Pencarian Vesivatoa [Part 18 : PETUNJUK PERTAMA]

Ghazi sedang duduk serius menatap layar komputernya. Anak laki-laki blasteran Turki-Korea itu mengamati peta dunia dengan saksama. Ia menandai daerah-daerah yang masih alami dan memungkinkan ​Vesivatoa bisa bertahan di tempat itu. Waktu yang tersisa tinggal delapan minggu lagi. Ia khawatir jika tidak dapat menjalankan misi dari Profesor Will untuk menyelamatkan masa depan, mereka akan kehabisan air bersih!

Betapa berharganya air untuk kehidupan. Ghazi jadi menyesal, karena terkadang menggunakan air dengan boros dan sembrono. Belum lagi sekarang hutan-hutan banyak yang digunduli. Padahal berfungsi untuk menyerap air hujan di dalam tanah.

“Ghazi, ada telepon!” Suara ibunya terdengar memanggil dari ruang tengah. Anak lelaki itu beranjak dari kursi putarnya lalu berlari ke luar kamar.

“Halo ….”

“Ghazi, pagi tadi waktu Nabiella olahraga ke hutan Dolla, gelangnya berkedip, tapi cahayanya sangat lemah,” suara Alana di seberang sana terdengar antusias.

“Serius? Ayo kita segera ke sana!”

“Tapi … ada sedikit masalah,” ujar Alana gelisah. “Ceritanya panjang, kau datang saja ke rumahku! Kami berempat sedang berkumpul di sini.”

Usai menutup telepon, Ghazi segera berlari ke kamar, bersiap-siap untuk berangkat. Tak lupa ia membawa sekotak baklava buatan ibunya.

“Bu, mungkin nanti aku pulangnya telat, ya,” Ghazi mencium tangan ibunya takzim.

Ketika Ghazi sampai di rumah Alana yang terletak di tepi hutan Dolla, ia melihat keempat temannya sedang mengobrol serius di taman.

“Assalamualaikum! Kalian serius amat,” sapa Ghazi, “Ayo makan baklava dulu, buat menambah energi.” Anak berambut cokelat itu meletakkan sekotak baklava di atas meja taman.

“Alhamdulillah … untung kamu bawa makanan, Ghazi. Otakku rasanya sudah berasap dari tadi,” sambut Kalma. Gadis itu langsung mencomot sepotong baklava. Rupanya makanan berhasil membuat Ghazi dan Kalma menjadi rukun. Biasanya mereka berdua selalu berbeda pendapat.

“Beberapa hari yang lalu, aku dan Adora bertemu dengan anak kelas 9 SMP bernama Wiranesha dan kami sempat pergi bersama untuk mencari jamur di dalam hutan,” Nabiella memulai kisahnya.

“Wiranesha? Jangan-jangan … dia kakek moyangnya Asher, ya?” tanya Ghazi setengah percaya, setengah tak percaya.

“Entahlah,” jawab Nabiella. “Tadi sehabis Subuh, aku berniat untuk pergi ke sana lagi, sambil olah raga. Sayangnya aku tidak bisa menemukan tempat itu lagi. Tapi dalam perjalanan ke sana, tiba-tiba gelangku menyala.”

“Hmm … gelangmu itu harusnya yang paling sensitif di antara gelang kita. Selain bisa menunjukkan lokasi presisi saat sudah makin dekat, bisa jadi juga berkedip lebih cepat walau posisinya masih agak jauh kan?” timpal Ghazi. 

“Iya sih. Tapi Wira pernah cerita kalau di hutan Dolla ini ada mata air terlarang yang tidak boleh dikunjungi oleh ayahnya. Firasatku mengatakan jangan-jangan Vesivatoa tersimpan di sana.”

“Kalau begitu ayo kita ke sana sekarang!” Seru Alana bersemangat. “Kita bisa minta bantuan Wira untuk menunjukkan jalannya.

“Sayangnya, Wira tidak mau mengantar kita ke mata air itu. Terlalu berbahaya,” Adora ikut berpendapat.

“Tapi kan selama ini kita belum pernah mendengar ada kejadian aneh di hutan Dolla. Berarti seharusnya aman,” timpal Ghazi yakin. “Lagipula, kita ke sana bukan untuk main-main. Kita punya tugas penting yang menyangkut kehidupan orang-orang di masa depan!”

