Kisah Putri Kaca Mayang
Cerita Rakyat dari Riau
Diceritakan kembali oleh: Susi R Setyorini
Pada zaman dahuu kala, di sebuah kerajaan yang tentram dan damai pulau Sumatra. Di hutan, kicauan burung pipit bersahutan menyambut pagi. Burung-burung itu hinggap di pohon tak jauh dari kamar sang putri. Putri cantik jelita itu bernama Putri Kaca Mayang. Ia adalah putri Kerajaan Gasib yang berada di tepian sungai Siak.
Kecantikan sang putri sudah termasyhur hingga ke negeri tetangga. Banyak pangeran yang jatuh cinta dan berniat meminangnya. Namun, mereka tidak memiliki keberanian karena Kerajaan Gasib memiliki panglima yang gagah berani.
Pagi itu, sang putri sedang bersolek di depan kaca. Ia akan berjalan-jalan keluar istana. Bersama dayang-dayangnya, Putri Kaca Mayang berjalan melintasi kerumunan warga. Banyak pemuda yang mengagumi kecantikan sang putri. Setiap berpapasan dengan penduduk, Putri Kaca Mayang membalas dengan senyuman. Selain cantik, Putri Kaca Mayang juga ramah dan baik hati.
Sementara itu, di istana kerajaan, Raja kedatangan tamu dari Kerajaan Aceh. Utusan panglima Kerajaan Aceh itu menyampaikan maksud kedatangannya yaitu ingin mempersunting Putri Kaca Mayang. Sang Raja mengangguk pelan seraya menghela napas panjang. Dengan bijaksana, Raja pun menyampaikan Putri Kaca Mayang belum ingin menikah.
Utusan Raja Aceh pun kembali ke kerajaan dengan tangan hampa. Para utusan lalu menyampaikan penolakan Raja Gasib tersebut.
“Aku tidak terima!” seru Raja Aceh dengan wajah merah padam. Raja Aceh sangat murka karena penolakan Raja Gasib. “Kita serang mereka!” Raja Aceh lalu menyusun rencana penyerangan ke Kerajaan Gasib.
Sebaliknya, Raja Gasib sudah mengira akan ada penyerangan dari Raja Aceh setelah keinginannya ditolak. Raja Gasib lalu memerintahkan Panglima Gimpam untuk menjaga wilayah Kerajaan Gasib dari serangan Kerajaan Aceh. Namun sayang, siasat mereka diketahui oleh mata-mata yang dikirim Kerajaan Aceh.
Kerajaan Aceh bersiap untuk menyerang Kerajaan Gasib melalui jalur lain. Dalam perjalanan, pasukan Kerajaan Aceh bertemu dengan seorang pemuda desa. Pemuda tersebut dipaksa untuk menunjukkan jalan pintas menuju Kerajaan Gasib. Awalnya sang pemuda menolak, tetapi pasukan Kerajaan Aceh yang berjumlah banyak tidak mampu untuk dilawannya. Akhirnya pemuda itu pun tunduk dan menunjukkan jalan pintas menuju Kerajaan Gasib.
Pasukan Kerajaan Aceh berhasil masuk wilayah Kerajaan Gasib dan memporakporandakan perkampungan. Banyak korban jiwa berjatuhan. Pasukan pun berhasil menerobos masuk ke istana dan membawa pergi Putri Kaca Mayang.
“Tolooong! Tolong aku, Ayah …!” pekik Putri Kaca Mayang sambil menangis. Ia terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun, apalah dayanya. Tubuhnya terlalu lemah untuk melawan cengkeraman prajurit Kerajaan Aceh sangat kuat.
Raja sangat gusar memikirkan nasib putrinya. Raja lalu mengutus Panglima Gimpam untuk membawa pulang Putri Kaca Mayang. Dengan gagah berani, Panglima Gimpam berangkat menuju Kerajaan Aceh.
Di tengah perjalanan, Panglima Gimpam dihadang dua ekor gajah. Panglima Gimpam tidak gentar. Dengan kesaktiannya, Panglima Gimpam mampu menjinakkan gajah-gajah tersebut. Akhirnya, Panglima Gimpam pun berhasil melawan pasukan Kerajaan Aceh dan membawa pulang Putri Kaca Mayang.
Namun sayang, dalam perjalanan pulang sang putri jatuh sakit hingga meninggal dunia. Raja Gasib sangat terpukul dan bersedih. Putri semata wayangnya telah pergi. Hidupnya terasa sepi. Raja pun memilih untuk menyepi dan meninggalkan Kerajaan Gasib. Pemerintahan kerajaan diserahkan kepada Panglima Gimpam.
Suatu malam, di bawah sinar bulan, Panglima Gimpam merenung. Ia sangat hormat dan setia kepada sang raja. Panglima Gimpam merasa tidak pantas mengemban tugas negara dan menjadi raja, sedangkan sang Raja sedang bersedih. Panglima Gimpam pun akhirnya pergi meninggalkan Kerajaan Gasib dan membuka perkampungan baru yang diberi nama Pekanbaru. (*)
"Kesetiaan seorang Panglima kepada sang Raja."
Pesan Moral: Tidaklah elok memaksakan kehendak.
— Selesai —
Telah diterbitkan dalam antologi Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara 1, Penerbit SIP Publishing, 2025
