Liburan sekolah ini, Gayatri menginap di rumah nenek. Nenek tinggal di sebuah desa yang bernama Sumbersari yang terkenal akan hutan bambunya.
“Gayatri, pergilah berjalan-jalan. Tapi ingat, jangan pergi ke daerah hutan bambu,” kata sang nenek.
Gayatri senang sekali ketika nenek memperbolehkannya untuk berjalan-jalan mengelilingi desa. Tak lupa Gayatri membawa kamera kecil pemberian ayah untuk dapat memotret pemandangan bagus yang ditemuinya.
“Ingat Gayatri, jangan sampai pulang terlalu sore,” pesan neneknya. Gayatri mengangguk.
Gayatri berjalan-jalan di pematang sawah. Ternyata padi-padi mulai menguning. Para petani yang sedang memanen padi mereka bersama-sama.
Gayatri mengambil kameranya dan mulai memotret.
“Wah seru sekali kegiatan para petani,” gumamnya.
Gayatri pun mulai berjalan kembali. Kali ini dia melewati sungai yang airnya sangat jernih. Suara gemericik air terdengar. Gayatri pun bisa melihat ikan-ikan yang melompat-lompat di air.
“Hai ikan-ikan,” Gayatri menyapa semua ikan yang ada di sungai. Ada ikan nila yang warnanya sangat cantik.
Gayatri menyusuri jalan di desa kembali. Dia sudah dekat dengan hutan bambu. Langkahnya terhenti, Gayatri ingin berbalik ke rumah nenek. Namun dia melihat ada sesuatu yang berkilauan di antara pohon bambu.
Gayatri pun penasaran. “Hmmm, kira-kira apa itu ya?”
Gayatri mendekat. Samar-samar dia mendengar suara rintihan di balik sinar berkilauan itu.
Seorang peri sedang terjepit di antara pohon bambu.
“Hai, bisakah kamu membantuku?”
Gayatri mengangguk. Segera dia membantu peri bambu untuk membebaskan diri.
Si peri bambu sangat bergembira karena telah terbebaskan. Dia menawari Gayatri untuk berkeliling ke negeri bambu.
“Aku peri bambu.”
“Aku Gayatri.”
“Untuk bisa masuk ke negeri bambu, kamu harus melewati lubang itu,” kata peri bambu.
Gayatri berpikir sejenak, “Bagaimana aku bisa masuk ke lubang kecil itu?” Peri bambu tersenyum, lalu mendorong Gayatri untuk segera masuk ke lubang.
Ajaib! Lubang itu ternyata cukup untuk dimasuki oleh Gayatri.
Lubang itu sangat panjang, Gayatri terus berjalan perlahan. Peri bambu berjalan di depannya. Tangan Gayatri gemetar, dia sangat takut karena mengingat pesan neneknya tentang hutan bambu yang menyeramkan.
Ternyata pemandangan di negeri bambu sangat indah.
“Wah, ternyata negeri bambu sangat indah!” Gayatri tak henti-hentinya mengucapkan kekagumannya pada negeri bambu yang asri dan indah.
“Ayo kutunjukkan betapa hebatnya negeri bambu!”
Sepanjang perjalanan, Gayatri menjumpai penduduk negeri bambu yang sangat ramah. Mereka adalah Ruru si burung, Cici si kelinci, dan Bara si ular.
Mereka bertiga sedang bermain-main bersama. “Hai, peri bambu. Siapakah nama temanmu?” tanya Cici si kelinci.
“Lihat, pohon bambu itu menahan tanah agar tidak longsor ke sungai.” Peri bambu menjelaskan.
Banyak sekali kerajinan tangan itu. Ada kursi bambu, dinding dari bambu, vas bunga, dan lampu hias.
“Wah semua benda ini terbuat dari bambu?” Gayatri takjub. Dia tak menyangka jika pohon bambu memiliki banyak kegunaan.
Wah, baunya sangat lezat!
“Mereka sedang memasak rebung, yaitu tunas pohon bambu.” Peri itu menjelaskan.
Nenek cemas, dan seluruh warga kampung membantu untuk mencari Gayatri.
Mereka cemas, jika Gayatri bermain-main di sekitaran hutan.
“Nenek… nenek…”
“Dari mana saja cucu nenek ini?”
Gayatri bercerita tentang pengalamannya belajar banyak hal tentang pohon bambu. “Wah, bagus sekali pengalamanmu. Tapi kamu tetap harus waspada.
_Mutiara Fhatrina_
