Merebut Garis Akhir

Stadion ramai dengan anak-anak dari berbagai sekolah. Semua siap beraksi dalam kejuaraan atletik antar sekolah tingkat dasar di Helsinki. Pa dan Ma juga sudah mengobrol dengan sesama orang tua. Langit di atas stadion Olimpiade yang megah itu biru cerah. Langit yang sama seperti saat aku menang lomba lari jarak pendek tahun lalu.

“Hei, Elsa!”

Anna melambaikan tangan padaku. Dia berdiri di lintasan memakai celana pendek dan kaos merah dengan tersenyum. Senyum yang buatku seperti ejekan. Aku balas senyumannya sambil bersandar di pagar lintasan.

Kulihat Tuan Tapio, guru olah ragaku, bicara pada Anna. Kau harus cepat dari awal. Atur napasmu sampai finish! Begitu pasti kata Tuan Tapio, seperti biasa kudengar.

Kepala Anna manggut-manggut, seperti boneka di dashboard mobil Pa. Dia pasti ingin menang lomba lari jarak pendek. Coba saja kalau bisa!

“Aku ingin mengalahkanmu!” tukas Anna sebulan lalu usai berlatih.

Aku tertawa. “Nanti, kalau aku nggak ikut lomba!”

Anna baru enam bulan pindah ke sekolahku. Dia sekelas denganku di kelas 6 dan juga suka lari jarak pendek. Hal yang menyebalkan!

“Dia anak baru!” seru Helga satu ketika di kantin, “pasti ingin diakui!”

Aku mengangguk sambil menggigit sandwich isi ikan haring.

“Dia juga selalu angkat tangan dan menjawab, kalau ada guru yang bertanya!” sambung Inge.

“Kamu juga bisa angkat tangan!” celetukku.

Inge diam, tapi mulutnya terlihat bergerak mengunyah kentang goreng. Aku melihatnya seperti sapi sedang mengunyah rumput. Badan Inge memang hampir sebesar anak sapi. Tapi aku tak mau mengatakan itu padanya.

“Buat apa aku angkat tangan?” cibir Inge. “Belum tentu aku bisa jawab pertanyaannya!”

Aku dan Helga tertawa.

“Dia juga sainganmu di lari jarak pendek!” cetus Inge padaku.

Tawaku terhenti. Inge terlihat serba salah.

“Maafkan ucapanku,” ucap Inge pelan.

“Nggak apa-apa,” sahutku sambil memakan sisa sandwich yang sudah tak nikmat lagi.

Di saat lain, aku berjalan pulang bareng Anna.

“Aku ingin menang lari jarak pendek di olimpiade atletik satu saat nanti!” tukas Anna.

“Kamu ikut-ikutan saja!”

“Aku ingin sepertimu,” ungkap Anna. “Terkenal sebab sering menang lomba lari!”

Aku berhenti dan melihat padanya. “kamu cuma mau terkenal?”

Anna diam sambil merapikan poninya.

“Kamu tahu bagaimana usahaku untuk menang di tiap lomba?”

Anna menggeleng. “Bagaimana?”

“Aku nggak mau kasih tahu!” ketusku seraya meninggalkannya.

“Aku mau tahu, Elsa!” rengeknya menyusulku.

Aku berhenti lagi dan melihat wajah Anna yang penuh bintik dengan mata bulat.

“Aku mau pulang, lapar!” cetusku.

“Aku juga lapar,” sahut Anna. “Boleh ikut ke rumahmu?”

“Nggak!”

Aku meninggalkannya. Sejak saat itu, kulihat Anna makin semangat berlatih. Dia juga sering membawa sandwich isi ikan haring untukku. Tujuannya agar aku memberinya tips untuk menang lari. Aku senang menerima sandwich buatan mamanya, tapi tak mau berbagi tips lari padanya.

“Kamu jahat!” tukas Anna minggu lalu selesai latihan lari. “Kenapa nggak mau mengalah padaku?”

“Kamu cukup juara dua saja!” ejekku sambil lari ke ruang ganti.

***

“Kau sudah datang, Elsa!”

Aku kaget dan berpaling melihat Helga menyapa dari belakang. Dia bersama Inge. Kami pun menuju lintasan. Anna dan pelari dari sekolah lain sudah bersiap di garis start.

Anna melakukan start jongkok tak jauh dariku. Dia menoleh padaku tersenyum kecil. Aku membalasnya. Wasit memberi aba-aba dan mengacungkan pistol ke udara. Suasana menjadi hening.

“Dor!” suara pistol memecah kesunyian.

Semua lari. Semua saling adu cepat. Saling susul. Berlari sekencang-kencangnya. Aku melihat Anna menjauh. Dia berlari seperti kesetanan. Dia menerobos pelari terdepan dan memimpin. Aku tegang.

Tak lama, Anna melewati wasit yang mengibarkan bendera di garis finish. Dia bersorak girang. Dia melompat ke udara. Hal yang setahun lalu kulakukan.

“Aku menang!” seru Anna memelukku. Aku hampir jatuh dari tumpuan kaki.

Aku tersenyum kecut . Anna bergegas menuju Tuan Tapio dan memeluknya juga. Tuan Tapio terlihat senang dan bangga. Persis seperti tahun lalu padaku.

Anna memang hebat!

Aku meninggalkan lintasan. Kulihat Pa dan Ma memandangiku dari bangku penonton. Mereka pasti tahu perasaanku. Aku terus menyeret langkah keluar stadion.

Seharusnya aku yang menang di garis akhir!

Kalau saja kemarin aku tidak bersepeda gunung, mungkin aku tidak jatuh dan telapak kakiku takkan retak.

Bukit itu terjal, Elsa, bahaya! 

Andai aku mengikuti perkataan Ma kemarin itu, sekarang mungkin aku tak perlu bertumpu dengan tongkat. Aku tentu bisa ikut lari hari ini. Sekarang aku harus menunggu tahun depan untuk merebut juara dari Anna!

*****

(Bobo No. 01/ tahun XL/ 12 April 2012)
Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar