Tutu, si sepatu kets yang baik hati mulai bosan. Hampir enam bulan ia tidak pernah ke luar dari rak sepatu. Warna birunya pun sudah ditutupi debu.
Padahal Tutu ingin seperti Popo dan Zeze, dua temannya. Mereka sering dipakai untuk melihat dunia luar. Sementara ia di sini hanya teronggok dengan status tidak jelas.
“Kasihan ya. Kamu seperti tidak berguna lagi,” ledek Popo yang baru pulang dari sekolah. Tutu tersenyum tipis dan mencoba menenangkan hatinya Di sampingnya, Zeze si sneakers pink, memandangnya dengan perasaan jijik.
“Awas ya, kalau debu kamu kena ke tubuhku!” ancam Zeze.
“Iya. Ma..maaf,” jawab Tutu gugup. Ia juga tidak menginginkan tubuhnya kotor. Tapi Nona, pemilik mereka memang tidak pernah membersihkannya. Kalau mau dipakai saja, baru dibersihkan. Anak kelas 5 SD itu memang sedikit pemalas.
***
Hampir setiap malam, Popo dan Zeze selalu bercerita tentang pengalaman mereka. Sebenarnya Tutu senang mendengarkannya. Tapi ujung-ujungnya mereka sering membuat Tutu bersedih.
“Tiap keluar selalu saja ada cerita seru,” kata Zeze.
“Wah, asyik, dong! Nggak kebayang kalau tidak pernah keluar. Pasti membosankan,” sambungnya sambil melirik Tutu.
“Iya, sih! Seperti nggak dianggap. Menyedihkan sekali!” pungkas Popo. Tutu diam saja. Tak ada gunanya membalas kata-kata mereka, pikir Tutu.
***
Minggu pagi, mereka melihat Nona dan Nela, temannya, memasuki kamar. Beberapa saat kemudian, Nona meraih Tutu dan memberikan pada Nela. Nela memasangkan Tutu di kedua kakinya.
Nona mengacungkan kedua ibu jarinya. Nela senang dan segera memasukkan Tutu ke kantong plastik. Ia lalu mengibas-ngibas tangannya yang kotor karena debu Tutu. Popo yang melihat tertawa sinis.
“Haha… Tutu, Tutu, manusia saja malas memegangmu.”
“Aku pergi, ya. Aku sayang kalian,” kata Tutu tanpa menanggapi perkataan Popo.
“Selamat jalan Tutu,” teriak Zeze. “Semoga kamu tidak berakhir di tempat sampah!”
Tutu tersenyum kecut. Walaupun sering dibikin kesal, tapi ia sedih juga meninggalkan dua temannya. Selamat tinggal Popo, Zeze, lirih Tutu dari dalam plastik.
***
Sesampainya di rumah Nela yang sederhana, Tutu segera dibersihkan. Nela menggunakan sabun cuci piring dan air hangat.
Setelah bersih-bersih, Tutu dimasukkan ke sebuah lemari yang rapi dan wangi. Bukan main senangnya hati Tutu. Ia tidak khawatir berdebu lagi.
Walaupun Tutu sendirian, tapi ia tidak pernah kesepian. Hampir tiap hari ia selalu mendengar Nela bernyanyi. Suaranya merdu sekali.
Suatu hari, Nona membawa Zeze ke sebuah gedung pertunjukan.
“Horee… jalan-jalan lagi. Nggak mungkin ke gedung pertunjukan pakai sepatu sekolah,” goda Zeze memanasi Popo.
Sesampainya di gedung pertunjukan, Zeze melihat sudah ramai pengunjung. Zeze senang berjumpa dengan teman baru. Sebentar-sebentar Zeze menyapa mereka.
“Hai..hai… Aku Zeze. Salam kenal. Salam kenal.” Beberapa sepatu membalas sapaan Zeze. Nona ingin ke depan biar lebih dekat dengan panggung. Ia membawa Zeze merangsek maju.
“Maaf, maaf,” Zeze tak henti-hentinya meminta maaf. Sepatu-sepatu lain menggerutu dengan ulah Zeze. “Norak!” kesal beberapa sepatu. Zeze tidak peduli.
Akhirnya Zeze bisa juga ke depan. Walaupun tidak berhadapan langsung, tapi ia leluasa melihat panggung. Saat seorang gadis kecil bernyanyi, Zeze segera mengenali sosok itu. Itu kan, Nela, yang membawa Tutu, gumam Zeze.
Saat melihat ke arah sepatu, ia makin terkejut. Tutu. Itu kan Tutu, jerit Zeze tertahan. Kenapa dia bisa di situ? Di atas panggung lagi, pikirnya.
Penampilan Tutu menarik sekali, apalagi warnanya sesuai dengan gaun yang dipakai Nela. Zeze mendengar banyak sepatu memuji Tutu. Nona juga memuji Tutu. Duh, sakitnya hati Zeze walaupun ia mengakui jika Tutu layak dipuji.
Tutu yang berada di atas panggung ikut bangga. Ia tidak menyangka bakal mendapat kesempatan berharga ini. Dulu ia hanya punya impian bisa keluar dari rak sepatu. Tapi kini ia mendapatkan lebih dari itu.
Tiba-tiba ia melihat Zeze.
“Zeze…Zeze…,” teriaknya.
“Tutuu… Kamu keren sekali,” puji Zeze. Kali ini ia mencoba untuk tidak berpura-pura.
Selesai bernyanyi, Nela segera menghampiri Nona. Dan, Tutu bisa berdekatan dengan Zeze yang terlihat sungkan.
“Tu, malam hari ini kamu luar biasa. Aku minta maaf selama ini sering meremehkanmu.”
“Aku rindu Popo. Semoga suatu saat kita bisa bercerita lebih lama,” jawab Tutu mengalihkan pembicaraan.
Saat Nona dan Nela berbincang hangat, Tutu dan Zeze pun tak mau ketinggalan. Kini Zeze mengakui jika Tutu lebih baik dari dirinya. Kekaguman Zeze juga makin bertambah karena Tutu tidak berubah. Tutu tetap ramah dan baik hati.***
