ANAK ANAK PIJIOMBO (Part 7)

SEMUT RANG RANG DI RANTING POHON

 

 

Huuh!

Panjul mendengus kecewa. Begitu pula Jihan dan Ega. Sepertinya sudah cukup jauh mereka mengejar layang-layang ini. Napas mereka sampai tersengal-sengal. Tapi memang begitulah nikmatnya mengejar layang-layang. Keringat yang terkuras akan terbayar lunas ketika layang-layang sudah didapatkan.

Sayang semua itu masih sebatas angan. Sebab kenyataannya alam seakan tak mau bersahabat dengan mereka. Angin masih saja bertiup dengan kencang sehingga membawa layang-layang itu semakin jauh dari jangkauan.

Sementara tanpa sadar kini mereka sudah berada di bukit terakhir yang langsung berbatasan dengan hutan. Seketika mereka langsung menghentikan langkah. Rasa takut serta merta mencekam hati ketiga bocah itu.

“Panjul, Ega, sebaiknya kita kembali saja. Di depan itu adalah hutan yang menjadi sarang harimau yang selama ini sering memangsa ternak warga. Terlalu berbahaya jika kita tetap melanjutkan mengejar layang-layang sampai ke sana!” kata Jilan mulai penat.

“Iya Panjul, Jilan benar. Sebaiknya kita kembali saja!” sambung Ega.

“Ya tanggung dong, kita sudah hampir mendapatkan layang-layang itu, masa harus kembali dengan tangan kosong? Rugi tahu!” bantah Panjul menyembunyikan rasa takutnya.

“Habis mau bagaimana lagi, daripada kita nanti dimangsa harimau,” Ega tak mau kalah.

Mendengar hal itu, Panjul bukannya takut, tapi malah tertawa ngakak.

“Kenapa kau malah tertawa? Memangnya kau gak takut sama harimau?” Jilan memandang Panjul sampai melongo.

“Tentu saja aku juga takut sama harimau, tapi ….”

Belum sempat Panjul menyelesaikan kalimatnya, Jilan dan Ega sudah pula memotong suaranya.

“Tapi apa?” Jilan dan Ega bertanya serentak.

“Apa kalian lupa dengan apa yang disampaikan Bu Devi tadi pagi?” Panjul menatap Jilan dan Ega secara bergantian.

Sejenak Jilan dan Ega saling berpandangan. Bingung dengan apa yang dimaksud oleh Panjul barusan. Bahkan Jilan hanya mengangkat bahu saat Ega memandangnya dengan tajam.

“Soal apa?” tanya mereka kemudian.

“Kan di sekolah tadi pagi Bu Devi bilang kalau harimau Jawa itu sudah punah alias sudah tidak ada lagi. Apalagi di hutan kecil seperti ini,” jawab Panjul coba meyakinkan.

“Lalu suara auman harimau yang sering didengar oleh warga, itu apa?” Jilan bertanya sambil menoleh kanan kiri.

“Iya jelas-jelas suara auman harimau itu berasal dari dalam hutan itu,” sambung Ega.

Lagi-lagi Panjul tersenyum kecil.

“Ya bisa jadi itu auman harimau jadi-jadian,” enteng Panjul berkata.

“Apa? Harimau jadi-jadian?” seru Jilan dan Ega bersama-sama.

Serta merta dalam angan kedua bocah itu terbayang sosok siluman harimau seperti yang pernah mereka tonton dalam sebuah film di layar televisi. Sosok yang sangat mengerikan perwujudannya. Di mana seorang manusia biasa yang bisa berubah menjadi seekor harimau saat datang bulan purnama.

“Ja-jadi siluman harimau itu ada di hutan ini?” Sambil bertanya Jilan menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah takut.

“He he he, iya seperti itu. Tapi kalian gak usah kawatir sebab kalau benar itu harimau jadi-jadian berarti harimau itu gak akan keluar di siang hari seperti sekarang. Iya kan?” tanya Panjul sambil menatap kedua temannya.

Terpaksa Jilan dan Ega menganggukkan kepala meskipun dengan memendam rasa takut dan ragu-ragu akan kebenaran kata-kata Panjul. Sebab selama ini baik Jilan maupun Ega hanya pernah mendengar soal harimau jadi-jadian itu dalam cerita sebuah sinetron saja.

“Sekarang ayo kita kejar lagi layang-layang itu selagi belum terlalu jauh!” ajak Panjul seraya mengangkat tinggi-tinggi galahnya. Tujuan Panjul hanyalah agar kedua temannya kembali bersemangat.

