ANAK ANAK PIJIOMBO (Part 36)

BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH

Panjul, Jilan, dan Ega tercengang begitu melihat kedatangan Adib yang langsung membentangkan empat buah layang-layang di hadapan mereka.

“Hai Dib, hari ini kelihatannya kau niat banget mau adu sambit layang-layangnya? Kok sampai bawa empat layang-layang sekaligus,” celutuk Panjul dengan senyum nakalnya.

“Iya nih, sepertinya Adib sudah bersiap-siap dengan kekalahannya,” seloroh Ega.

Tetapi sedikit pun Adib tak menanggapi selorohan mereka. Masih saja Adib tersenyum dengan wajah sumringah.

“Memang siapa yang mau adu sambit layang-layang?” tanya Adib sambil menatap Panjul dan Ega secara bergantian.

“Loh, terus keempat layang-layang yang kau bawa itu buat apa?” Mata Panjul semakin membelalak tak percaya.

Lagi-lagi Adib hanya menyunggingkan senyum manisnya. Lalu dengan santainya ia duduk di antara Panjul dan Jilan seraya berucap.

“Ini adalah layang-layang untuk persahabatan.”

“Maksudmu?” Panjul dan Ega bertanya serempak.

Lagi-lagi Panjul tersenyum lebar sebelum bicara.

“Ini adalah layang-layang untuk persahabatan.”

“Maksudmu apa, Dib?” tanya Panjul jelas penasarannya.

“Hari ini adalah hari pertama kita jadi teman satu sekolah. Karena itu saya ingin melewatinya dengan suasana yang indah dan menyenangkan. Makanya saya bawa empat layang-layang ini untuk kita bersama,” jawab Adib dengan gaya santainya.

“Untuk kita …?” gumam Panjul, Ega, dan Jilan kompak.

“Iya untuk kita,” sahut Adib sambil memandang ketiga temannya yang masih menatap dirinya seolah tak percaya.

“Jadi begini nteman-teman, saya sengaja membuat dan membawa empat layang-layang kita mainkan bersama-sama. Hari ini saya tidak mau adu sambit. Saya hanya ingin menerbangkan layang-layang bersama kalian sambil bercerita tentang apa saja yang pernah kita lewati bersama. Jadi bagaimana apa kalian mau saya beri layang-layang satu-satu?”

“Iya, aku mau-mau,” spontan Panjul menyahut.

“Aku juga mau,” sahut Ega pula.

Hanya Jilan yang masih diam dan belum menyatakan kesediaannya. Melihat hal itu Adib segera mengalihkan pandangan pada Jilan. Sesaat ditatapnya bocah perempuan berponi lurus itu dengan tatapan bersahabat.

“Kau juga mau kan, Jilan?” tanya Adib penuh harap.

“Mau, Dib. Tapi ….” Jilan seolah ragu untuk meneruskan kalimatnya.

“Tapi kenapa Jilan?” tanya Adib dengan wajah serius.

“Selama ini aku kan belum pernah main layang-layang jadi aku tidak punya benang untuk menerbangkannya,” jawaban Jilan membuat Adib tertawa kecil.

“Kok kau jadi mentertawakan aku, Dib. Aku kan perempuan jadi wajar kan kalau aku gak pernah main layang-layang. Atau kau memang sengaja hendak mengejekku, ya?” Jilan bertanya dengan muka sewot.

Namun, Adib tetap menghadapinya dengan senyum.

“Tentu saja tidak, Jilan. Justru sebaliknya saya sudah memahami keadaanmu. Makanya sudah saya siapkan satu gulungan benang untukmu,” sahut Adib seraya masih menyunggingkan senyumnya.

“Benarkah, Dib?” Jilan bertanya malu-malu.

“Iya. Ini ambillah,” kata Adib seraya mengulurkan satu gulungan benang yang sudah dipersiapkannya dari rumah.

“Terima kasih,” ucap Jilan masih denga wajah tersipu.

Tanpa berani memandang wajah Adib yang masih saja tersenyum manis, dengan wajah tertunduk Jilan menerima benang yang diulurkan Adib.

“Cie … cie … ada yang sedang mendapat perhatian lebih nih …,” goda Ega dengan senyum yang tampak menyebalkan di mata Jilan.

Dengan memasang wajah sebel, Jilan melepas sandal jepitnya dan lantas dilemparkannya ke arah Ega. Tapi Ega dengan gesit mengelak sambil terkekeh-kekeh dan terus menggoda. Membuat Jilan semakin sewot jadinya.