“Bagaimana kalau kita cari sendiri saja?” usul Nabiella. “Walaupun … aku tidak bisa menjamin kita bakal tidak kesasar di dalam hutan.”

“Yah, kalau begitu jangan! Nanti kita bisa mati kelaparan di sana!” seru Kalma. “Kecuali rumah makan Padang sudah buka cabang di Hutan Dolla,” tambahnya polos.

Ghazi pun menepuk kening mendengar jawaban Kalma. Spontan anak-anak lain juga ikut terkikik geli.

“Tampaknya kita harus membujuk Wira,” Alana akhirnya ikut berbicara. “Tapi … siapa yang bisa melakukannya?”

Anak-anak itu saling bertatapan. Di antara mereka semua, hanya Nabiella dan Adora yang sudah mengenal Wira.

“Ehem … biar aku saja yang membujuk Wira,” ujar Adora malu-malu, pipinya mulai bersemu merah. 

“Kamu yakin?” tanya Ghazi tak percaya. “Bagaimana cara membujuknya?”

“Kalian percayakan saja padaku.”

Anak-anak itu pulang untuk menyiapkan perbekalan dan berjanji bertemu kembali di depan rumah Alana sebelum tengah hari. Adora pun berangkat membawa misinya untuk membujuk Wira.

***

Terdengar suara ketukan di pintu rumah Wira. Dia bergegas membuka pintu lalu melongok ke luar. Gadis kecil berkerudung pink tengah berdiri di teras.

“Adora?”

“Maaf kalau mengganggu. Aku ingin mengembalikan sapu tanganmu. Terima kasih, ya.”

“Ah … aku lupa bilang, kamu tak perlu mengembalikannya.” Wira merasa tak enak membuat Adora datang hanya untuk mengembalikan benda itu. “Bagaimana lukamu? Sudah membaik?”

“Sudah, Alhamdulillah,” Adora memperlihatkan lengannya yang terbalut kain kasa dengan rapi. “Emmm … siang ini aku ingin ke tempat kemarin lagi,” Adora berkata perlahan, tapi wajahnya penuh harap.

“Ke sana lagi? Dengan siapa?”

“Mungkin aku akan mengajak teman-temanku. Dan … kami … ingin mencari mata air terlarang itu,” Adora berbicara dengan nada lirih dan kepala tertunduk. Tangan kanannya sibuk memutar-mutar ujung kerudung..

“Kalian jangan gila! Aku `kan sudah bilang, tempat itu terlarang dan mungkin berbahaya!” Suara Wira meninggi, rasa marah dan khawatir bercampur dalam hatinya.

“Ya aku tahu. Namun, teman kami sedang sangat membutuhkan bantuan, dan kemungkinan sesuatu yang bisa menyelamatkan mereka tersembunyi di dalam sana. Apa kau mau … menemani kami?” Adora bertanya ragu-ragu. Tatapan matanya tampak begitu memelas, membuat luluh hati siapapun yang melihatnya.

Wira menghela napas dalam. Apa yang terjadi pada anak-anak itu? Semakin dilarang malah semakin ingin ke sana.

“Maaf aku tidak bisa menemani, dan kusarankan kamu juga tidak usah ke sana! Bahaya, Adora!” Wira berusaha meyakinkan Adora. Ia benar-benar tak ingin jika terjadi hal buruk pada anak perempuan itu.

“Baiklah, aku tidak bisa memaksamu. Mungkin kami akan tetap berangkat sendiri usai shalat Zhuhur nanti,” jelas Adora. “Aku pergi dulu, ya. Doakan kami.”

Anak perempuan itu membalikkan tubuhnya, lalu menghilang di belokan Gang Gulipat. Wira masih berdiri di depan rumahnya, memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Bagaimana kalau Adora dan teman-temannya bertemu ular atau hewan buas yang lain di sana? Atau lebih gawat lagi, mereka bisa tersesat di hutan. ​Anak yang nekad sekali​, batinnya.

Wira pun masuk ke dalam rumah. Kembali berkutat dengan tugas rutin dari ayahnya, merangkai mesin sederhana.

***

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar