.

“Aku di sini, di sebelahmu.”

Anak berbaju merah itu kembali menoleh, tetapi tak menjumpai siapa pun. Justru yang dilihatnya hanya seekor kupu-kupu dengan sayap biru dan ungu. Kupu-kupu itu sangat cantik.

“Apa itu kamu yang bicara, Kupu-kupu?”

“Iya,” jawabnya membuat Ajeng terkejut.

“Gi-gimana kamu bisa bicara?” Ajeng ketakutan.

Matanya terus memperhatikan kupu-kupu biru ungu yang mengeluarkan serbuk keemasan dari sayapnya ketika terbang.

“Namaku Bufi. Kupu-kupu ajaib penghuni taman ini. Kenapa kamu tadi bersedih?”

Meski masih terkejut, Ajeng tetap menceritakan semuanya pada Bufi.

“Jadi, kamu suka menari. Ayo, ikut aku. Akan kutunjukkan tempat yang pasti membuatmu bahagia.”

Karena penasaran, Ajeng berjalan mengikuti Bufi hingga tiba di suatu tempat. Seingat Ajeng, di taman itu tak ada pintu dengan tirai bunga warna-warni. Walaupun ragu, Ajeng menurut untuk mengikuti Bufi. Begitu memasukinya, ada perasaan aneh di hati Ajeng.

“Sekarang, kamu letakkan tongkatmu dan cobalah berdiri dengan kakimu,” ucap Bufi.

“Kalau aku jatuh bagaimana?” protes Ajeng.

“Percayalah, Ajeng.”

Akhirnya, Ajeng menuruti. Benar saja, kakinya tak lagi merasakan sakit. Bahkan, dia bisa berdiri hingga loncat-loncat.

“Kakiku sembuh, Bufi!” serunya gembira.

“Sekarang, kamu ingin belajar tari apa, Ajeng?”

“Tari Bali,” jawabnya cepat.

Bufi pun meminta Ajeng memejamkan mata. Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya, ya?

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar