Pohon-pohon itu berdiri sambil menjulurkan tangan yang bercabang. Kadang kala, angin menyuruhnya bergoyang, membawa suasana sejuk di pelataran tanah itu. Bunga kamboja bertebaran gugur mewarnai putih, gundukan yang ditandai batu nisan itu. Aku hanya termenung duduk di pinggir kijing makam. Usiaku sekitar 5 tahun saat itu. Aku lahir di Jombang, namun ibu dan bapakku mencari nafkah di Surabaya. Kenanganku tentang bermain di pemakaman umum dekat kontrakan sempitku sangat membekas di benakku sampai sekarang. Aku hanya teringat angin sejuk menerpa tubuhku di kota panas itu dan panggilan ibuku membuyarkan lamunanku kala itu.
Rumah kontrakanku itu hanya satu petak dengan satu sekat dinding. Ruangan hanya terbagi ruang tamu dan kamar tidur menjadi satu, ditata rapi oleh ibuku dengan kompor dan peralatan dapur untuk memasak. Ada kamar mandi umum di luar rumah dan dipakai oleh semua penghuni gang sempit itu. Ketika malam hari, aku ingin buang air kecil, tentu saja aku harus membangunkan orang tuaku dan mengantarku ke kamar mandi luar tepat sebelah kanan rumah satu petak itu. Dekorasi rumahku hanya ada satu buffet dengan kualitas kayu jati terbaik. Tidak ada rayap yang mampu merobohkan kaki-kakinya. Bufet itu masih berdiri kokoh di rumah yang dibangun bapak dan ibuku di Jombang.
Setiap pagi penjual lijo membuka dagangannya di pinggir gang sempit sekitar perkampungan kecil ini. Kepiting yang diikat dengan gedebog atau tulang daun pisang menjadi pemandangan yang masih kuingat jelas. Kurasa kepiting itu diikat seperti itu agar mereka tidak melarikan diri. Aku paling suka masakan sayur kepiting santan buatan ibuku. Meskipun aku harus berjibaku mencari secuil daging dan mengeluarkannya dari cangkang keras itu. Menyisap kuah santan kepiting disela-sela tulang keras itulah yang menyenangkan.
Aku bersekolah di TK Sasana Putra. Setiap pagi, aku berjalan kaki ke rumah temanku di seberang gang lain, mencari temanku satu sekolah untuk berangkat sekolah bersama. Aku tidak pernah diantar atau dijemput ibuku. Ibuku terlalu sibuk untuk mengerjakan kegiatan rumah tangga sambil merawat adikku yang masih bayi. Dari rumah temanku, aku menyusuri jalan tikus menuju sekolah. Uang saku yang diberi ibuku hanya dua puluh lima rupiah. Saat itu, aku bisa membeli rangin atau kerupuk yang sekarang harganya bisa lima ratus rupiah atau seribu rupiah. Pulang sekolah, aku berjalan sendiri menyusuri jalan besar beraspal. Waktu itu, jalanan Surabaya masih lengang, hanya satu atau dua yang berlari kencang. Ketika aku melewati tembok tinggi, aku lari ketakutan seperti ada seseorang yang sedang mengejarku. Ketakutanku ini sangat tidak berdasar jika kuingat saat dewasa ini. Pasalnya, tembok itu adalah sekat pemakaman umum, tempat aku mencari angin waktu itu. Hahaha.
Tempat bermain favoritku yang lain adalah rumah temanku yang memiliki halaman yang cukup luas dan keluarganya memelihara banyak burung dara. Temanku ini adalah anak laki-laki yang selalu meneriaki “Motor muluk! Motor muluk!” sambil mendongak ke langit, saat burung besi itu berderum lewat di atas rumahnya. Aku suka berlari-lari mengusir burung dara itu ketika mereka bertengger di halaman berlantai plester itu. Kadang kala, aku mengunjungi sebuah pabrik kerupuk bersama temanku ini, sambil duduk-duduk di bawah atap asbes yang panas, memperhatikan orang bekerja membuat kerupuk uyel. Aku ingat pernah mendapat kerupuk bantat yang tidak layak jual untuk dimakan secara gratis.
