Berita itu menyebar cepat laksana api yang menyambar rumput kering. Di pasar-pasar, di warung kopi, hingga di dangau sawah, semua orang membicarakannya. Harapan membuncah di dada rakyat jelata, tak terkecuali bagi seorang pemuda bernama Arya.
Arya tinggal di sebuah gubuk sederhana yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Rumahnya berdiri tepat di bantaran Sungai Brantas, di mana suara gemericik air menjadi lagu pengantar tidurnya setiap malam. Arya bukanlah seorang pendekar sakti, bukan pula keturunan ningrat. Ia hanyalah seorang pengrajin tahu, sebuah keahlian yang diwarisi dari mendiang ayahnya.
Setiap hari, sebelum matahari menampakkan sinarnya di ufuk timur, Arya sudah bangun. Tangannya yang kasar namun cekatan mulai memutar atu (alat gilingan batu) untuk melumat biji-biji kedelai yang telah direndam semalaman. Ia memperlakukan kedelai itu dengan penuh kasih sayang, seolah-olah biji-biji kecil itu adalah butiran mutiara.
"Sari kedelai ini adalah susu dari ibu pertiwi," gumamnya setiap kali memeras bubur kedelai dengan kain saring.
Tahu buatan Arya sesungguhnya sangat lezat. Rasanya gurih alami, teksturnya selembut sutra, dan warnanya putih bersih seperti awan. Namun, kelembutan itu justru menjadi kutukan baginya. Tahu putih itu terlalu rapuh. Setiap kali Arya mencoba membawanya ke pasar kota yang berjarak puluhan kilometer, guncangan gerobak sapi di jalan berbatu membuat tahu-tahunya hancur berantakan. Sesampainya di pasar, tahu itu sudah berubah menjadi bubur yang tak berbentuk. Belum lagi, jika tak laku dalam sehari, tahu itu akan berlendir dan mengeluarkan bau masam yang menyengat. Sore itu, Arya duduk termenung di batu besar tepi sungai. Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan air yang tenang. Rasa putus asa mulai merayapi hatinya.
"Apa aku bisa ikut sayembara?" keluhnya sore itu. "Makananku adalah makanan orang lemah. Sekali sentuh, hancur. Bagaimana mungkin makanan seperti ini layak bagi para prajurit raja?"
Lamunannya buyar ketika sebuah tawa menggelegar terdengar dari belakang. "Wah, wah, lihat siapa yang sedang bermimpi di siang bolong!" Suara itu suara Juragan Suro, saudagar terkaya di desa itu. Tubuhnya gempal, jari-jarinya dipenuhi cincin batu akik yang berkilauan. Ia datang diiringi dua orang pengawal yang memikul peti-peti kayu.
"Kau mau ikut sayembara, Arya?" ejek Juragan Suro sambil menendang pelan keranjang bambu milik Arya. "Sadar dirilah, Nak. Raja butuh makanan ksatria, bukan bubur bayi. Lihat ini!"
Juragan Suro membuka salah satu petinya. Di dalamnya tersusun rapi daging-daging rusa yang telah diasap hingga kering dan berwarna merah gelap. "Dendeng asap! Keras, alot, tahan berbulan-bulan. Ini baru makanan laki-laki! Tahu putihmu itu hanya pantas untuk makanan itik."
Tawa Juragan Suro dan para pengawalnya meledak, menyakitkan telinga Arya. Wajah pemuda itu memerah menahan malu dan amarah. Namun, ia tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-bukunya memutih. Di dalam hatinya, sebuah tekad baja mulai terbentuk. Ia akan membuktikan bahwa kedelai yang dianggap remeh ini bisa menjadi sesuatu yang agung.
Semangat Arya terbakar. Selama tujuh hari tujuh malam berikutnya, dapur kecil Arya tak pernah berhenti mengepulkan asap. Ia melakukan berbagai percobaan layaknya seorang empu yang sedang menempa keris pusaka.
Pada hari pertama, Arya berpikir bahwa panas adalah kuncinya. Ia menggoreng tahu-tahunya dengan minyak kelapa yang mendidih dalam waktu yang sangat lama. Ia berharap tahu itu menjadi keras dan awet. Namun, hasilnya sungguh mengecewakan. Tahu itu memang menjadi keras, tetapi sekeras batu kali! Rasanya hangus dan pahit, giginya nyaris patah saat mencoba menggigitnya.
Tidak menyerah, pada hari ketiga, Arya mencoba metode pengeringan. Ia menjemur irisan tahu di atas tampah di bawah terik matahari yang menyengat. "Mungkin jika airnya hilang, ia akan awet seperti dendeng Juragan Suro," pikirnya. Namun, harapan tinggal harapan. Tahu itu justru menyusut menjadi keriput, warnanya berubah menjadi kecoklatan yang kusam, dan rasanya menjadi sangat masam karena proses fermentasi yang berlebihan.