“Ayo!” sahut Ega sambil mengangkat galahnya juga.

“Yuk!” Jilan juga melakukan hal yang sama.

Sejenak mereka mengedarkan pandangan guna mencari keberadaan layang-layang itu sekarang. Kiranya layang-layang itu masih melayang rendah mengikuti tiupan angin. Sejenak mereka bertiga sama-sama tersenyum baru kemudian meneruskan pengejaran.

Mereka berlari sambil terus mengawasi layang-layang itu. Sesekali mereka harus melompat untuk menghindari lubang-lubang kecil yang banyak terdapat di lereng bukit. Bahkan kadang harus bergulingan di semak-semak akibat kaki tergelincir bebatuan.

Kini posisi layang-layang itu sudah semakin rendah saja. Andai saja tak ada angin yang tiba-tiba bertiup kencang, pastilah layang-layang itu sudah jatuh ke tanah. Dan Panjul tinggal memungutnya. Sayangnya angin sialan justru membuat layang-layang itu tidak jadi mendarat di tanah, tapi justru nyangkut di pucuk pohon cengkeh yang cukup tinggi.

“Wah, bagaimana ini Panjul?” tanya Jihan sembari memandangi layang-layang itu dengan wajah kesal.

Bukannya menjawab, Panjul malah memandang pada Ega. Seolah ingin meminta pendapat dari temannya ini. Namun, sayang Ega justru hanya bisa mengangkat bahu saja.

“Kalian tenang, biar saya yang memanjat dan menggantolnya. Kalian tunggu saja di bawah pohon kalau-kalau layang-layang itu jatuh,” kata Panjul kemudian.

“Tapi Panjul ….” Jilan seakan ragu meneruskan ucapannya.

“Tapi kenapa?”

“Pohon cengkehnya cukup tinggi loh dan letaknya di lereng pula.” Jadi juga Jilan mengutarakan kekawatirannya.

“Benar Panjul, kelihatannya terlalu berbahaya!” Ega mendukung kata-kata Jilan.

Tapi dengan penuh keyakinan Panjul menyanggah kekawatiran kedua temannya.

“Kalian tenang saja, aku pasti bisa mengatasinya,” sahut Panjul mantap.

Tanpa memerdulikan kedua temannya yang masih saling pandang, Panjul mulai memanjat pohon cengkeh itu dengan gerakan sigap.

“Panjul, hati-hati ya,” teriak Jilan sekedar memperingatkan.

Panjul tidak menyahut. Ia hanya mengacungkan jari jempolnya ke arah Jilan yang memandangnya dengan senyuman.

Untunglah dalam hal panjat memanjat Panjul cukup jagoan. Sehingga dalam waktu singkat ia sudah sampai di dahan paling atas tanpa menemui kesulitan. Sejenak ia memeluk erat-erat batang pohon cengkeh yang besar itu ketika angin datang menggoyang-goyangkan seluruh tanaman. Setelah tiupan angin mereda, barulah Panjul mulai mengarahkan galahnya ke bagian tali goci layang-layang itu.

Namun, sialnya belum lagi galahnya berhasil menyentuh layang-layang di pucuk daun itu, tiba-tiba saja segerombolan semut rang rang pada keluar dari sarangnya dan menyerang tubuh Panjul.

Sontak Panjul bereaksi. Dengan tangannya ia halau setiap semut rang rang yang mulai merayap di tubuhnya. Meski tak urung ada satu dua ekor semut rang rang yang berhasil menggigit tangan dan kakinya.

Plak! Dengan tepukan telapak tangan yang keras, Panjul membunuh semut rang rang yang telah menggigit kulitnya. Sambil tetap berpegang erat pada sebuah batang pohon, sejenak Panjul mengedarkan pandangan. Begitu matanya menemukan sarang semut rang rang yang berupa beberapa lembar daun yang ditelangkupkan jadi satu, ia pun bergumam.

“Rasakan pembalasanku, semut semut nakal!”

Sigap sebelah tangannya meraih ranting tempat sarang semut rang rang itu berada. Sekuat tenaga dipatahkannya ranting itu untuk kemudian ia jatuhkan sembari berteriak.

“Ega, Jilan, minggir sebentar. Aku jatuhkan sarang semut rang-rang nih!”

Serentak Ega dan Jilan menjauh dari batang pohon cengkeh yang rimbun itu.

 

Bersambung …

 

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar