Obat Untuk Ibu
Nelfi Syafrina
Ibu Kedasih demam sejak semalam. Padahal dia juga sudah mengompres ibu dan meminta ibu minum banyak air putih.
“Ibu harus diperiksa oleh tabib dan diberi obat. Kedasih pamit ke rumah tabib ya Bu,” Pamit Kedasih. Ibu mengangguk lemah.
Kedasih pun bergegas ke rumah tabib. Dia harus melewati jembatan akar yang menghubungi desanya dan desa tabib. Mereka tinggal di sebuah dusun di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
“Huhuhu... tolong aku,” tiba-tiba terdengar tangisan pilu dari sebelah kanan Kedasih. Kedasih menghentikan langkahnya. Dia memperhatikan sekitarnya. Hanya ada pohon di sana.
“Mungkin hanya perasaanku saja,” gumam Kedasih. Dia pun melanjutkan perjalanan. Baru 2 langkah, tiba-tiba suara itu terdengar kembali. Kali ini terdengar lebih kencang. Kedasih kembali menghentikan langkahnya.
“Hai, siapa di sana? Apa kamu perlu bantuanku?” tanya Kedasih sambil celingukan mencari suara itu.
“Aku di sini, tolong aku,” ujar suara itu. Kali ini suara itu lebih dekat. Sayangnya Kedasih masih tidak melihat siapa yang berbicara padanya. Kedasih memperhatikan sekitarnya.
“Kamu di mana? Aku tidak melihatmu,” ucap Kedasih bingung.
“Aku tepat di sampingmu. Aku pohon yang dicabut seseorang dari tanah. Aku sangat lemah sekarang. Tolong tanam aku kembali ke tanah ini,” ujar siara itu. Kedasih segera menoleh ke arah pohon yang berada di sampingnya. Sebuah pohon jati yang masih muda tergeletak tak berdaya di dekatnya.
“Kasihan sekali kamu. Sebentar aku akan menanammu kembali,” ujar Kedasih. Dia pun segera menggali tanah. Lalu menanam pohon jati kecil itu kembali di tanah yang baru saja digalinya.
“Terima kasih. Ohya, kamu hendak kemana?” tanya pohon jati.
“Aku mau ke rumah tabib untuk meminta obat. Ibuku sakit,” sahut Kedasih.
“Obati ibumu dengan madu lebah ajaib saja. Lebah itu temanku. Sarangnya di sana. Pasti dia dengan senang hati memberimu,” saran pohon Jati sambil menunjuk sarang lebah di pohon yang lebih tinggi. Kedasih melihat ke sarang lebah. Kebetulan seekor lebah ajaib melintas dekat mereka. Pohon jati kecil menyapanya dan meminta madu untuk obat ibu kedasih.
“Baiklah. Aku akan mengambilkan sedikit persediaan makanan kami untuk ibumu. Sebentar ya,” lebah yang baik itu bergegas ke sarangnya. Tak lama, lebah dan teman-temannya membawakan madu yang mereka letakkan di daun jati.
“Terima kasih sahabatku. Kebaikan kalian tidak akan kulupakan,” ucap Kedasih.
“Semoga ibumu cepat sembuh ya Kedasih,” ujar kawanan Lebah dan pohon Jati kecil. Kedasih pun kembali ke rumahnya. Kedasih memberikan madu sebagai obat untuk ibunya yang sakit.
