Tanggal 29 September 2025 bertempat di Aula Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, diadakan bedah buku anak berjudul “Cepat Sembuh, Ciko!”. Buku ini mulai saya tulis sejak tahun 2024 dan telah diluncurkan oleh Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, pada tanggal 10 April 2025 di Taman Budaya Gerson Poyk Kupang.
Sebagai informasi, buku tersebut merupakan hasil dari sebuah proyek kolaborasi antara One Health Collaborating Center (OHCC) Universitas Udayana dengan International Alliance Against Health Risks in Wildlife Trade Protection Awareness (OHAWE), dan Dinas Kesehatan Kota Kupang. Ada seleksi yang dilakukan oleh panitia, dan saya mendapatkan kesempatan sebagai penulis terpilih untuk proyek kampanye edukasi perlindungan satwa liar dan pencegahan penyakit yang bersumber dari hewan (zoonosis) tersebut.
Sesungguhnya ada banyak poin yang mengemuka dalam diskusi itu. Namun, satu hal yang menurut saya penting untuk dicatat yakni peran buku anak sebagai media informasi dan edukasi yang efisien dalam arti dapat menarik, menghibur, dan di saat yang sama dapat membuka atau menambah wawasan pembaca terutama anak-anak terhadap topik tertentu yang diangkat.
Kesimpulan di atas, saya dasarkan pada pernyataan dari dua narasumber yang dihadirkan panitia. Pertama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, M.Kes., yang hadir mewakili Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis. Sebagai perwakilan pihak penerbit, drg. Retnowati memaparkan bahwa hadirnya buku ini berawal dari kasus rabies yang ada di NTT termasuk di Kota Kupang. Menurutnya, data yang ada menunjukkan, kasus gigitan binatang peliharaan itu cukup besar termasuk terhadap anak-anak di bawah lima tahun.
“Kemudian kami bekerja sama dengan Udayana, bagaimana ya, membuat suatu karya yang mempercepat atau mempermudah anak-anak itu bisa memahami. Karena pada dasarnya anak-anak itu kan penyanyang binatang, tapi dia tidak tahu risiko-risiko yang dimunculkan apabila dia berdekatan dengan binatang-binatang itu. Maka muncullah buku ‘Cepat Sembuh Ciko!’ ini,” katanya.
“Saya juga menceritakan ini kepada cucu saya. Ini cukup berkesan, karena memang kandungan yang saya lihat, apa yang diinginkan oleh dinas kesehatan untuk menyampaikan pesan, ini sudah termuat,” lanjut drg. Retnowati yang menegaskan bahwa ada muatan informasi dan nilai edukasi yang dititipkan dalam buku tersebut.
Narasumber lainnya yakni Kepala Balai Bahasa NTT, R. Hery Budhiono, S.Pd., M.A., yang mengakui bahwa menulis buku anak itu tidak mudah, karena pesan-pesan yang mau disampaikan harus dikemas sedemikian rupa agar sesuai dengan sasaran pembaca yakni anak-anak.
“Membuat cerita anak itu susah. Bagaimana mengomposisi kalimat, bagaimana memilih kata kemudian disusun menjadi satu kalimat dengan berciri khas atau dengan mempertimbangkan siapa calon pembaca kita, itu tidak mudah,” ujarnya.
Sekalipun demikian, Hery Budhiono mengakui bahwa buku anak dapat menjadi salah satu media yang tepat untuk mengedukasi anak-anak, sebab di dalamnya dapat dimasukkan unsur STEAM yakni Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Teknik), Art (Seni), dan Mathematics (Matematika), unsur-unsur yang sangat penting bagi perkembangan anak-anak dan dapat menjadi bekal masa depannya.
Saat menulis buku “Cepat Sembuh, Ciko!”, muatan informasi dan nilai edukasi tentu tidak luput dari perhatian saya. Mulai dari riset awal termasuk konsultasi dengan tim ahli yang disediakan oleh panitia seleksi, diskusi dengan tim editor, penerjemah, dan ilustrator (buku ini terbit trilingual; bahasa Indonesia, Inggris, dan Melayu Kupang), sampai pada proses finalisasi draf buku, saya berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengakomodir poin-poin yang dititipkan panitia. Ini tentu berpusat pada informasi dan edukasi seputar rabies yang menjadi tema utama dalam proyek tersebut. Secara teknis, saya membagi informasi-informasi tersebut ke dalam dua ruang yakni jalan ceritanya sendiri, dan halaman khusus yakni “Tahukah Kamu” (informasi edukatif di bagian akhir buku).
Narasi di atas membawa saya kepada apa yang pernah dikatakan Budi Darma dalam buku esainya Solilokui (2020), bahwa sastra memang karya tulis, akan tetapi yang penting bukan tulisannya, melainkan yang ada di dalamnya. Pertanyaannya, apa yang ada di dalam sebuah karya sastra? Bisa jadi informasi-informasi penting dan nilai-nilai edukasi (selain berbagai aspek atau nomenklatur lainnya). Setidaknya hal itu yang saya alami dalam karya dan diskusi buku “Cepat Sembuh, Ciko!”.
