Misteri Monster Berbintil di Pulau Terpencil – Part 11

Part 11 – Makhluk Misterius Menangkap Lilis dan Bunga

“Kereeen!” Matahari melompat-lompat di antara pepohonan.

“Sejuk, ya, ternyata!” Bunga memuji asrinya hutan itu.

“Rindangnya!” Dudung menghirup udara dalam-dalam.

“Indah!” Lilis berdecak kagum.

Semakin ke dalam hutan, Matahari dan ketiga anak kota itu semakin takjub. Pemandangan pepohonan tinggi dan semak belukar juga suara burung, jangkrik, kodok bersahut-sahutan. Ujang tidak menyangka, hutan yang bagi dia biasa-biasa saja, ternyata menjadi luar biasa bagi anak-anak kota.

Ujang jalan mendahului keempat temannya. Anak itu menebas semak belukar dengan sepotong kayu untuk membuka jalan.

“Sepertinya hutan ini masih asli, belum terjamah, ya, Jang?” tanya Lilis yang jalan di belakang Ujang. Di belakang Lilis ada Bunga.

“Sepertinya tidak ada orang yang tinggal atau pun singgah ke sini,” seru Dudung yang jalan di belakang Bunga.

“Ada, Dung!” jawab Matahari yang jalan paling belakang.

“Apa?” Dudung berhenti dan menatap Matahari, “Kok, kamu tahu. Kan, kamu juga baru pertama kali ke sini?”

“Iya, orangutan!” Matahari terbahak-bahak.

Dudung merengut. “Orangutan adanya di Sumatera dan Kalimantan, orangutan di Pulau Jawa sudah punah!” bantah Dudung.

“Dari mana kamu tahu?” Matahari mencibir.

“Baca, dong!” celetuk Bunga ikut nimbrung, “makanya kalau ke perpustakaan itu baca buku, bukan malah ngerjain orang yang sedang membaca. Iya, kan, Dung?”

Dudung tertawa senang, ada yang mendukungnya. Matahari tertawa salah tingkah. Lilis dan Ujang tersenyum.

“Hey, ada kolam! Airnya jernih sekali dan tawar,” Ujang mencicipi air itu dan memeriksa sekelilingnya, “Tanah di sini sedikit terbuka, cocok untuk mendirikan kemah. Selain dekat sumber air tawar juga tidak terlalu jauh ke tepi pantai tadi.”

“Lho, kita tidak masuk ke hutan lebih dalam, ya? Yang pohonnya tinggi-tinggi dan rimbun gitu” Matahari kecewa.

“Kita keliling besok saja. Ini sudah mau gelap. Kita masih harus mendirikan dua kemah. Kalau terlalu masuk ke dalam hutan, nanti kita tidak tahu jalan kembali ke pantai, terus bagaimana kita bisa pulang?” Ujang menurunkan tasnya.

Matahari mengangguk-angguk. Bagaimana pun Ujang lebih paham hidup di alam bebas daripada dirinya.

Mereka bahu-membahu mendirikan kemah. Mereka juga mencari ranting-ranting kering untuk membuar api unggun. Karena dikerjakan bergotong-royong, pekerjaan itu cepat selesai.

Langit malam sangat cerah. Anak-anak bisa melihat bintang-bintang gemerlapan di atas sana. Sebenarnya Matahari ingin begadang menikmati malam di hutan. Apalagi ada api unggun, tapi ia tidak bisa menyangkal rasa capeknya. Begitu pula anak-anak lainnya.

Sebentar saja menikmati bintang-bintang di langit, anak-anak itu sudah ngantuk. Ujang segera memadamkan api ungun dengan menyipratkan air. Mereka lalu masuk ke kemahnya masing-masing. Lilis dan Bunga tidur dalam satu kemah. Di depan kemah mereka ada kemah anak-anak laki-laki.

“Lilis, anter aku, dong!” Bunga menggoyang-goyang bahu Lilis setelah mereka semua terlelap.

“Hmm… antar kemana? Ngantuk, nih!” Lilis menggeliat sambil tetap menutup matanya.

“Aku ingin buang air kecil, nih! Kebelet!”

“Bukannya tadi sebelum tidur sudah pipis?” ujar Lilis sambil tetap menutup matanya.

“Iya, tapi mungkin tadi kebanyakan minum.”

Lilis sebenarnya malas keluar kemah. Apalagi udara sangat dingin dan matanya sangat ngantuk, tapi dia juga tidak tega dengan Bunga. Bagaimana kalau anak itu sampai minta antar anak laki-laki? Ih, kan, malu!

“Mana senter?” ujar Lilis.

“Di kemah anak laki-laki.”

