SD Mandiri sedang mengadakan pentas seni akhir tahun. Nana menampilkan tarian tradisional. Dira menunjukkan olah suaranya dengan menyanyikan sebuah lagu. Bayu menaiki panggung untuk memperlihatkan keahliannya di bidang bela diri, karate.
Semua orang tampak senang. Para penonton bersorak dan bertepuk tangan. Para siswa bersuka-cita menyaksikan teman-temannya tampil. Wajah mereka terlihat ceria. Terkecuali Via, siswi kelas tiga itu hanya duduk terdiam di pojok kelasnya. Sesekali Ia melongokkan kepalanya, diam-diam melihat ke arah panggung.
Via malu. Hampir semua temannya menampilkan sesuatu. Tetapi, tidak dengan Via. Via diam di kelasnya agar wali kelas tak menemukannya dan menyuruhnya naik panggung. Via merasa tak percaya diri untuk melakukannya. Makanya, Ia berlama-lama bersembunyi di sana. Padahal, sudah lama Ia ingin melakukan hal yang sama seperti teman-temannya. Tapi Via takut. Ia takut ditertawakan karena tak bisa memberi penampilan yang baik.
Tiba-tiba, Nana, teman dekatnya membuka pintu kelas. Via terkejut. Ia tak menyangka tempat persembunyiannya kali ini akan ketahuan. Nana yang baru saja turun dari panggung menghampiri Via.
"Ayo, Via. Aku yakin kamu bisa!" seru Nana. Nana memberi semangat kepada Via karena Nana tahu, sebetulnya Via punya kemampuan. Via jago membuat puisi. Hanya saja, orang lain tak tahu karena Via tak pernah berani membacakan karyanya di hadapan orang lain. Nana mengetahui kemampuan Via itu setelah tak sengaja menemukan puisi yang Via tulis di buku catatannya.
Nana terus mendesak Via. Via tetap tak mau menuruti saran Nana. Akhirnya, Nana kembali keluar kelas. Tanpa sepengetahuan Via, Nana menghampiri Bu Herni, wali kelas kelas tiga dan membisikkan sesuatu di dekat telinga Bu Herni.
Tanpa di duga, pengeras suara memanggil Via. Via terlonjak. Kenapa dirinya bisa dipanggil? sementara Ia tak pernah mendaftarkan diri ke panitia. Seketika tangannya gemetar. Ia salah tingkah. Jantungnya berdebar kencang. Belum naik panggung juga sudah begitu, bagaimana kalau naik panggung? batinnya.
Bu Herni mendekati Via. Mengajak Via segera bersiap menaiki panggung. Di belakang Bu Herni terlihat Nana mengacungkan jempol ke arah Via. Via menggeleng. Namun, Bu Herni meyakinkan Via. Bahwa tak akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti dugaan Via.
"Jika gugup, tatap saja semua mata penonton. Nanti kamu akan berani," ucap Bu Herni memberi saran.
Panitia pentas seni kembali memanggil nama Via. Via terpaksa mendekati panggung. Dengan rasa was-was, Ia melangkahkan kakinya yang terasa lemas. Setelah berada di panggung, Via menghampiri micropon. Tangannya gemetar. Jantungnya terasa lebih kencang memompa darah ke seluruh tubuhnya. Ia hampir tak bisa mengendalikan dirinya. Namun, Ia ingat perkataan Nana suatu hari.
"Tarik napas panjang. Kemudian keluarkan perlahan." Via juga ingat saran Bu Herni tadi. Via melakukan kedua saran tersebut. Awalnya percobaan pertamanya gagal. Via masih merasa gugup, tetapi Ia berhasil saat melakukannya untuk ketiga kalinya. Mata Via bertemu dengan tatapan para penonton yang menunggu penampilan Via dengan wajah sumringah. Dengan melihat situasi itu, Via jadi terdorong untuk memberikan penampilan terbaik untuk mereka.
Akhirnya, Via mendesak dirinya. Ia mencoba membacakan puisi di selembar kertas yang Ia genggam. Benar saja. Via bisa melakukannya. Di beberapa menit pertama memang terasa gugup. Namun, di menit selanjutnya Via bisa membacakannya dengan lancar. Via tak mengira dirinya bisa melakukan semua itu. Setelah selesai, semua penonton bertepuk tangan. Via hampir tak percaya.
Benar kata Nana. Jika tak mencoba. Via tak akan bisa tahu bagaimana rasanya. Via juga tak akan tahu bahwa dirinya mampu. Nana berhambur menyambut Via yang turun dari panggung. Bu Herni menggeleng heran. Tak menyangka kalau Via memiliki bakat yang hebat.
"Benar, kan, kataku. Kamu tuh memang sekeren itu," ucap Nana.
Panitia pentas seni memanggil setiap nama siswa yang telah tampil, termasuk Via. Panitia memberi sebuah piala sebagai bentuk apresiasi. Untuk pertama kalinya, Via mendapat piala. Ia bangga sekali kepada dirinya karena telah berani melawan rasa takut.
