Aku dan teman-teman sangat menunggu musim hujan. Musim hujan berarti musim belalang. Kami bisa mendapatkan banyak belalang kayu di kebun-kebun di area tepi hutan Banyuwangi.
Belalang adalah salah satu makanan kesukaanku. Makanan sehat berasa gurih karena kandungan protein yang tinggi di dalamnya. Apalagi jika belalang hasil buruan dibakar, tambah gurih rasanya.
Aku, Aris, dan teman-teman lainnya berjanji akan berburu belalang sore ini. Kami berbagi tugas. Ada yang membawa galah, jaring, dan botol air mineral kosong untuk wadahnya. Kami berjalan beriringan ke tepi hutan sambil tertawa dan bercanda.
Setiap pucuk dan dahan pohon yang dilalui tidak luput dari pengamatan. Kami juga harus memperhatikan jalan setapak yang dilewati. Ya, banyak tanah yang becek bekas guyuran air hujan siang tadi.
Setiap kali menemukan belalang, salah satu dari kami memukulkan galah ke arah belalang.
“Praak…!”
“Pyuuur…!”
Segerombolan belalang terbang menghindar. Kami beradu cepat menangkap satu persatu belalang. Suara riuh terdengar ketika kami berlarian saling mengejar belalang yang menjadi target.
Seperti biasa, kami berpencar menjadi beberapa kelompok. Aku dan Aris berjalan ke arah kiri. Sedangkan teman-temanku berjalan ke arah lain.
“Sst… lihat, ada belalang di ujung daun pohon jambu,” bisikku kepada Aris.
Aku berjalan mengendap. Tanganku dengan cepat berusaha menangkapnya.
“Hore… dapat.”
Aku tertawa senang sambil mengamati belalang berwarna coklat itu. Aku segera memasukkan hasil buruan ke dalam botol air mineral kosong. Ini adalah belalang buruanku yang pertama.
Aku dan Aris berlomba menangkap belalang. Satu persatu belalang hasil buruan kumasukkan ke dalam wadah. Begitu juga Aris.
“Gilang, itu ada lagi. Ayo kita tangkap!”
Mataku mengikuti arah tangan Aris. Ya, ada tiga ekor belalang sedang bertengger di pucuk pohon mangga. Aku bersiap dengan galah sedang Aris bersiap dengan jaringnya.
“Praak….”
Ah. Sayang tidak kena. Semua belalang terbang. Mereka terbang terpisah. Aku mengejar belalang yang terbang rendah ke pohon pisang.
Huff. Tidak kena juga. Aku berusaha melompat dan terus mengejar belalang itu. Sekarang belalang itu hinggap di pohon jambu biji.
Aku berusaha menangkapnya. Ternyata aku tidak mampu meraihnya karena tubuhku pendek. Aku mencoba menggoyang-goyangkan batangnya agar belalang berpindah tempat.
Alhasil belalang kembali terbang ke pohon lain. Kali ini pohon singkong sebagai tempat hinggapnya. Aku harus mengejarnya lagi.
Saat aku hendak menangkapnya, tiba-tiba hujan turun. Galah yang kupegang kulemparkan. Aku ingin mengejarnya dengan tangan kosong. Hujan kian deras tetapi aku tidak peduli.
Aha, sekarang belalang itu ada di depanku. Aku pun sudah tidak sabar lagi untuk menangkapnya. Namun….
“Aduuh!”
Saking terkejutnya, botol air mineral yang telah berisi belalang dan kupegang di tangan kiri terlempar. Aku lalu melihat ruas jari tanganku. Belalang yang kukejar pun tidak berhasil kutangkap.
“Ada apa, Lang? Apa yang terjadi?”
Aris tergopoh-gopoh mendekatiku. Wajahnya terlihat cemas, mengkhawatirkan aku.
“Tanganku tertusuk duri kaki belakang belalang,” jawabku sambil meringis.
Aku mencari-cari botolku. Ternyata, sebagian belalang berhasil keluar dari botol karena tutupnya lepas. Aku memang tidak memasang tutup dengan erat.
“Yuk, Lang kita cari tempat berteduh sambil istirahat dan menunggu hujan reda. Tubuhmu juga sudah basah kuyub,” saran Aris padaku.
“Tanggung, Ris. Aku mau coba berburu lagi,” jawabku sambil menggeleng.
“Aku ikut, kalau begitu. Yuk, kita cari lagi, Lang!”
Aris segera mengikutiku. Di seberang sana, aku melihat teman-temanku. Mereka masih asyik berburu belalang.
Kami berdua mulai mengamati tanaman bambu yang ada di depan.
“Sst… itu ada banyak belalang,” kataku sambil menunjuk.
“Iya, benar. Kejar, Lang!”
Aku kembali mengendap-endap. Begitu juga Aris.
“Hore… aku dapat!” teriakku.
“Aku juga dapat,” ujar Aris kemudian.
Belalang memang tidak dapat terbang tinggi ketika hujan. Aku dan Aris segera memasukkan hasil buruan kami. Kali ini kami berkali-kali mendapatkan hasil buruan dengan mudah.
“Hmm… aku bisa makan belalang bakar,” kataku sambil tersenyum puas.
*cerita ini sudah terbit di buku Elang Jagoan 1
