Tian, gadis manis 8 tahun berambut ikal itu sedang senang. Pagi ini Ibu beri kabar gembira. Ibu bilang, hari Sabtu Tante Mia dan Om Burhan akan datang ke rumah mereka. Tante Mia adalah adik Ayah. Tante Mia dan Om Burhan baru menikah satu bulan yang lalu. Tian sudah rindu dengan tantenya itu. Waktu masih kuliah, Tante Mia sering menginap di rumah Tian saat liburan.
“Tian senang, kan?” tanya Ibu.
“Senang kali, Bu,” angguk Tian mantap. Binar kegirangan terpancar dari mata bulatnya. Kata Ibu, Tante Mia hanya dua hari di rumah mereka. Padahal Tian berharap tantenya bisa menginap lebih lama.
“Om Burhan kan harus kerja,” Ibu memberi alasan.
“Oh ya, nanti Tian tidur di kamar ujung ya,” sambung Ibu.
Tian terkejut. Ia tidak menyangka ibunya akan berkata demikian. Tidur di kamar ujung? Oh, tidak! Tian tidak suka dengan kamar ujung.
. Sebenarnya kamar ujung itu bersebelahan dengan kamar Tian. Kamar itu selalu terbuka. Ibu juga sering keluar masuk kamar itu. Ukurannya sama dengan kamar Tian. Tapi bagi Tian kamar itu sempit, karena banyak kain setrikaan yang menumpuk. Ditambah lagi beberapa kotak bekas air mineral berjejer di sudut kamar. Isinya mainan Tian semasa kecil dulu. Ah, pokoknya aku tidak mau tidur di kamar itu, gumam Tian.
“Tante saja yang tidur di situ, Bu,” usul Tian.
“Enggak muat, sayang,” kata Ibu sambil mengusap kepala Tian. Ujung mata Ibu melirik putrinya yang masih cemberut. Tian sebenarnya paham, karena tempat tidurnya hanya cukup untuk satu orang.
“Nanti pelan-pelan akan Ibu bersihkan kamar itu,” hibur Ibu. Tian mengangguk lega.
Hari berganti, tapi Tian tidak melihat kamar ujung dibenahi. Apa Tante Mia tidak jadi datang? tanyanya dalam hati. Perasaan Tian bercampur antara sedih dan senang. Sedih karena ia sangat ingin berjumpa dengan Tante Mia. Senang karena ia tidak jadi tidur di kamar ujung.
Suatu sore, Ibu membuat camilan. Padahal biasanya camilan sering dibuat Ibu di hari Minggu. Apakah Tante Mia datang malam ini? Ini kan masih Kamis. Kalau iya, bagaimana dengan kamar ujung? Mengapa belum dibenahi juga? Atau Tante Mia tidak jadi menginap? Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Tian. Karena ingin tahu, akhirnya Tian pun bertanya pada Ibu.
“Bu, Tante Mia datang malam ini ya?”
“Enggak. Hari Sabtu nanti,” jawab Ibu.
Tian bernapas lega dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia pun segera berlalu. Melewati kamar ujung, Tian mendengar suara Ayah memanggilnya. Tapi pintu kamar itu tertutup. Tian jadi ragu dan takut.
“Tian, Tian.”
Setelah yakin ayahnya yang memanggil, Tian pun membuka pintu kamar. Begitu dibuka, ia dibuat takjub. Tian seperti berada di kamar lain. Kamar ujung ‘disulap’ Ayah menjadi sangat apik. Tidak ada lagi mainan dan setrikaan yang menumpuk. Ia langsung naik ke tempat tidur.
“ Ayah, bagus sekali,” puji Tian. Ia mengusap lembut seprai warna biru bermotif bunga. Biru kan warna favorit Tian. Duh, hati Tian jadi berbunga-bunga. Di sisi kiri tempat tidurnya ada lemari kecil setinggi meja. Dilapisi taplak meja senada warna seprai. Sebuah kipas angin yang diapit foto dan lukisan dinding makin mempercantik kamar.
Ayah memasang karpet biru untuk menutupi lantai yang belum dikeramik. Ada jemuran kecil tempat handuk, kain sarung, dan sajadah.
“Ini kamar Tian, kan, Yah?” tanya Tian.
“Bukan. Tapi Tian nggak mau tidur di sini,” goda Ayah
“Ih, Ayah. Nanti malam Tian tidur di sini. Tian suka. Tapi, kapan Ayah bersihkan kamar ini?” tanya Tian penasaran.
“Tadi malam, saat semua sudah tidur. Hari ini, Ayah hanya merapikannya saja.”
Ayah lalu meninggalkan Tian sendiri. Ayah bercerita pada Ibu bahwa Tian menyukai kamar ujung. Ibu ikut senang tapi tetap khawatir jika Tian berubah pikiran.
Malam harinya, Tian benar-benar menepati janjinya. Ia tidur di kamar ujung. Malah ia ingin tetap di situ meski Tante Mia sudah pulang. Kekhawatiran Tian tentang kamar ujung tidak terbukti. Dulu ia ragu, tapi sekarang sudah mantap..***
