Legenda Tahu Emas
Cerita Rakyat dari Kediri, Jawa Timur
Diceritakan kembali oleh: Dian Novitasari
Jauh sebelum masa kini, tatkala Pulau Jawa masih diselimuti hutan-hutan yang lebat dan misterius, Kerajaan Panjalu, atau yang kelak dikenal sebagai Kediri, berdiri tegak sebagai pusat peradaban. Di bawah naungan Prabu Sri Aji Jayabaya, kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya. Sawah-sawah terhampar laksana permadani hijau zamrud yang tak bertepi, sementara Sungai Brantas mengalir deras bagaikan naga perak yang membelah tanah, membawa kesuburan dari hulu hingga ke hilir.
Namun, kemakmuran itu tidak serta merta membuat Sang Prabu tidur nyenyak. Di dalam bilik semedinya yang sunyi, yang hanya diterangi oleh pelita minyak jarak yang berkedip lemah, Prabu Jayabaya sering kali termenung. Matanya yang tajam, yang konon mampu menembus tabir waktu, melihat bayang-bayang masa depan yang kelabu. Ia melihat masa di mana rakyatnya akan melakukan perjalanan jauh, masa di mana paceklik mungkin datang tanpa diundang, dan masa di mana perang akan menuntut ketahanan fisik yang luar biasa.
Malam itu, bulan menggantung pucat di atas langit Kotaraja Daha. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga sedap malam yang bercampur dengan wangi dupa cendana dari dalam istana. Suasana di Pendopo Agung terasa hening, mencekam, berbeda dari malam-malam biasanya yang dimeriahkan oleh alunan gamelan.
Di tengah pendopo yang diterangi oleh ratusan pelita minyak itu, Prabu Sri Aji Jayabaya duduk termenung di atas singgasana kayunya yang berukir naga. Di hadapannya, duduk bersila tiga orang kepercayaan kerajaan, yaitu Mahapatih Dwipangga, Senopati Ageng Wiraraja, dan Penasihat Spiritual Kerajaan, Mpu Sedah.
Wajah Sang Prabu tampak keruh, seolah sedang memikul beban langit di pundaknya. Mahapatih Dwipangga, memberanikan diri membuka suara, memecah keheningan yang menyesakkan itu. “Ampun beribu ampun, Gusti Prabu. Sudah tiga malam Paduka sepertinya kurang tidur. Lingkaran hitam di mata Paduka membuat hamba dan rakyat cemas. Gerangan apa yang mengganggu pikiran Paduka? Apakah ada kabar pemberontakan di perbatasan? Atau apakah akan ada bencana banjir yang membuat bendungan Sungai Brantas jebol?”
Prabu Jayabaya menghela napas panjang. Ia berdiri, langkahnya gontai menuju tepi pendopo, menatap kegelisahan malam. “Paman Patih,” suara Jayabaya terdengar berat. “Bukan musuh berpedang yang kutakutkan. Bukan pula banjir bandang. Tapi bayang-bayang masa depan yang melintas di mataku saat meditasi.”
Mpu Sedah, sang pendeta tua yang bijak, mengangkat wajahnya sedikit. “Wangsit apa yang Paduka terima? Apakah tentang adanya Jaman Kuwalik? Masa di mana tatanan dunia berjungkir balik?”
Jayabaya mengangguk perlahan. "Aku melihat masa di mana Nusantara akan disatukan, Paman. Tapi jalan menuju ke sana tidaklah mulus. Aku melihat prajurit-prajurit kita harus berjalan ribuan kilo, menembus hutan lebat dan menyeberangi lautan ganas. Aku melihat rakyat kita harus mengungsi karena bencana alam. Dalam penglihatan itu, aku melihat mereka jatuh satu per satu. Memikirkannya membuatku sulit memejamkan mata beberapa hari ini.”
Senopati Wiraraja terenyak, “Apakah prajurit-prajurit kita akan jatuh karena panah musuh?” tangannya memegang gagang keris di pinggangnya, menunjukkan kewaspadaan tinggi.
“Bukan, Wiraraja,” sanggah Raja. “Mereka jatuh karena lapar. Mereka jatuh karena bekal yang mereka bawa membusuk di tengah jalan. Nasi menjadi basi dalam sehari, buah-buahan menjadi busuk, dan daging mentah mengundang lalat dan ulat.”
Suasana kembali hening. Ketiga pejabat kerajaan itu saling pandang. Masalah logistik memang sering menjadi mimpi buruk dalam setiap ekspedisi militer maupun perpindahan penduduk. "Hamba mengerti kegelisahan Paduka," kata Senopati Wiraraja dengan suara lantang. "Namun, bukankah kita sudah memiliki dendeng? Daging rusa dan sapi yang dikeringkan dengan garam. Itu tahan berbulan-bulan, Gusti. Itu makanan para ksatria."
Jayabaya menggeleng lemah. "Dendeng itu barang mewah, Senopati. Hanya kaum ningrat dan perwira yang mampu membelinya. Rakyat jelata? Mereka tak punya sapi untuk dipotong. Lagipula, dendeng itu keras. Orang tua dan anak-anak akan kesulitan mengunyahnya. Dan sifatnya yang asin membuat prajurit cepat kehausan di medan laga."
"Kalau begitu, manisan buah kering?" usul Mpu Sedah. "Kita bisa menjemur mangga dan nangka agar awet dan bisa dimakan selama perjalanan jauh. Makanan kering juga bisa disimpan untuk mencegah bencana kelaparan.”
"Terlalu manis, Mpu," jawab Raja cepat. "Gula membuat tubuh cepat lelah jika dimakan berlebihan. Kita butuh sesuatu yang gurih, yang membumi, yang bisa menggantikan nasi tapi lebih ringkas."
Mahapatih tampak berpikir keras, keningnya berkerut. "Ampun, Gusti. Bagaimana kalau kita adakan sayembara ke seluruh pelosok Panjalu. Dari lereng Gunung Wilis hingga daerah pesisir utara.”
Jayabaya sejenak menatapnya, kemudian berkata, “Ide bagus sekali Paman Patih. Segera cari siapa saja, entah itu empu sakti, juru masak istana, atau rakyat jelata sekalipun, yang bisa membuat makanan yang kuat dan berguna untuk keperluan perbekalan para prajurit. Siapapun yang sanggup mewujudkannya, akan kuangkat derajatnya dan karyanya akan menjadi pusaka Kediri hingga akhir zaman.”
“Sendika dawuh (siap laksanakan), Gusti Prabu!” seru ketiga abdi itu serempak sambil menyembah.
***
Keesokan harinya, titah raja pun turun. Bentara kerajaan berkuda ke seluruh penjuru desa, membacakan maklumat yang ditulis di atas daun lontar. Suara gong ditabuh bertalu-talu, mengumpulkan rakyat di alun-alun setiap desa. Isi sayembara itu sederhana tetapi menantang. Siapapun yang mampu menciptakan makanan olahan baru dari hasil bumi Kediri, yang memiliki sifat tahan lama, tidak mudah hancur, dan mampu memberi kekuatan seketika, akan diangkat derajatnya menjadi Abdi Dalem Juru Masak Istana.
— Bersambung —
