Kesombongan Dara

Pagi bergulir dengan berlahan. Si Lurik bangun gasik dengan berkokok membangunkan makhluk hidup lain.

“Petokpetok…!”

Semua hewan yang masih tertidur menjadi terbangun

“Wah, si Lurik sudah berkokok.” Ucap Bobon si kucing hitam.

Begitu pula dengan anak-anak si Lurik, mereka gasik membuka mata.

“Ibu, dah mulai pagi ya?” tanya Ulin anak si Lurik yang paling kecil.

“Iya, Nak. Ayo kita sarapan dulu untuk persiapan aktifitas di hari ini, biar kuat.”

Burung Dara yang rumahnya dekat dengan si Lurik masih terlelap tidur. Dara masih asyik dengan dunia mimpinya.

“Masih gelap, tidur lagi, ah…,” desah Dara.

Setelah sinar matahari mulai datang, Dara baru terbangun.

“Wah, sudah siang. Ternyata aku kesiangan. Cahaya matahasi juga sudah terang,” ujar Dara sembari mengeliatkan badannya.

Dara membuka pintu depan rumahnya, ternyata sudah ramai sekali aktifitas semua mahkluk hidup di luar. Beda sekali yang dirasakan Dara, dia masih malas untuk mandi.

“Ah, masih pingin santai,” Dara duduk santai di depan rumah.

Dara duduk di ayunan depan rumahnya. Ayunan mulai bergerak dengan sentakan kaki.

“Asyik hidup santai, stok makanan di rumah oke. Ayo bergembira….”

Tak lama kemudian, Dara melihat si Lurik sedang mencari makanan di depan rumah Dara.

“Hai, Lurik. Kamu tidak punya makanan di rumah? Seperti aku ini, selalu memiliki stok makanan banyak,” tanya Dara.

“Iya, saya sedang melatih anak-anak mencari makanan sendiri. Biar mereka tidak bergantung padaku,” jawab si Lurik dengan nada pelan.

“Lah, kamu hewan miskin! Pasti miskin juga makanan,” cerca Dara.

Si Lurik terdiam, tidak menjawab apapun.

“Ayo, anak-anak mencoba sebelah sini,” si Lurik tanpa lelah membimbing anak-anaknya dengan sabar.

Beda sekali dengan Dara, tiap detik hanya kesombongan diri yang dibanggakan.

“Hai, Lurik! Setelah kenyang aku akan bermain-main dengan sayapku yang indah.”

Lurik menoleh ke arah Dara. Memang sayap Dara bagus sekali dari warnanya.

“Sayapmu memang bagus sekali. Aku senang melihatnya.” Sanjung si Lurik.

Dara tersenyum bangga sambil mengepakan sedikit sayapnya ke arah si Lurik.

“Lihat nanti kalau aku terbang, makin bagus sayapku. Asyik dong, semua hewan akan melihatku dengan terpana.” Dara terus menerus memuja dirinya.

Siang panas menyinari semua penjuru bumi. Udara terasa begitu panas di tubuh semua makhluk. Anak-anak si Lurik sudah mulai tidur karena kelelahan di siang hari.

Si Lurik keluar rumah, Lurik masih sibuk dengan mencari bahan pangan. Dia melihat Dara yang mulai terbang.

“Lurik, amati sayapku, lo!” seru Dara.

Baru selang beberapa waktu Dara terbang, gumpalan awan hitam datang tiba-tiba muncul di depannya. Hujan datang mengikuti awan disertai dengan petir.

“Dara! Turunlah hujan datang!” seru si Lurik.

Dara tidak mendengarkan panggilan si Lurik. Dara terbang makin lama makin tinggi. Saat Dara di keadaan tertinggi, petir datang menggelegar.

“Derrr…..!”

“Ahh…!”

Petir mengenai Dara. Tubuh Dara terjatuh di dekat rumah si Lurik dengan tidak berdaya. Lurik mengetahui keadaan Dara, langsung bergegas menolong Dara dengan berlari sangat cepat.

“Dara! Bangun!” Lurik mengejar tubuh Dara diam tidak bergerak.

Si Lurik membawa tubuh Dara ke dalam rumahnya. Setelah mulai sadar, dia mengetahui bahwa yang menolongnya adalah si Lurik.

“Terimakasih banyak Lurik. Andai tidak ada kamu apa jadinya diriku.”

“Oke, Dara, sama-sama. Jangan ulangi lagi seperti itu, ya.”

“Iya, Lurik. Kamu adalah teman yang sangat baik.”

Semenjak kejadian itu Dara selalu memberi makanan setiap hari ke rumah Lurik.

“Terimakasih, sahabatku.”

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar