Misteri Monster Berbintil di Pulau Terpencil – Part 2

Part 2 – Izin yang Sulit

“Ayolah, Ambu (Ibu), cuma beberapa hari saja, kok, Matahari di Tanjung Lesung,” bujuk Matahari pada Ibunya yang berasal dari suku Sunda. Wajah melasnya ini hanya ditunjukkan ke Ambu, teman-temannya tidak pernah melihat raut wajahnya yang ini.

“Kita sudah sepakat mau ke rumah Kakek dan Nenek di Sukabumi, kan?” ingat Ambu.

“Nanti pulang dari Tanjung Lesung Matahari menyusul Ambu, deh. Seharian Matahari akan ada di rumah Nenek.”

“Apa? Cuma seharian saja kamu di rumah Nenek?” Ambu melotot.

“Kan, liburan semester kemarin Matahari lama tinggal di rumah Nenek,” Matahari beralasan.

“Kamu lupa, ya? Liburan tahun lalu kamu ikut ke Dudung ke rumah Bibinya di Garut.”

“Tapi, kan, di Garut itu hanya sebentar, Ambu. Sisa liburannya Matahari habiskan di Sukabumi,” Matahari masih saja mencari alasan.

“Dihabiskan buat tidur karena kecapekan main di Garut maksudmu?”

“Kali ini Matahari janji, Ambu, tidak akan tidur mulu di rumah Nenek dan Kakek,” ujar Matahari dengan wajah serius.

“Kalau kamu kecapekan main, pasti tidur!” ujar Ambu.

Ambu memang sangat mengharapkan Matahari ke rumah Kakek Neneknya di Sukabumi. Ia satu-satunya cucu laki-laki dalam keluarga besar mereka. Kakek selalu senang saat Matahari datang. Jika Matahari tidak ikut, Kakek akan bertanya-tanya.

“Sudahlah, Ambu. Izinkan saja Matahari itu liburan dengan teman-temannya,” tiba-tiba Abah (Ayah) ikut ngobrol.

“Akhir-akhir ini Matahari tidak lagi menghabiskan liburan panjangnya di Sukabumi. Ambu kasihan dengan Kakek,” ujar Ambu sedih.

“Ayolah, Ambu. Kapan lagi anakmu ini dapat paket wisata gratis,” rajuk Matahari.

“Tidak! Pokoknya Ambu tidak izinkan!”

“Ini hajatan nikahnya Paman Bunga. Matahari diundang, lho. Masa tidak datang?” bujuk Matahari.

“Iya, awalnya ke hajatan, tapi akhirnya akan main ke mana-mana seperti yang sudah-sudah, kan? Ambu hapal kelakuanmu, Mat!”

Matahari tertunduk lesu. Duh, bagaimana ini, hiks!

Matahari berjalan gontai ke rumah Dudung. “Kenapa, Dung? Kok, wajahmu muram?” Anak itu sedang duduk di lantai teras rumah saat Matahari datang.

“Wajahmu juga kusut, Mat.”

Matahari tersenyum kecut. “Emakmu tidak membolehkan kamu pergi ke Tanjung Lesung, ya?” tebak Matahari.

“Aku belum cerita apa-apa ke Emak tentang rencana ke Tanjung Lesung. Biasanya saat liburan panjang, saudara-saudaraku banyak yang datang. Kalau aku pergi, siapa nanti yang bantu Emak? Kan, kamu tahu sendiri, kami tidak punya pembantu. Adikku masih TK. Aku tidak tega kalau nanti Emak kecapekan melayani sendiri tamu-tamu yang datang,” kata Dudung.

Matahari terdiam. Dudung juga diam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Kalau Dudung mau pergi ke pesta Paman Bunga, pergi saja, Nak,” tiba-tiba terdengar suara lembut Emak Dudung yang sudah ada di belakang mereka.

“Be-benaran, Mak?” mata Dudung terbelalak. “Emak tahu dari mana Dudung mau ke Tanjung Lesung?”

Emak tersenyum, “Ummi (Ibu) Bunga cerita waktu ketemu Emak di warung tadi.”

“Tapi siapa yang akan bantu Emak saat banyak saudara di rumah kita nanti?”

“Emak bisa minta tolong Mak Edoh, tetangga yang tinggal di pojok jalan itu.”

“Tapi, Mak..,” Dudung masih khawatir.

Emak mengelus rambut anaknya, “Jadi Dudung mau pilih yang mana? Tetap di rumah atau ke Tanjung Lesung?”

“Tanjung Lesung!” seru Dudung sambil memeluk Emaknya, “Terima kasih, Mak.”

“Tapi ingat, hati-hati. Jangan merepotkan orang lain.”

“Iya, Mak,” Dudung mengangguk sambil tersenyum.

Matahari bengong. Mudah sekali Dudung mendapat izin, batinnya. Matahari ingat, Dudung memang anak yang selalu patuh pada Emaknya. Ia jarang sekali membantah. Wajar sekarang Emaknya mengizinkannya jalan-jalan. Tidak seperti dirinya yang sering membantah kata-kata Ambu. Ugh! Matahari menyesali kelakuannya sendiri.

Emak Dudung masuk ke dalam rumah. Saat yang sama Bunga muncul dengan senyum merekah.

“Hai, Bung! Ayo, duduk di sini!” ajak Dudung.

“Ih, memangnya aku bungkusan, dipanggil ‘bung’ begitu!” protes Bunga.

Dudung dan Matahari tertawa. Mereka tidak bermaksud meledek Bunga.

“Emakku sudah mengizinkan aku ke Tanjung Lesung!” seru Dudung.

“Syukurlah!” seru Bunga senang, “Kau, Mat?”

Abah membolehkan, tapi Ambu tidak,” ujar Matahari dengan wajah lesu. Ada air mata tergenang di sudut matanya.

“Bagaimana dengan Lilis? Dia sudah dapat izin dari orang tuanya?” tanya Matahari.

“Sudah. Yang bantu menyiapkan hantaran pesta Pamanku nanti, kan, Ibunya Lilis,” jelas Bunga.

“Wah, enak sekali dia!” ujar Matahari pelan.

Matahari dan Bunga tidak lama-lama di rumah Dudung. Adzan maghrib membubarkan mereka.

“Mat, kalau kau boleh ke Tanjung Lesung,” ujar Abah ketika Matahari baru masuk rumah.

Ambu bagaimana?”

Ambu mengizinkan, kok,” ujar Ambu keluar dari kamar, “Ambu dan Abah sudah berdiskusi. Kamu boleh ke Tanjung Lesung.”

“Serius, Ambu? Terima kasih, ya,” Matahari mencium pipi Ambu dengan wajah berseri-seri.

Ambu dan Abah saling lirik. Mereka tersenyum geli.

Alis Matahari bertaut. Ia menatap Ambu dan Abah dengan pandangan curiga. Jarang-jarang Ambu dan Abah tersenyum geli begitu.

Apa yang membuat Ambu dan Abah seperti itu? Apakah itu sebuah kode? Apakah ada hubungannya dengan rencana Matahari ke Tanjung Lesung?

(Bersambung…)

Misteri Monster Berbintil di Pulau Terpencil
Novel Petualangan Anak 10-12 Tahun
Penulis: Tethy Ezokanzo dan Wahyu Annisha

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar