Nasi Yang Menangis
Oleh: Mia Wahyuningsari
19/5/2026
"Lho, mau ke mana? Habiskan makanannya, nanti nasinya nangis"
Ini adalah suara ibu keseribu seratus empat puluh tujuh dari total seluruh ibu di dunia yang kudengar mengatakan hal demikian.
Aku tahu mereka berbohong dengan kesadaran penuh. Mereka mengatakan demikian agar anak-anak mereka mau menghabiskan kami, makanannya.
Nyatanya, aku tidak menangis. Aku justru merasa kasihan terhadap anak-anak itu. Aku tahu perut kecil mereka sudah terlalu penuh untuk dimasukan kami lagi ke dalamnya. Tapi di waktu yang berbeda, terkadang ada juga anak-anak yang pura-pura kenyang, menutup mulutnya rapat-rapat, lalu diam-diam mengeluarkan sepotong coklat dari balik saku celana mereka. Setelah itu, biasanya kami akan segera mendarat ke kantung makanan dalam perut orangtua anak-anak itu. Daripada mubazir, katanya.
Suatu hari, kami terlahir kembali setelah kembali ke tanah dan muncul sebagai biji-bijian yang mulai bertunas. Air tanah merasuki tubuh kami. Peluh petani terkadang mengalir ke sela-sela tanah yang digemburkan dengan telaten dan hati-hati.
Sambil menunggu masa panen tiba, kami saling bertukar cerita. Peristiwa apa yang sudah membawa kami dalam perjalanan panjang sebagai makanan, hingga kembali menjadi tanah dan mulai kehidupan baru lagi?
"Aku dan kawanku sempat dimakan sebentar. Namun seorang gadis mengorek mulutnya dan memuntahkan kami ke lubang kloset"
"Aku tadinya makanan prasmanan dari acara pernikahan yang dimakan sedikit, lalu dibuang begitu saja"
"Aku tidak sempat dimakan. Seorang anak laki-laki berteriak marah sambil melemparkan piringnya. Ia lebih menginginkan spageti"
Kami terdiam lama sekali.
Aku yang dulunya pernah dimakan dengan sangat lahap oleh pasangan suami istri sederhana yang terus berucap rasa syukur, tidak sanggup mengatakan apa-apa.
Salah satu dari kami mulai terisak. Aku pun tidak sanggup menahan air mata. Lama-lama, terdengar suara tangis yang memilukan di seantero ladang.
Hei, kau tahu? Ternyata para ibu itu benar. Percayalah, tangisan kami amat sangat kencang. Sayangnya, kalian tidak dapat mendengarnya.
— Tamat —
Cerita ini pernah diunggah di akun instagram pribadi @miawahyuu dalam event #3o haribercerita pada bulan Januari 2026
