Arkan adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Rambutnya keriting dan matanya bulat. Umur Arkan baru 6 tahun dan duduk di bangku taman kanak-kanak.
Ramadhan tahun ini, Ibu dan Ayah akan mengajarkan Arkan berpuasa.
“Arkan, besok Ibu bangunkan sahur, ya. Kita puasa,” ajak Ibu di suatu sore yang cerah.
“Iya, Bu. Arkan mau puasa setengah hari aja. Kayak Kak Nafsi dan Bang Ali.”
“Lho, kok, setengah hari?” Ibu pura-pura kaget.
“Kan umur Arkan masih enam tahun,” jawab Arkan sekenanya.
Ibu mengernyitkan dahi.
“Kalau bisa sampai Magrib kenapa harus setengah hari?” pancing Ibu. Arkan diam saja. Wajahnya tidak ceria lagi. Bayang-bayang haus dan lapar sudah memenuhi pikirannya.
“Nanti Arkan kelaparan. Bisa pingsan.” Jawaban Arkan membuat Ibu tersenyum.
“Kak Nafsi dan Bang Ali nggak pernah pingsan karena puasa. Jadi, besok Ibu bangunkan Arkan sahur. Ibu akan masak lauk kesukaan Arkan,” jelas Ibu. Arkan mengangguk mantap.
***
Pukul tiga, Ibu sudah menyiapkan makan sahur. Nafsi ikut membantu. Gadis manis kelas 7 itu meletakkan piring dan gelas di meja makan. Setelah semua beres, Ibu lalu membangunkan Ayah, sementara Nafsi membangunkan Ali dan Arkan.
“Bu, Arkan nggak mau bangun,” lapor Nafsi beberapa saat kemudian.
“Ya, sudah. Biar Ibu saja,” kata Ibu. Ibu pun menuju kamar Arkan.
“Arkan …Arkan…” Tangan ibu menepuk-nepuk lembut punggung Arkan. Tak lama Arkan menggeliat dan membuka matanya. Ibu lega. Namun tak lama mata Arkan kembali terpejam. Bukan hanya itu, badannya pun membelakangi Ibu. Sepertinya ia belum sepenuhnya sadar.
Ibu menarik nafas. Beliau mencoba membangunkan Arkan lagi. Dengan kelembutan yang sama, Arkan malah tetap bergeming. Nafasnya naik turun secara teratur. Pertanda tidurnya nyenyak sekali. Ibu jadi tidak tega.
Ibu menyerah. Beliau kembali ke dapur. Ayah melihat Ibu mengangkat bahu tanda tak berhasil membangunkan Arkan.
“Ya, sudah. Tidak apa-apa, besok kita coba lagi,” hibur Ayah.
“Enak betul, Arkan. Ali umur 5 tahun sudah diajak puasa.”
Tak ada yang memedulikan celotehan Ali. Semua sibuk dengan hidangannya masing-masing. Tiba-tiba Arkan muncul. Ia mengedip-ngedipkan matanya. Menguceknya sebentar lalu berkata :
“Arkan kok nggak dibanguni?”
“Huuu…!” Ali kelihatan gemas pada adiknya itu.
Ibu tertawa sembari mendekati Arkan. Lalu mengajaknya ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan muka. Tak lama, Arkan pun bergabung di meja makan. Sepiring nasi, sepotong ayam goreng, dan buah-buahan menemani sahur pertama Arkan.
***
Pukul sepuluh, Arkan mulai kehausan. Mondar-mandir ia mencari Ibu. Namun tak kunjung ditemuinya. Di teras hanya ada Ali yang sedang memperbaiki mobil-mobilannya yang rusak.
“Bang Ali, Ibu kemana?”
“Belanja ke warung,” jawab Ali.
Arkan cemberut. Ia ingin minum.
“Bang Ali, Arkan mau minum. Haus,” rajuk Arkan.
“Eh, jangan!” cegah Ali. “Nanti ibu marah,” sambung siswa kelas 4 itu.
Arkan lalu duduk di samping Ali. Ia mulai gelisah. Tapi tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia menanti Ibu sambil memperhatikan Ali. Lama kelamaan ia pun ikut sibuk. Apalagi Ali sering minta bantuannya. Arkan jadi lupa dengan hausnya.
Beberapa saat kemudian, Ibu pulang. Arkan menyambutnya dengan gembira.
“Ibuuu, Arkan minum ya?”
Ibu gundah. Harapannya hampir pupus untuk mengajari Arkan puasa.
Tiba-tiba dari teras, Ali menanggilnya.
“Dek Arkaan…, main mobilan, yuk!”
Tanpa menunggu jawaban ibunya, Arkan langsung berlari ke arah Ali. Ternyata bermain mobil-mobilan cukup menarik perhatian Arkan ketimbang rasa hausnya.
Beberapa saat kemudian ibu mengintip aktivitas Arkan dan Ali. Keduanya asyik berbincang sambil memegang mainan. Entah apa yang mereka bicarakan.
Siang hari Ibu mulai sibuk di dapur. Menyiapkan menu berbuka puasa dan hidangan makan malam. Nafsi ikut membantu Ibu.
“Arkan masih puasa, Bu?” tanya Nafsi.
“Masih. Sebentar Ibu lihat,” jawab ibu sambil berjalan menuju teras.
Ibu melihat Arkan masih bermain. Tapi tanpa Ali.
“Bang Ali mana?” tanya Ibu.
“Tadi shalat. Trus Arkan nggak tau lagi,” jawabnya polos.
Ibu segera kembali ke dapur, khawatir Arkan minta buka puasa sebelum waktunya.
***
Waktu pun berlalu tanpa terasa. Sore telah berganti petang. Arkan sudah bersih-bersih dan siap menanti waktunya berbuka puasa. Wajahnya lesu menahan lapar dan haus. Tapi ia masih bisa menahannya, apalagi jika melihat hidangan di meja makan.
Tak lama, beduk waktu Magrib terdengar.
“Syukuur,” ucap Arkan spontan. Ia minum beberapa teguk air. Ibu lalu mengajarkan Arkan doa berbuka puasa, “Dzahabaz zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.”
“Alhamdulillah, anak Ayah puasa pertamanya penuh,” puji Ayah.
“Besok puasa lagi, kan?” ajak Ibu penuh semangat.
Arkan menengok ke arah Ali. Di tangannya, satu kue dadar siap disantap.
“Yah, kata Bang Ali kalau puasa satu hari dikasi sepuluh ribu.”
Ayah memandang Ali. Ali senyum-senyum tanpa rasa bersalah. Jadi ini yang membuat Arkan kuat?
“Bang Ali bilang apa lagi?” selidik Ibu dengan nada bercanda.
“Kata Bang Ali, puasa itu enak. Dikasi duit, dikasi pahala sama Allah, banyak makanan,” jawab Arkan. “Yah, pas mandi tadi, badan Arkan segar kali,” sambungnya.
“Hayoo… Kamu ada minum airnya, ya!” tuduh Ali.
“Nggak!”
Semua tertawa mendengar jawaban spontan Arkan. Ibu senang, ternyata tidak sulit mengajar Arkan berpuasa. Apalagi selama ini, Arkan bukan anak yang doyan makan. Beberapa hal yang membuat Arkan semangat berpuasa sepertinya harus diluruskan. Semoga dengan bertambahnya umur, Arkan bisa memahami tentang Rukun Islam ketiga ini. ***
