"Aku enggak mau bekal getuk, Umma," kata Ulfa. Ia tahu Umma sengaja memberinya bekal sehat setiap hari. Olahan warna-warni dengan hiasan yang sangat cantik. Umma tidak hanya menyiapkan makanan Ulfa, tetapi Umma memasak makanan tradisional itu dengan tangannya sendiri.
Namun, Ulfa tidak suka kalau bekal hari ini sama seperti kemarin. Ia ingin bekalnya selalu berbeda.
"Ya sudah, Umma siapkan cup cake saja buat bekal hari ini," kata Umma sabar. Ulfa berjingkrak senang. Ia yakin kue buatan Umma pasti enak. Selain itu, kue Umma juga dihias sangat cantik.
"Umma emang jago masak," puji Ulfa sambil mengangkat satu ibu jarinya untuk Umma. Umma membalas pujian Ulfa dengan senyuman manis. Setelah bekal siap, Ulfa pergi sekolah di antar Baba.
Seperti biasa, pertama kali sampai di sekolah, Ulfa suka memperlihatkan bekalnya kepada Nadia, teman yang duduk sebangku dengannya. Nadia selalu terkesima dengan kreasi makanan yang Umma buat
Kemudian memujinya. Ulfa dan Nadia juga suka berbagi bekal. Mereka saling mencicipi bekal mereka masing-masing.
"Wah, enaknyaaa!" seru Nadia saat mencoba kue bikinan Umma. Ulfa mengangguk berkali-kali. Ia tak heran lagi dengan kalimat yang dilontarkan Nadia.
Setelah pulang sekolah, Ulfa meminta Umma agar dibuatkan lagi kue yang sama untuk bekal besok. Tentu saja Umma setuju karena Umma hobi sekali memasak. Jadi, Umma senang kalau bisa berkreasi mengolah berbagai sajian makanan.
"Boleh aku minta toping cup cake-nya berbeda dengan yang ini Umma," pinta anak perempuan kelas tiga SD itu seraya menunjuk kue yang masih tersisa di kotak bekalnya.
"Siap anak salehah ...!" timpal Umma bersemangat. Hampir empat hari Umma membuatkan Ulfa kue yang sama setiap harinya. Namun, tepat di hari keempat, Ulfa merasa bosan memakan bekal yang rasanya manis. Oleh karena itu, ketika di kelas, Ulfa menjanjikan akan menukar bekalnya dengan Nadia. Nadia menyetujui karena ia sangat ingin menikmati kue lezat Umma.
Keesokan harinya, saat Ulfa bangun pagi. Ulfa terkejut mendapati dirinya bangun kesiangan. Ia memanggil-manggil Umma. Tetapi Umma tak menyahut. Ulfa heran, tak biasanya Umma telat membangunkan dirinya. Ulfa melongokkan kepala ke kamar Umma, ke dapur, bahkan ke kamar mandi. Namun, Umma tak ada di sana.
"Baba juga enggak ada," ucapnya lirih. Air matanya mulai berkaca-kaca. Perlahan rasa takut menyeruak di dalam hatinya. Ulfa tertegun cukup lama. Tanpa ia duga, ia mendengar suara pintu depan terbuka.
"Umma!" teriaknya sembari berhamburan ke arah pintu. Namun, bukan Umma yang ia temui. Ia hanya melihat Bibi Una, adiknya Umma. Ulfa mengerutkan dahi. Ia tak mengerti kenapa bibi bisa ada di rumahnya. Bibi Una langsung menjelaskan begitu melihat kepanikan di raut wajah Ulfa.
"Umma sakit, baba pergi menganar Umma ke rumah sakit." Ulfa terhenyak saat mendengar ucapan Bibi Una. Ia langsung menangis tersedu-sedu. Ia sama sekali tak menyangka Umma akan sakit separah itu hingga harus dirawat di rumah sakit. Padahal, kemarin Umma terlihat baik-baik saja. Bibi Una mendekat, bergegas menenangkan Ulfa.
"Enggak apa-apa, Umma hanya kecapekan. Umma perlu istirahat sebentar," jelas Bibi Una.Kemudian, ia menuntun Ulfa agar segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Tak lupa, ia menyampaikan pesan Umma. Secarik kertas dari Umma. Di kertas itu Umma memberitahu Ulfa bahwa Umma sudah menyiapkan kue pesanannya untuk bekal sekolah. Mengetahui hal itu, Ulfa berjalan lunglai menuju kulkas. Ia mengambil kue yang Umma maksud. Umma meminta agar Ulfa menghiasi kue itu sediri.
