Saat menjadi narasumber dalam kegiatan Diseminasi Peta Kebinekaan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa NTT pada tanggal 4 November 2025, Prof. Dr. Charles E. Grimes, Ph.D., menyampaikan sebuah fakta menarik terkait bahasa daerah dan capaian kemampuan literasi anak. Konsultan Unit Bahasa dan Budaya (UBB) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ini menyebut, program Pendidikan Multi-Bahasa (PMB) Konteks Multi-Bahasa Anak Didik (KOMBAD) yang digagas UBB GMIT menyuguhkan dampak positif. Hasil pilot study sejumlah sekolah yang menerapkan program PMB KOMBAD menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa sebesar 30% – 88,9% dalam hal membaca dan memahami cerita (berbahasa daerah).
Sebagai gambaran – sebagaimana juga dijelaskan Prof. Grimes dalam paparannya tersebut, program PMB KOMBAD yang digagas UBB GMIT melibatkan 72 sekolah jenjang SD di bawah naungan GMIT dan menyasar 16 bahasa daerah di NTT. Program dimulai dari adanya pelatihan bagi para guru, dilanjutkan dengan implementasi program di sekolah bagi siswa kelas 1 SD. Adapun pendekatan yang digunakan yakni EGRA (Early Grade Reading Assessment) yang disesuaikan dengan Kurikulum Merdeka. Asesment EGRA yang dipakai oleh UBB mengukur beberapa keterampilan siswa yakni (1) mengenali huruf yang mewakili bunyi pertama dalam sebuah kata; (2) mengenali bunyi huruf dan nama huruf; (3) membaca kata; (4) membaca kalimat pendek; (5) membaca cerita pendek, dan (6) pemahaman cerita.
Apa yang diungkapkan Prof. Grimes dalam paparannya terkait keberhasilan bahasa daerah dalam meningkatkan kemampuan literasi anak, seperti benang merah yang menghubungkan kita pada hasil Survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI) di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang dirilis pada Juli 2021.
Survei membandingkan hasil tes literasi siswa penutur bahasa daerah sebagai bahasa ibu dan siswa yang bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia. Di kelompok siswa penutur bahasa daerah, persentase yang lulus asesmen literasi dasar (tes huruf, suku kata, dan kata) pada survei awal lebih rendah dibandingkan persentase kelompok siswa berbahasa ibu bahasa Indonesia. Demikian juga pada survei akhir, persentase siswa berbahasa ibu bahasa daerah yang lulus asesmen literasi dasar proporsinya lebih rendah dibandingkan kelompok siswa berbahasa ibu bahasa Indonesia. Namun demikian, poin peningkatan siswa berbahasa daerah lebih tinggi daripada poin peningkatan siswa berbahasa Indonesia, yaitu mencapai 28 poin berbanding dengan 21 poin.
Selain dua temuan di atas – program PMB KOMBAD dan hasil survei SIPPI di Bima, terdapat sejumlah penelitian yang membuktikan (menemukan) adanya dampak positif pendekatan bahasa daerah dalam menunjang kemampuan literasi anak. Sekadar menyebut contoh, ada publikasi hasil penelitian bertajuk “Analisis Penggunaan Bahasa Ibu dalam Proses Pembelajaran” yang ditulis oleh Tri Feridiyana Sudarma (2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu memberikan kontribusi yang positif terhadap pencapaian target atau hasil belajar siswa terutama dikelas awal. Sudarma kemudian menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa ibu memungkinkan anak lebih antusias dalam pembelajaran terutama pada kegiatan bertanya, dan mengkomunikasikan apa yang mereka ketahui.