“Aduh, males bangunin mereka.”

“Ya, sudah tidak apa-apa. Aku tidak akan pipis jauh-jauh, kok.”

“Kata Ujang, jangan pipis atau buang air besar dekat kolam. Karena air kolam akan dipakai untuk minum dan makan kita. Lagi pula tanah ke kolam agak menurun, karena tidak ada cahaya senter atau bulan, kamu bisa salah injak dan kepleset,” ingat Lilis.

“Oke, tapi tolong awasi sekelilingku. Jangan sampai ada anak lelaki ke sini. Aku malu!”

Udara di dalam hutan itu lebih dingin daripada udara di Bandung. Lilis mengosokkan kedua telapak tangannya agar hangat. Dipandanginya keadaan sekitar. Gelap. Seram. Bulan di langit hanya sepenggal.

“Bunga sudah belum? Cepat, dong!” seru Lilis.

“Belum! Sabar!”

“Cepat! Dingin, nih!”

“Sabar, woy!” balas Bunga dengan suara yang tidak kalah kencangnya.

Lilis memandang lagi hutan di sekelilingnya. Rasa takut mulai menyusup hatinya.

Kerosak! Kerosak!

Lilis menajamkan pendengaran dan penglihatannya, Mungkin itu suara daun berdesik tertiup angin, bisiknya dalam hati menghibur dirinya sendiri.

Kokokok! Kokokok! Kokokok!

Alis Lilis bertaut. Ia mematung. Suara itu terdengar seperti suara ayam betina yang sedang mengerami telurnya. Apakah ada ayam hutan di tempat itu? Tapi semenjak mereka datang tidak ada satu pun ayam berkeliaran. Ah, aneh sekali! Lilis meraba bulu kuduknya yang mulai berdiri, merinding.

Krakk..! Krakk..!

Suara ranting patah! Lilis meringis. Ia mulai merasa tidak nyaman, “Bung, ayo, dong cepatan! Kamu pipis apa buang air besar, sih? Lama banget!” teriak Lilis sambil menggaruki tangan dan pipinya sendiri yang digigiti nyamuk. Kulitnya terasa panas dan gatal. Nyamuk-nyamuk di hutan ternyata ganas-ganas.

“AAHHH..!”

Lilis kaget. Itu suara Bunga!

“Bunga! Kenapa kamu?” Lilis berlari mendekati tempat Bunga pergi pipis tadi.

BUK!

Lilis terjatuh. Ia tidak lihat ada akar pohon yang menonjol keluar. “BUNGA! BUNGA!” panggil Lilis sambil berdiri dan mengelus lututnya yang terasa nyeri.

Tidak ada jawaban. Sekelebat ada bayangan bergerak di antara pepohonan. Lilis makin merinding ketakutan.

“Bunga! Jangan jahil, deh! Ini bukan waktunya main petak umpet gitu!” Lilis mengikuti bayangan itu. Bayangan itu bergerak cepat lalu hilang di antara pepohonan dan semak belukar.

Lilis terdiam. Bunga tidak setinggi itu, lalu itu siapa? Lilis membalikkan badan hendak kembali ke kemah. Ia akan mengabarkan kejadian itu ke anak-anak laki-laki. Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi di pohon ujung sana.

“Tolong!” suara Bunga melolong dari kejauhan.

“BUNGAAA!” Lilis bingung mengapa Bunga minta tolong. Lilis bertambah bingung hendak mencari Bunga atau kembali ke kemah, lapor ke anak laki-laki.

Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi sekelebat di antara pepohonan. Lilis kini benar-benar takut.

Hup!

Tiba-tiba dada Lilis sesak dan tak bisa melihat. Ada yang membekam mulut dan menutup matanya. Lilis berusaha teriak dan menendang-nendang, tapi mata dan mulutnya tertutup sesuatu. Begitu juga kaki dan tangannya ada yang mengikat dengan cepat.

Lilis dibawa ke suatu tempat. Dia dipaksa duduk. Lilis mendengar seperti ada suara perempuan terisak-isak. Apakah itu Bunga dengan mulut terbekam juga? Atau makhluk lain? Lilis takut itu bukan manusia, tapi Lilis tidak bisa lari, apalagi berteriak. Lilis gemetar ketakutan setengah mati. Tubuhnya meringkuk sambil menggigil.

Siapakah yang sedang terisak-isak menangis itu? Apakah benar itu Bunga? Bagaimana Lilis bisa kumpul kembali dengan teman-temannya?

(Bersambung…)

Misteri Monster Berbintil di Pulau Terpencil
Novel Petualangan Anak 10-12 Tahun
Penulis: Tethy Ezokanzo dan Wahyu Annisha

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar