Nenek sangat suka membaca. Hobinya itu membuat koleksi buku bacaannya mencapai ratusan.
Setiap hari Nenek selalu meluangkan waktu untuk membaca, Namun, jika sudah asyik membaca, Nenek sering lupa waktu. Bahkan Nenek dapat membaca lebih dari tiga buku dalam sehari. Repotnya, Nenek sering lupa sampai di mana dia menyelesaikan bacaannya. Kalau sudah begitu, Mizuki pasti akan kerepotan membantu nenek mencari halaman yang dibaca sebelumnya.
"Baca bukunya satu-satu, dong, Nek. Selesaikan dulu buku yang pertama, baru pindah ke buku berikutnya," komentar Mizuki.
"Habis Nenek penasaran dengan buku yang lain," jawab Nenek. "Tapi, baiklah, saran cucuku yang cantik akan Nenek laksanakan."
Minggu depan, Nenek akan berulang tahun. Seperti biasa, Nenek pasti akan mendapat kado buku dari semua cucunya. Sore itu, mereka mengadakan rapat soal hadiah untuk nenek di halaman belakang rumah Mizuki.
"Aku akan membelikan Nenek novel yang baru. Nenek kan suka membaca novel," kata Alif, cucu pertama nenek.
"Aku akan memberikan Nenek buku memasak saja. Nenek kan suka memasak," ujar Rani, adik Alif.
"Aku tahu buku yang bagus buat Nenek," cetus Jimmy, sepupu mereka. "Buku biografi."
"Kamu ingin memberikan buku apa, Mizuki?" Alif menatap Mizuki.
"Iya, kamu mau ngasih buku apa?" tanya Rani dan Jimmy, hampir bersamaan.
Mizuki memandangi sepupu-sepupunya dan tersenyum. "Aku masih memikirkannya. Tapi aku pasti akan memberikan kado yang bagus buat nenek.”
Hari ulang tahun Nenek tiba. Semua anggota keluarga berkumpul di rumah Nenek untuk merayakan. Betapa gembiranya nenek ketika satu per satu cucunya memberikan hadiah.
"Ini dari aku, Nek." Alif memberikan hadiah buku novel yang sangat tebal. "Semoga Nenek suka."
"Ini buku dariku, Nek." Kali ini giliran Rani. "Semoga Nenek tambah senang memasak buat kami."
"Nek, aku membelikan Nenek buku "Seratus Tokoh Dunia”. Nenek pasti suka," ujar Jimmy yakin.
Wajah Nenek berbinar-binar menerima hadiah-hadiah dari cucu-cucunya itu. "Terima kasih, ya. Wah, buku Nenek tambah banyak, nih."
"Mizuki, mana kadomu?" Rani menoleh kepada Mizuki.
Mizuki tersenyum sebentar penuh rahasia. Lalu ia menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna cokelat kepada nenek. "Ini buat Nenekku yang suka membaca.”
"Apa itu?" tanya Alif dan Jimmy bersamaan.
Nenek membuka amplop di tangannya dan mengeluarkan isinya. Dahi Nenek berkerut memandangi hadiahnya. "Ini apa, Mizuki sayang?"
"Kadoku adalah pembatas buku," kata Mizuki. "Aku membuatnya sendiri dari karton yang sudah tidak dipakai. Lalu aku tambahkan hiasan dan kuwarnai. Dengan ini, Nenek tidak perlu lagi bingung mencari halaman terakhir buku yang nenek baca. Tinggal selipkan saja di situ. Aku harap Nenek suka kadoku, ya."
Nenek tersenyum dan merangkul Mizuki. "Tentu saja Nenek menyukainya, Sayang. Hadiahmu sangat bermanfaat. Nenek sangat berterima kasih padamu, dan juga cucu-cucu nenek yang lain."
Wajah Mizuki, Alif, Rani dan Jimmy berseri-seri mendengar pujian Nenek. Mereka menghambur kepada Nenek.
“Selamat ulang tahun, Nek…!”