”Huhu... gatal!” keluh Ata.
Ia baru saja mandi. Tapi airnya keruh. Banjir minggu lalu masih menyisakan bekas. Sumur-sumur warga berubah menjadi cokelat dan berbau lumpur. Ata dan Nana hanya bisa duduk di teras, memandangi ember berisi air keruh.
"Kita tidak bisa main masak-masakan kalau airnya begini, Ta," keluh Nana. "Tangan kita nanti malah gatal-gatal."
”Boro-boro! Masak betulan juga tidak bisa! Masa kita mau minum dan makan air kotor,” Ata mengangguk lesu.
Ata bergidik, ia teringat penjelasan Ibu guru tentang bakteri di air kotor.
Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Na! Ingat tidak waktu kita menginap di rumah Nenek? Nenek pernah bilang kalau alam punya 'pembersih air rahasia'."
”Ayo, kita telepon Nenek!” seru Nana.
"Nek, air sumur kita kotor sekali. Bagaimana cara membersihkannya?" tanya Ata.
Nenek tersenyum lalu menunjukkan sebaskom biji kelor yang sudah kering. "Ini namanya pohon kehidupan, Cah Bagus. Nenek moyang kita dulu memakai biji ini untuk menjernihkan air yang keruh."
Setelah menelepon Nenek, Ata dan Nana bergegas mencari tahu di mana bahan-bahan itu ada.
”Di rumah Mang Asep ada pohon kelor,” kata Ibu.
Setelah memetik kelor. Mang Asep juga mengajak mereka ke belakang rumah untuk mengambil ijuk, arang kayu, dan pasir bersih.
"Ini semua adalah penjaga air. Mereka bekerja sama menangkap kotoran yang tidak terlihat," kata Ata mengulang penjelasan Nenek tadi di telepon.
Ata dan Nana mulai beraksi. Mereka menggunakan botol plastik besar yang dipotong ujungnya dan dibalik. Mereka menyusun bahan-bahan itu berlapis-lapis:
- Ijuk di bagian paling bawah untuk menyaring sampah besar.
- Arang untuk menghilangkan bau busuk.
- Pasir untuk menangkap lumpur halus.
- Dan terakhir, Biji Kelor yang sudah ditumbuk untuk menggumpalkan kotoran.
"Ayo, kita coba!" seru Nana penuh semangat.
Mereka menuangkan air cokelat dari sumur ke dalam tabung itu.
Tetes... tetes... Awalnya, air yang keluar masih agak kuning.
Ata sempat kecewa. "Yah, tidak berhasil, Na."
"Jangan menyerah, Ta! Mungkin ijuknya kurang rapat," Nana menyemangati.
Mereka memperbaiki susunannya, menekannya lebih kuat, dan mencoba lagi. Kali ini, air yang keluar perlahan berubah menjadi bening.
Cring! Air itu tampak jernih di dalam gelas kaca.
"Berhasil! Kita berhasil!" Nana bertepuk tangan gembira.
Ata dan Nana tidak menyimpan rahasia itu sendiri. Mereka mengajak teman-teman di pengungsian dan lingkungan sekitar untuk membuat ’Tabung Penjernih’ masing-masing.
Suasana yang tadinya sedih karena bencana, berubah menjadi ramai dan penuh tawa. Anak-anak bekerja sama menumbuk biji kelor dan menyusun ijuk.
Meski sumur mereka belum sepenuhnya pulih, kini mereka tidak lagi takut gatal atau kekurangan air bersih untuk mandi dan masak.
”Horeee!” seru anak-anak gembira.