Publikasi ilmiah lainnya datang dari Fatris E. Harun (2021) yang meneliti tentang “Pentingnya Penguasaan Bahasa Ibu oleh Guru terhadap Efektifitas Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa Kelas Awal”. Berdasarkan penelitiannya, Harun menyebut bahwa dalam proses pembelajaran sangat penting bagi guru untuk memahami bahasa ibu, sebab bahasa ibu dinilai memiliki peran penting untuk menjamin inklusifitas dalam pendidikan, bahasa ibu dapat menjembatani proses pengajaran guru terhadap anak sehingga tercipta pembelajaran secara bilingual. Ia juga mengutip hasil penelitian internasional yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu memberikan kontribusi yang positif terhadap pencapaian target atau hasil belajar siswa terutama dikelas awal. Ia melanjutkan, kelas awal menjadi sasaran dikarenakan perkembangan bahasa pada anak masih terbatas pada penguasaan bahasa pada kesehariannya dilingkungan keluarga dan orang-orang terdekanya. Pembelajaran dengan menggunakan bilingual salah satunya bahasa Ibu memungkinkan anak lebih antusias dalam pembelajaran terutama pada kegiatan bertanya, dan mengkomunikasikan apa yang mereka ketahui.
Menjadi jelas bahwa bahasa daerah memiliki posisi (dan peran) strategis dalam menunjang peningkatan kemampuan literasi anak. Sejumlah temuan yang telah dipaparkan di atas – juga temuan-temuan lain berupa survei, artikel jurnal, dsb., menguatkan perspektif ini. Di tengah realitas belum optimalnya kemampuan literasi masyarakat (termasuk anak-anak) dan di tengah upaya pemerintah meningkatkan indeks literasi Indonesia, isu ini – penggunaan bahasa daerah dalam menunjang kemamuan literasi anak, kiranya menjadi perlu dan penting untuk diangkat.
Pertama, tentu sebagai alternatif pendekatan dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi, selain berbagai pendekatan dan upaya lainnya yang sudah dan sementara berjalan maupun yang masih dalam proses perencanaan (progam-program di bidang literasi). Kedua, pada saat yang sama, ada nilai (dan upaya) lain yang dapat dititipkan di dalamnya seperti pelestarian bahasa daerah yang juga menghadapi tantangan tersendiri di Indonesia misalnya jumlah penutur yang kian berkurang dari waktu ke waktu sampai pada ancaman kepunahan bahasa daerah.
Revolusioner antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela pernah mengatakan, "Jika kamu berbicara dengan seseorang dalam bahasa yang dia pahami, kata-katamu akan masuk ke kepalanya. Jika kamu berbicara dengannya dalam bahasanya sendiri, kata-katamu akan masuk ke hatinya". Dalam konteks tertentu, bahasa yang dipahami itu barangkali adalah bahasa daerah. Dengan demikian, jika bahasa daerah digunakan dalam proses pembelajaran – misalnya sebagai bahasa pengantar, segala informasi (dan pengetahuan) yang disampaikan guru akan lebih mudah masuk ke kepala dan hati anak-anak. Demikian juga bahan bacaan literasi yang dikemas dalam bahasa daerah – selain bahasa Indonesia (buku dwibahasa), tentu akan lebih mudah dicerna oleh anak-anak kita. Dengan pendekatan seperti ini, bukankah kita boleh berharap (dan meyakini) bahwa kemampuan literasi anak-anak kita akan terus meningkat?
Daftar Pustaka
Grimes, Charles E. 2025. Kemitraan UBB dengan Masyarakat Pedesaan di NTT: Orang Asli Bersama Orang Ahli Melestarikan Variasi Bahasa di NTT. Materi, disampaikan dalam kegiatan Diseminasi Peta Kebinekaan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2025 yang diselenggarakan Balai Bahasa NTT pada tanggal 4 November 2025
Harun, Fatris E. 2021. Pentingnya Penguasaan Bahasa Ibu oleh Guru terhadap Efektifitas Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa Kelas Awal. Dimuat dalam Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar “Merdeka Belajar dalam Menyambut Era Masyarakat 5.0” Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo
Sudarma, Tri Feridiyana. 2023. Analisis Penggunaan Bahasa Ibu dalam Proses Pembelajaran. Dimuat dalam Jurnal CERDAS, Vol.2 No.2 Desember 2023
Tim Penyusun. Risalah Kebijakan Nomor 9 Juli 2021: Penggunaan Bahasa Ibu untuk Meningkatkan Literasi Dasar di Kelas Awal Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
