Dibalik lebatnya pepohonan hutan rimba, menjalar tumbuhan paria1 dari tangga hingga atap rumah panggung milik seorang gadis cantik jelita. Dari kejauhan, rumah khas Mandar itu menjadi tak terlihat sedikitpun karena tertutup dedaunan lebat. Itulah sebabnya ia dijuluki Samba Paria, yang berarti gadis yang rumahnya tertutup sayur paria. Dia menempati rumah peninggalan orang tuanya bersama adik laki-lakinya.
“Wahai adikku tersayang, tetaplah tinggal dalam hutan. Kakak mendengar jika rakyat di pesisir tidaklah sentosa karena rajanya yang kejam” ucap Samba Paria.
“Baik kakak, namun apakah kita bisa terus bertahan di hutan yang sunyi ini” ungkap ragu sang adik.
Samba Paria menyakinkan jika dia akan terus menemani sang adik, meskipun orang tua mereka telah meninggal. Mereka melanjutkan percakapan sambil menyantap jepa2 di depan rumahnya. Ketika sang adik akan menikmati makanannya yang masih panas, tak sengaja dia menjatuhkannya ke tanah. Mereka pun membiarkan makanan yang jatuh karena sudah kotor, dan kembali melanjutkan memakan jepa hangat yang tersisa.
Di waktu yang bersamaan, rombongan raja dari pesisir Mandar sedang berburu binatang di hutan. Sang raja melepaskan anjing terlatih untuk membantu menemukan mangsa. Hingga salah seekor anjing menghampirinya sambil menggigit sesuatu yang aneh. Ternyata, anjing tersebut sedang menggigit sebuah jepa hangat. Si anjing menunjukkan kepada raja dimana ia mendapatkanya.
Hingga tibalah mereka di depan rumah Samba Paria. Sang raja pun terkejut dengan adanya tempat tinggal di tengah belantara. Oleh karena itu, ia mencoba mengetuk pintu untuk mengetahui siapa penghuninya. Perlahan pintu terbuka, tertegun hati sang raja melihat gadis cantik di depannya. Seketika raja berdegup hatinya, ia terpesona kepada gadis itu. Berbeda dengan Samba Paria, ia amat ketakutan, karena mengetahui orang yang dihadapannya adalah seorang raja, terlihat dari pakaian mewah dan tunggangan kuda putihnya.
Samba Paria mempersilahkan sang raja untuk masuk, kemudian memperkenalkan diri dan adik laki-lakinya. Seketika niat buruk raja muncul, ia meminta sang adik untuk mengambilkan air minum di sungai. Saat sang adik pergi, Raja Mandar memaksa Samba Paria untuk ikut dengannya ke istana.
“Jangan, Tuan! Tolong jangan bawa hamba ke istana. Bagaimana nasib adik saya jika sendirian?” pinta Samba Paria penuh iba.
“Aku tidak peduli, yang terpenting kamu akan menjadi permaisuriku!” bentak raja.
Samba Paria pun sedih, dia harus mencari cara agar adikknya mengetahui keberadaannya. Ia memohon kepada raja untuk diizinkan membawa sayuran kesukaannya berupa dedaunan paria. Di sepanjang perjalanan, Samba Paria justru membuang daun-daun itu dan berharap sang adik dapat mengetahui pertanda yang ditinggalkannya.
Keesokan harinya, datanglah si adik ke istana. Dia berhasil mengikuti petunjuk dari sang kakak. Sayangnya, sejauh dia mencoba memanggil, sang kakak tak muncul jua.
“Wahai kakakku, tak apalah jika kakak tak ingin menemuiku. Tapi, adik menanam sebuah tanaman kelor disini, jika tanaman ini layu, tandanya adik sedang sakit” teriak sang adik. Ia pun kembali ke hutan dengan perasaan kecewa.
Samba Paria hanya bisa menangis dari balik kamar terkunci, ia terus memperhatikan tanaman kelor sang adik dari bilik jendela. Setelah beberapa hari berlalu, tanaman itu semakin layu, Samba Paria khawatir bukan main. Terbesitlah sebuah ide, beruntung sang raja sedang keluar istana, ia pun mengajak para dayang untuk mandi di sungai. Setibanya di sungai, Samba Paria membuang cincin pemberian raja ke dalam derasnya air mengalir. Ia meminta para dayang mencarinya, dan mengendap-endap meninggalkan mereka.
Sesampainya di rumah, ia menemukan sang adik sedang sakit. Dia segera merawatnya dengan penuh kasih sayang. Di sisi lain, pikirannya sempat kalut, sang raja pasti akan menyusulnya ke hutan. Dia harus mencari jalan keluar agar tidak kembali ke istana. Kemudian, Samba Paria mulai menghaluskan biji cabai rawit dan bahan pedas lainnya hingga terbentuk seperti adonan. Tak lama kemudian, ternyata benar sang raja datang mencari Samba Paria. Raja Mandar segera menaiki anak tangga dan menggedor rumahnya penuh amarah.
Saat pintu dibuka, Samba Paria menyiramkan adonan yang telah dibuatnya. Seketika mata sang raja menjadi perih dan ia menjerit kesakitan. Tanpa disadari, kakinya tidak seimbang dan ia jatuh terjungkal ke tanah. Raja yang keji itupun tewas seketika karena terbentur batu besar di bawahnya. Kini, tak hanya kakak adik itu yang hidup damai, tetapi juga seluruh rakyat Kerajaan Mandar hidup dalam ketentraman.
***
1 Paria atau pare, adalah tumbuhan merambat yang dapat diambil buahnya sebagai sayuran atau obat tradisional.
2 Jepa adalah makanan khas suku Mandar, terbuat dari singkong yang diparut berbentuk lembaran pipih.