“Sudah-sudah, sekarang ayo kita ke lapangan dan menerbangkan layang-layang persahabatan dari Adib ini bersama-sama. Oke?” Lerai Panjul untuk mencairkan suasana.

“Oke!” Semua mengangguk setuju.

Dengan langkah riang mereka bergegas melangkah riang ke tanah lapang di depan gedung sekolah. Kebetulan angin bertiup cukup kencang saat mereka tiba di sana. Hingga dalam waktu singkat, layang-layang ke empat bocah itupun sudah mengudara. Melenggang lenggok mengikuti gerakan angin, seindah rasa persahabatan mereka yang makin erat terjalin.

Kini keempat bocah itu berbaring di atas rerumputan sambil memandang layang-layang persahabatan yang terbang. Sesekali mereka tersenyum bersama sambil menceritakan kekonyolan demi kekonyolan yang pernah mereka perbuat.

Seperti mega-mega putih yang berarak pelan, persahabatan mereka berempat akan terus berjalan sepanjang waktu. Dan andai suatu saat salah satu layang-layang persahabatan itu akan putus, tapi ikatan persahabatan mereka tak akan pernah pupus.

Mereka yakin, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Kita kompak, kita bisa!

Panjul, Jilan, Ega, dan Adib terus mempermainkan layang-layang yang semakin terbang tinggi. Setinggi angan mereka tentang indahnya persahabatan yang menggembirakan. Persahabatan yang tulus dari dalam hati. Hari-hari akan mereka lalui dengan beragam petualangan yang mengesankan.

Saat layang-layang mereka sudah mendapatkan embusan angin yang stabil, bersama-sama mereka merebahkan diri di rerumputan. Dengan lindungan rimbun dedaunan, mereka menatap langit yang biru jernih. Senyum mereka selalu mengembang sumringah.

“Seandainya dari kelas satu dulu aku sekolah di Pijiombo, pasti sudah banyak pengalaman mengesankan yang kita lalui ya,” kata Adib tanpa mengalihkan pandangan dari langit.

“Memang kenapa Dib kok gak sedari dulu kau sekolah di Pijiombo?” Panjul menyahut sambil menghentak-hentak benangnya karena layang-layangnya kurang mendapat tekanan angin.

“Semua atas keinginan bapak dan ibuku. Kau tahu sendiri kan, jalan pintas ke Pijiombo dulu masih sempt dan licin. Jadi mereka khawatir. Makanya saya disekolahkan di Sengon.”

“Oo, begitu.” Ega menimpali.

“Iya. Bahkan saat itu nenek ingin sekali aku sekolah di Pijiombo.”

“Pantesan nenekmu langsung setuju saat kau minta pindah sekolah ke sini.” Kali ini Jilan yang menanggapi.

“Ya, karena itulah saya berjanji untuk menepi kesanggupanku saat pindah ke Pijiombo. Saya harus belajar lebih rajin. Lebih giat dari saat masih sekolah di Sengon.” Adib berkata penuh keyakinan diri.

“Itu harus, Dib. Sekolah dimanapun belajar dengan tekun itu wajib!” Panjul menegaskan.

“Apalagi di sini, kau harus bersaing dengan kami semua!” Ega berkata datar.

“Siapa takut …?” Adib menyahut cengengesan.

Angin bertiup semilir. Di langit semua layang-layang terbang dan melayang dengan tenang. Saat mereka terdiam, yang terdengar hanyalah gemerisik dedaunan yang saling bergesekan akibat terpaan angin.

Hanya sesekali mereka bersuara. Menjawab tegur sapa dari warga yang pulang atau berangkat mencari rumput. Semenjak tertangkapnya komplotan pencuri yang bersarang di dalam gua itu, kehidupan warga Pijiombo kembali damai.

Mereka menjalani kehidupan dengan tenang. Tidak dihantui rasa was-was dan takut pada keselamatan ternaknya. Kejadian itu membuat warga menghidupkan kembali tradisi ronda malam secara bergiliran.

Tak jarang saat malam Minggu tiba, anak-anak hebat Pijiombo itu ikut serta bermain di pos ronda sampai jam sembilan malam.

Imbas dari keadaan desa yang damai membuat keseharian anak-anak Pijiombo kembali tenang. Mereka belajar, bermain, dan mencari rumput ke bukit dan perkebunan dengan hati riang.

Anak-anak Pijiombo memang patut dibanggakan.

Selesai

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar