Tapok Pipet
Oleh: Ziya Zhi
9/11/2025
Sepulang sekolah, teman-teman Ahmad bernama Adam, Gibran, Falih dan Ibnu telah menunggu di halaman rumah. Ahmad pun tak sempat makan, hanya berganti baju saja, lalu dia pun pergi bermain bersama teman-temannya.
“Kita main apa ya?” tanya Adam.
“Hmmm... Apa ya?” sambung Gibran lagi.
“Bagaimana kalau kita bermain Tapok Pipet saja,” ucap Ahmad.
“Wah, ide bagus. Cuma kita harus cari teman-teman lain, kalau hanya kita berlima saja permainannya jadi tidak seru,” sambung Falih.
“Atau kita ke taman saja dulu, sepulang sekolah biasanya teman-teman kita yang kelas tiga dan empat banyak bermain di sana,” imbuh Ibnu.
“Ide bagus, Ibnu.” Ahmad, Gibran, Falih dan Adam menjawab kompak.
Kemudian mereka pun pergi bersama-sama ke taman bermain, lokasinya dekat dengan kapal-kapal yang sedang berlabuh. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari rumah Ahmad, cukup berjalan kaki saja dalam waktu dua menit mereka semua telah sampai.
Setelah mereka sampai ke taman. Rupanya banyak teman-teman dari mereka yang sedang bermain. Ada yang bermain prosotan, ayunan dan ada juga yang berlari-larian ke sana ke mari.
Ahmad, Gibran, Falih, Ibnu dan Adam pun menghampiri teman-teman yang satu sekolahan itu. Mereka mengajak satu per satu teman-temannya. Ada lima orang yang mau ikutan bermain Tapok Pipet. Ada Aqmar, Farzan, Malik, Bayu dan Sani. Jadi keseluruhannya ada sepuluh orang. Mereka semua pun berjalan ke sebuah lahan yang tak begitu besar, di mana di sekitaran lahan tersebut banyak drum-drum kosong dan bekas peti-peti ikan.
Untuk memulai permainan, Ahmad pun bersuit dengan menyebut gunting, batu, kertas. Karena jumlah mereka ada sepuluh orang, Ahmad pun bersuit secara berulang sampai menemukan siapa yang kalah. Jika dalam bersuit semuanya menang dan ada salah satu yang kalah, salah seorang itulah yang akan berjaga.
Pada akhirnya Gibran kalah dalam suit, dan dialah yang berjaga. Gibran kemudian berdiri pada sebuah pohon yang tinggi menjulang, dengan menyilangkan ke dua tangannya pada batang pohon itu, lalu wajahnya disembunyikan di balik kedua tangannya. Gibran pun mulai menghitung. 1... 2... 3... sampai sepuluh. Ahmad dan yang lainnya pun bergegas bersembunyi mencari tempat-tempat yang sulit dicari.
Setelah hitungan selesai, Gibran pun mulai mencari teman-temannya. “Yeeiii... Ibnu dapat,” sorak Gibran kegirangan setelah mendapati Ibnu yang bersembunyi di balik drum kosong. Gibran pun bergegas ke tempat jaga dan memukul batang pohon satu kali dengan menyebut pipet, menandakan bahwa Ibnu telah ditemukan.
Gibran pun kembali melanjutkan pencariannya. Ibnu tertangkap, artinya masih ada delapan orang lagi yang harus dicari.
Setelah puas mencari sampai sekeliling area. Pada akhirnya, Gibran menemukan teman-temannya satu persatu antara lain, Ahmad, Falih, Aqmar, Farzan, Malik, Bayu, Sani. tinggal Adam yang belum ditemukan.
“Kemana ya si Adam?” gumam Gibran sambil menyibak semak belukar, barangkali Adam bersembunyi di dalam semak.
Pipet...
Tiba-tiba terdengar suara Adam berseru di tempat jaga. Gibran pun menghela napas berat, itu artinya Gibran kalah dan kembali berjaga.
“Kamu sembunyi di mana sih Adam, aku sulit sekali menemukanmu,” imbuh Gibran kesal.
“Ada deh, emang dasar kamu saja yang tidak bisa menemukanku,” balas Adam.
“Sejak kapan kamu sudah berlari ke tempatku jaga?” tanya Gibran lagi.
“Saat kamu mencariku-lah, aku berjalan mengendap-ngendap ke tempat jaga, agar langkahku tak terdengar olehmu. Kalau aku berlari sekuat tenaga, kamu pasti bisa mengejarku, itu sama saja aku bunuh diri,” jawab Adam lagi.
“Iya, Gibran, kami semua lihat kok Adam jalan mengendap ke tempat jaga. Cuma kami kan tidak bilang padamu,” sambung Falih.
“Aku berhenti main ah, masa’ aku lagi yang jaga.” Gibran duduk di sebatang pohon yang tumbang.
“Tidak boleh begitu Gibran, kan perjanjiannya siapa yang dapat terakhir dengan menyebut pipet yang jaga kalah dan kembali berjaga.” Aqmar mengingatkan.
“Salah sendiri, kenapa Adam sembunyinya di tempat yang sulit,” kata Gibran.
“Kamunya saja yang tidak bisa menemukanku,” sambung Adam.
“Iya Gibran, lagi pula inikan hanya permainan.” Sani coba menenangkan Adam dan Gibran.
“Atau begini saja, kita main lagi dengan Gibran yang kembali jaga. Jika ternyata Gibran lagi-lagi tidak menemukan salah satu diantara kita yang terakhir dan Gibran kembali kalah, kita sudahi saja permainan tapok pipet ini,” kata Ahmad.
“Kami setuju....” Mereka semua menjawab kompak, kecuali Gibran.
“Bagaimana Gibran?” tanya Ahmad lagi.
“Baiklah aku setuju,” jawab Gibran setelah berpikir panjang.
Mereka pun kembali memulai permainan Tapok Pipet dengan penuh semangat.
'Tapok Pipet : Permainan tradisional Kampung Sukadana
— Tamat —
