Misteri Monster Berbintil di Pulau Terpencil – Part 6

Part 6 – Ujang yang Ramah

Pesta pernikahan Paman Bunga dilaksanakan di penginapan itu. Pesta dimulai dari pagi hingga sore hari. Pestanya sangat meriah. Banyak atraksi suku Sunda yang ditampilkan.

Ada atraksi rampak bedug, yaitu bedug-bedug ditabuh secara serempak dengan gerakan atraksi yang memukau. Ada bendrong lesung, yaitu tarian menggunakan lesung dan alu. Lesung dan alu adalah alat yang dipakai untuk menumbuk padi atau tepung beras. Juga ada debus dan pencak silat khas Banten.

Hidangannya juga berbagai macam. Selain hidangan yang sering ada di pesta, juga disajikan hidangan tradisional khas Banten. Ada sayur besan, lepet banten, lemang, pecak bandeng, kue jojorong, kue pasung, nasi bakar sumsum, angeun lada, opak, gecom (tauge oncom), rengginang, kue cucur, rabeg banten, nasi gonjleng, kue gipang, sambel burog, sate bandeng, juga kue balok menes.

Dudung mencubit sepotong kue balok menes, dimasukkannya ke dalam mulut. Lezatnya rasa singkong dipadu gurihnya serundeng dan bawang goreng membuat mata Dudung merem melek. “Lilis, sini! Cicipi kue balok menes ini. Kue ini mewakili Baduy,” ajak Dudung.

“Tapi aku mau melihat langsung suasana keindahan alam Baduy,” ujar Lilis.

“Iya, tapi kampung Baduy jauh dari Tanjung Lesung,” ujar Matahari.

“Hey! Kalian sudah lihat akrobat? Seru banget, lho!” Bunga datang berlari-lari kecil.

“Di mana?” Dudung penasaran.

“Di sana,” Bunga menunjuk pohon cemara rimbun yang dikerumuni orang-orang.

Keempat anak itu bergegas ke tempat itu. Orang-orang bertepuk tangan. Seorang anak seumuran mereka sedang naik egrang, kedua tangannya juga sibuk memainkan lima bola yang dilempar-lempar bergantian.

“Hebat! Hebat!” Lilis bertepuk tangan.

“Kata Pamanku, nanti juga ada wayang golek Cepot dan Dawala,” kata Bunga.

“Aku suka Cepot! Dia lucu tapi bijaksana! Kalau Dawala hidungnya khas, panjang,” ujar Matahari.

Menjelang sore, keempat anak itu kelelahan. Mereka sudah puas nonton atraksi, makan, dan main ke sana-sini. Mereka kini duduk-duduk di depan kamar penginapan. Sepoi-sepoi angin pantai membuat keempatnya terkantuk-kantuk.

Seorang Anak lelaki lewat berjalan kaki. Kulitnya sawo matang. Rambut tipisnya yang dipotong pendek berwarna asli agak kemerah-merahan, bukan diwarnai.

Bunga mendengar suara langkah kaki Anak itu. Bunga menatapnya tajam, “Hei, kamu yang tadi naik egrang sambil melempar bola itu, kan?”

Anak itu sedikit kaget, “Iya.”

“Kamu lihai sekali bermain akrobat,” puji Bunga.

“Terima kasih.”

“Kamu bisa main debus juga?” Lilis ikut nimbrung.

“Di Banten ini banyak yang pintar main debus, kok.”

“Namamu siapa?” tanya Matahari.

“Ujang.”

Matahari, Bunga, Lilis, dan Dudung memperkenalkan diri. Keempat anak itu senang bisa ngobrol dengan anak jago main akrobat.

“Kamu tinggal di mana? Dekat sini?” tanya Lilis.

“Iya. Ayah dan Ibuku asli dari Tanjung Lesung. Orang tuaku juga kerja di penginapan ini, sudah lama. Kadang-kadang kalau ada wisatawan, aku diminta mengantar mereka.”

“Oh, ya?” mata Matahari langsung berbinar, kata-kata Ujang itu informasi penting baginya, “kamu bisa mengajak kami jalan-jalan keliling laut sekitar Tanjung Lesung?”

“Bisa,” ujar Ujang.

“Asik, besok kita jalan-jalan ke laut!” Matahari berjoget-joget, jiwa petualangnya menyala-nyala.

“Malam hari kita bisa menangkap ikan, pulangnya menjelang subuh. Sebaiknya kita pergi pagi hari saja agar kalian puas berkeliling dulu,” jelas Ujang.

“Wahh… mancing, ya?” Bunga tersenyum lebar, “Mancing! Mancing!”

“Habis itu kita lanjut wisata kuliner, ya?” ujar Dudung.

“Kita sudah makan banyak banget tadi, Dung!” bantah Matahari.

“Iya, Matahari benar, Dung!” tambah Bunga.

Dudung termangu. Hatinya tetap ingin pergi untuk wisata kuliner, tapi Matahari benar, mereka tadi makan berbagai macam masakan ala Banten. Sepertinya wisata kuliner dilanjutkan lusa.

“Kamu mau mengajak kami kemana, Jang?” Lilis menatap Ujang.

“Ke pantai lalu akan kutunjukan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar laut sini. Nanti kita bisa mendirikan kemah di sana.”

“Wah, kemping, ya? Setuju!” mata Matahari makin berbinar-binar. “Tapi pulau-pulau itu aman, kan?”

“Katanya mau bertualang? Kalau mau yang aman, sih, mending di kamar rumah saja,” Ujang tersenyum.

Matahari salah tingkah. Dadang, Bunga, dan Lilis ketawa.

Ujang pulang setelah janji akan datang keesokan paginya. Bunga dan ketiga temannya lanjut menikmati sunset.

Malam itu keempat anak itu tidak bisa tidur nyenyak. Mereka membayangkan petualangan seru bersama Ujang esok hari.

Apakah Ujang benar akan memenuhi janjinya, mengajak keempat anak-anak itu jalan-jalan keliling laut di Tanjung Lesung?

 

(Bersambung…)

Misteri Monster Berbintil di Pulau Terpencil
Novel Petualangan Anak 10-12 Tahun
Penulis: Tethy Ezokanzo dan Wahyu Annisha

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar