Di sebuah negeri jauh bernama Lembah Pelangi Hijau, berdirilah kastil-kastil tinggi menjulang. Penduduknya hidup damai, tetapi ada satu hal yang selalu membuat mereka panik...
Seekor naga besar sering terbang di atas kepala mereka.
Namanya Drago.
Tubuh Drago berwarna biru berkilau, sisiknya tebal, dan sayapnya lebar seperti dua pelangi yang terbentang. Suaranya keras, napasnya panas, dan ukurannya... wah, besaaaar sekali!
Tapi ada satu hal yang tidak diketahui para penduduk...
Drago sebenarnya sangat pemalu dan tidak suka menakuti siapa pun.
Setiap kali ia terbang, manusia selalu berlari ketakutan, bersembunyi di balik bukit, atau menutup telinga mereka.
'Waaah naga! Lariiii!'
"Dia mau menyerang kastil!"
Padahal Drago hanya ingin lewat sambil menikmati angin sore.
"Kenapa mereka selalu lari ya? Apa aku terlihat menakutkan?" gumam Drago sedih.
*
Suatu pagi, Drago terbang pelan-sudah ia coba untuk mengepak sayap tanpa suara. tapi tetap saja whoosh whoosh whoosh anginnya besar.
Para penduduk langsung panik seperti biasa.
Semua kecuali satu anak kecil bernama Lila.
Lila tidak berlari. Ia malah menutup matanya rapat-rapat dan berdiri diam.
Drago penasaran. Ia turun perlahan.
Wuuuuuush...
Debu rumput beterbangan. Sayap besar Drago menutup sebagian langit. Tapi Lila tetap berdiri di tempat, tidak bergerak.
"Halo... kamu nggak takut?" tanya Drago dengan suara sekecil yang ia bisa-tapi tetap saja terdengar seperti guntur kecil.
Lila membuka satu matanya. "Takut sih... tapi Bunda bilang, kalau mau tahu apakah seseorang benar-benar jahat atau tidak, kita harus melihat hatinya dulu."
Drago berkedip. "Hatiku? Tapi aku besar sekali... dan bersisik."
"Tapi hatimu tidak," kata Lila sambil tersenyum.
Drago menunduk. Untuk pertama kalinya, ada manusia yang tidak kabur. Hatinya terasa panas-bukan seperti api naga, tapi hangat seperti sinar matahari.
Lila kemudian bertanya, "Drago, kenapa kamu selalu terbang di atas desa kami?'
Drago menjawab malu-malu. 'Aku sebenarnya mencari teman. Tapi setiap kali aku lewat, semua orang lari."
Lila mengangguk. "Mungkin karena mereka tidak tahu kamu baik."
Drago meringkuk sedih. "Aku sudah mencoba terlihat ramah... tapi aku selalu terlihat menakutkan."
Lila berpikir sebentar, lalu ia tersenyum cerah.
"Aku ada ide! Kamu harus ikut FESTIVAL SENYUM!"
"Festival... apa?"
"Festival Senyum! Hari ketika semua orang menunjukkan hal yang membuat mereka bahagia. Kamu ikut saja, nanti orang-orang bisa mengenalmu."
Drago ragu. "Tapi... kalau mereka menjerit?"
"Tenang. Aku akan di sampingmu."
*
Keesokan harinya, festival dimulai. Penduduk berkumpul di lapangan hijau, membawa makanan, bunga, mainan, dan musik.
Tiba-tiba...
DUUUM!
DUUUUM!
DUUUM!
Tanah bergetar.
Bayangan besar menutupi lapangan.
Penduduk mendongak.
"Itu,,, NAGAAA!"
Semua siap berlari-lari-tapi Lila melompat ke depan.
"TUUNGGUUUU! Drago datang bukan untuk menakut-nakuti!"
Drago berdiri di belakang Lila, mengepak sayap kecil-kecil agar tidak terdengar keras. Ia menyunggingkan senyum-walau giginya tajam.
"A... aku cuma mau berteman," kata Drago, gugup.
Penduduk bingung.
Lila menarik tangan Drago-yang tentu saja sebesar pohon. "Ayo Drago, tunjukkan hal yang kamu suka!"
Drago memikirkan hal yang paling ia suka.
Lalu ia menatap ke langit.
Dengan sekali kepakan kuat.
WUUUUUUUSH!
Ia terbang tinggi, membuat pusaran angin hangat. Kemudian ia meniupkan napas panas ke awan.
Bukan api. Bukan serangan.
Tapi ia membentuk awan menjadi bentuk hati, bintang, dan seekor domba lucu.
Semua penduduk ternganga.
"Lucu sekali!"
"Dia tidak jahat!"
"Dia bisa membuat awan berbentuk kue juga!"
Anak-anak tertawa dan melompat sambil berusaha menangkap awan-awan kecil buatan Drago.
Drago turun pelan. Untuk pertama kalinya...
Tidak ada yang berlari. Tidak ada yang bersembunyi. Semua tersenyum.
Seorang ibu berkata, "Maaf ya, kami selalu salah paham."
Drago mengangguk lega. "Tidak apa-apa. Aku takut kalian ketakutan, jadinya aku ikut salah tingkah."
Lila menepuk kaki Drago. "Lihat! Kamu bisa jadi bahagia kalau terus berani mencoba."
Dan hari itu, Drago resmi menjadi naga penjaga festival, bukan lagi naga yang ditakuti.
Ia mendapatkan sahabat baru.
Dan di atas langit, awan-awan lucu berbentuk hewan menari bersama angin.
Lila tersenyum. Pelajaran berharga yang ia dapat hari ini adalah... jangan menilai seseorang dari penampilannya. Kadang yang terlihat menakutkan, justru punya hati paling lembut.
**