Ulfa mengambil krim dan meses. Awalnya, ia mengira hal itu mudah untuk dilakukan. Namun, saat menekan plastik berisi krim, tenaga yang ia keluarkan terlalu kuat. Alhasil, krim meluber ke mana-mana. Kue pertama buatannya gagal. Ulfa tak menyerah, ia mencoba lagi untuk kedua kalinya. Kali ini, ia lebih berhati-hati. Tetapi, ketika menuangkan krim, tangannya terasa pegal. Ia malah menuangkan krim tidak beraturan. Kue keduanya jadi terlihat tak karuan. Tak secantik seperti kue buatan Umma. Ulfa mulai mendengus kesal. Kue Terakhir, Ulfa memutuskan untuk memberi toping cokelat glaze. Namun, saat kue itu dicelupkan, kue tersebut malah kecelung ke dalam lelehan cokelat itu. Ulfa jadi bertambah kesal. Ia hampir melemparkan kue-kue buatannya.
Namun, Bibi Una menghampirinya. Ia mencegah Ulfa melempar kue itu. Bibi Una berusaha membantu. Namun, Ulfa tak mau. Ulfa cemberut karena tak bisa membawa bekal seperti yang ia inginkan. Akhirnya, Bibi Una menyarankan agar membeli kue yang sama di toko kue terdekat. Ulfa menyetujui. Mereka pun pergi ke sekolah.
Di sekolah, saat jam istirahat tiba. Ulfa menunjukkan bekalnya kepada Nadia. Mereka bertukar bekal seperti perjanjian kemarin. Ulfa mencicipi bekal Nadia, tetapi ia cepat-cepat melepeh makanan itu. Ia tak tahu makanan yang dibawa Nadia sangat pedas. Nadia lupa memberi tahu. Tiba giliran Nadia mencicipi kue dari Ulfa.
Nyam! Nyam!
Nadia tampak menikmati kue itu. Namun, beberapa saat kemudian, ia berhenti mengunya. Ulfa mengernyit heran. Nadia memberitahu, rasa kue itu berbeda. Tak seenak kue kemarin. Ulfa segera meminta izin untuk mencobanya. Setelah Nadia mengizinkan, ia menyuapkan beberapa potong kue ke mulutnya. Matanya terbelalak. Ia membenarkan pendapat temannya itu.
Nadia menanti pendapat Ulfa. Tetapi Ulfa hanya terdiam. Nadia memicingkan mata. Lalu Ulfa malah meneteskan air mata. Nadia kaget. Ia bertanya-tanya kenapa Ulfa malah menangis.
"Ummaku sakit. Itu emang bukan kue buatan Umma," bisik Ulfa di sela tangisnya. Nadia mengangguk paham, kemudian berbicara agar Ulfa tak sedih lagi.
Sejak hari itu, Ulfa mengerti. Selama ini, Umma selalu berusaha keras untuk menyiapkan bekal untuknya. Ulfa langsung teringat saat ia berusaha membuat kue seperti Umma. Membuat kue menjadi cantik itu ternyata tak mudah. Apalagi mengolahnya dari awal.
Ia berjanji kepada dirinya, tak akan lagi rewel meminta ini-itu kepada Umma. Ia akan memakan apa pun makanan yang Umma siapkan untuk bekalnya.
Sepulang sekolah, Ulfa meminta bibi mengantarnya menjenguk Umma. Bibi pun mengantar Ulfa ke rumah sakit. Ulfa langsung menghampiri Umma dan memeluknya. Ia pun tak lupa mengucapkan terima kasih atas kebaikan Umma selama ini. Ia juga meminta maaf jika ia sering membuat Umma lelah karena harus menyiapkan semua keperluan sekolahnya. Mendengar permintaan maaf Ulfa, Umma mengusap lembut pipi Ulfa.
"Itu sudah menjadi kewajiban Umma, Sayang. Umma dengan senang hati melakukannya," kata Umma. Ulfa tersenyum mendengarnya. "Sakitnya Umma bukan karena mu. Umma hanya butuh istirahat sebentar. Maaf, ya. Umma belum bisa menemanimu di rumah," lanjut Umma.
Ulfa semakin erat memeluk tubuh Umma. Ia senang karena Umma begitu menyayangi dirinya.
