Kumi dan Lala si Jalak Suren
Oleh: Susi R Setyorini
30/11/2025
Kumi si kura-kura berjalan seorang diri sepulang sekolah. Teman-temannya sudah pulang sejak setengah jam lalu. Dia berjalan pelan dengan kepala tertunduk, wajahnya terlihat sedih.
Di tengah perjalanan, Kumi mendengar suara derap kaki kuda dari kejauhan. Sambil meringkik, Kubi, si kuda, berlari sambil berteriak, “Minggir, Kumi! Aku mau lewat.” Kubi berteriak sambil tertawa.
Kumi menghentikan langkahnya. Kumi memilih berhenti dan membiarkan Kubi berlari mendahuluinya. Tampak ekor panjang Kubi bergerak mengikuti irama kakinya.
Sepeninggal Kubi, debu dan dedaunan kering ikut beterbangan. Napas Kumi menjadi sesak. Dia lalu menutup mulutnya beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanannya.
Kumi berjalan melewati kebun wortel milik Paman Kelinci. Bibi dan Paman Kelinci sedang membersihkan kebun miliknya. Bibi Kelinci yang melihat Kumi bersedih menyapanya, “Kumi, kenapa kamu terlihat sedih?”
Kumi berhenti sebentar di pinggir pagar. Sebelum Kumi bercerita, tiba-tiba Cici anak Paman Kelinci berteriak dari pintu rumah. “Kumi tadi dipanggil Bu Guru, karena terlambat sekolah,” ucapnya.
Wajah Kumi memanas. Kumi malu sekali. Ucapan Cici membuat Kumi semakin sedih.
“Sstt, Cici, tidak boleh menertawakan teman seperti itu, tidak baik,” ucap Bibi Kelinci.
Cici menutup mulutnya dan berlari masuk ke rumah sebelum kedua orang tuanya memberinya nasihat panjang lebar. Sementara itu, Kumi tertunduk sedih. Dia lalu melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Sudah seminggu Kumi tinggal seorang diri. Kedua orang tuanya sedang ke kampung sebelah menjenguk Nenek yang sedang sakit. Selama seminggu itu pula Kumi kesulitan bangun pagi. Biasanya Ibu yang selalu membangunkannya.
Sepanjang perjalanan pulang, Lala si burung Jalak Suren mengikutinya. Dia memperhatikan Kumi yang berjalan tertunduk sejak keluar dari halaman sekolah tadi.
Sesampainya di rumah, Kumi membuka pintu rumah dan duduk termenung di depan jendela. Tangannya menopang dagunya sambil menatap jalan. Dia merindukan kedua orang tuanya. Coba ada Ayah dan Ibu, pasti aku tidak akan terlambat berangkat sekolah, begitu pikirnya.
Tiba-tiba Lala mengetuk kaca jendela dengan paruhnya. Kumi terperanjat. Dia lalu membuka jendela dan menyapa Lala.
“Hai, La,” sapa Kumi dingin. Wajahnya masih terlihat sedih.
“Kenapa kamu sedih?” tanya Lala.
“Kenapa aku tidak bisa jalan secepat yang lain ya, La. Bisa melompat seperti Cici, atau berlari kencang seperti Kubi?” keluh Kumi.
“Kenapa kamu berpikiran begitu?” tanya Lala. Lala tidak mengerti maksud ucapan Kumi barusan.
“Setiap hari aku terlambat sekolah, La. Aku malu dipanggil Bu Guru setiap hari,” ucap Kumi dengan mata berkaca-kaca.
Lala mengangguk-angguk tanda memahami sesuatu. Ternyata ini yang membuat Kumi bersedih dan murung sejak pulang sekolah tadi.
Lala berpikir sejenak. Aha! Tiba-tiba Lala punya ide cemerlang. Dia lalu berbisik di telinga Kumi. Kumi tampak tersenyum gembira. Kedua jempolnya diacungkan ke arah Lala.
Esok harinya, sebelum matahari terbit, Lala terbang dan hinggap di jendela kamar Kumi. Dia mengetuk-etuk jendela membangunkan Kumi. Kumi yang mendengar suara ketukan di jendela pun terbangun. Bergegas Kumi mandi dan menyiapkan peralatan sekolahnya.
Kumi berangkat lebih pagi dari biasanya. Berkat Lala, Kumi bangun lebih cepat dari sebelumnya. Lala mengikuti Kumi berjalan hingga sekolah. Dua sahabat itu bercerita sepanjang jalan sambil bergurau. Sekarang, Kumi tidak bersedih lagi.
Akhirnya, Kumi sampai di sekolah sebelum Bu Guru dan teman-temannya datang. Kumi tidak terlambat lagi. Sebelum terbang meninggalkan Kumi, Lala pun berkata, “Selamat belajar, Kumi. Jangan sedih lagi, ya!”
Kumi melambaikan tangannya seraya berkata, “Terima kasih, Lala ….”
Airmolek, 8 September 2025
Telah diterbitkan dalam antologi, Kisah dari Negeri Fauna, penerbit Babad Bumi
Telah mengalami perbaikan judul
— Tamat —