Dalam keputusasaannya, Arya teringat pesan mendiang ibunya. "Jika akalmu buntu, kembalilah pada alam. Tanyakan pada gunung yang memayungi kita, dan sungai yang meminumkan airnya untuk kita."
Arya bangkit. Matanya menatap puncak Gunung Wilis yang tampak samar di kejauhan, disinari cahaya bulan purnama. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus pergi ke sana. Malam itu juga, dengan berbekal tekad yang tersisa, Arya memutuskan untuk mendaki kaki Gunung Wilis. Ia ingin mencari jawaban yang tidak bisa ditemukan di dapur sempitnya.
Gunung Wilis pagi itu diselimuti kabut tebal. Udara dingin menusuk tulang, namun aroma hutan yang basah memberikan ketenangan. Arya berjalan melewati pohon-pohon pinus raksasa dan semak belukar. Perjalanan mendaki kaki Gunung Wilis bukanlah perkara mudah. Arya harus menembus hutan belantara yang masih perawan. Akar-akar pohon raksasa menjalar di tanah seperti ular piton yang sedang tidur. Udara semakin dingin menusuk tulang seiring langkahnya yang mendaki semakin tinggi. Suara burung hantu dan auman macan tutul terdengar sayup-sayup, menguji nyalinya.
Ia sampai di sebuah mata air tersembunyi, tempat air jernih keluar dari celah bebatuan berlumut. Di sana, ia melihat seorang perempuan tua sedang berjongkok. Punggungnya bungkuk, rambutnya putih memanjang seperti akar pohon beringin, namun tangannya cekatan mencabut tanaman liar. Rambutnya putih panjang terurai menyentuh tanah, dan pakaiannya terbuat dari kain lurik lusuh namun bersih.
"Nek..." sapa Arya ragu-ragu, suaranya bergetar karena dingin dan takut.
Wanita tua itu, yang oleh penduduk sekitar sering disebut sebagai Mbok Wilis, penjaga spiritual gunung, berhenti bekerja. Ia menoleh perlahan. Wajahnya penuh kerutan, namun matanya bersinar tajam setajam mata elang, seolah mampu membaca seluruh isi hati Arya.
"Kau datang jauh-jauh membawa aroma kedelai dan keputusasaan, Anak Muda," suara Mbok Wilis terdengar serak, bergema aneh di tengah lembah sunyi itu. "Apa yang kau cari di kebunku?"
Arya menjatuhkan dirinya berlutut. Ia menceritakan segala keluh kesahnya. Tentang sayembara raja, tentang tahu putihnya yang rapuh, dan tentang ejekan Juragan Suro. "Saya ingin membuat tahu yang kuat, Nek. Yang bisa dibawa merantau jauh tanpa hancur. Tapi sepertinya kodrat tahu memang lemah,” ucap Arya dengan suara parau.
Mbok Wilis terkekeh. Suaranya seperti gesekan daun bambu kering. Ia berjalan mendekati Arya, lalu mencabut sebatang tanaman rimpang dari tanah hitam yang gembur. Ia mematahkan rimpang itu di depan wajah Arya.
Krak.
Warna oranye yang menyala terang seketika terlihat kontras dengan tanah yang gelap. Aroma segar yang khas menyeruak masuk ke hidung Arya.
"Kau salah, Ngger (Nak). Tidak ada ciptaan Tuhan yang lemah. Yang ada hanyalah, kau belum menemukan pasangannya," ujar Mbok Wilis bijak. "Lihatlah ini. Orang-orang bodoh menggali tanah mencari emas logam yang memicu perang. Padahal, emas sejati tumbuh subur di tanah ini."
Meskipun kebingungan, Arya mendekat. Bau tanah bercampur aroma segar dan sedikit pedas menyeruak. "Kunyit?"
"Ini adalah Cahaya Matahari yang diserap dan disimpan oleh bumi," jelas Mbok Wilis sambil menyerahkan segenggam rimpang kunyit gajah yang besar-besar itu kepada Arya. "Kunyit ini memiliki kekuatan untuk mengusir pembusukan. Ia adalah pengawet yang disediakan alam. Tumbuklah ini, ambil sarinya, dan mandikan tahu putihmu itu dengan sari emas ini."
Mbok Wilis menatap mata Arya lekat-lekat. "Sari kunyit ini akan merasuk ke dalam pori-pori kedelai, memeluknya erat, membuatnya padat, dan melindunginya dari kuman pembusuk. Tapi ingat satu hal lagi..." Wanita tua itu menunjuk ke arah aliran air yang mengalir turun ke lembah.
-- Bersambung--
