Si Kambing Meminang Putri Raja

“Ooooeyaaaaa…!”

Tangis bayi terdengar nyaring. Allah telah menjawab doa sepasang  renta. Namun alangkah terkejutnya, saat dukun menyerahkan bayi mungil yang baru lahir itu untuk disusui. Tampak bukan seperti manusia, lebih mirip seekor kambing. Kedua orang tua itu kaget bukan kepalang.

“Bukankah kita telah berdoa meminta kehadiran seorang anak. Tak peduli lelaki atau perempuan, bagaimanapun wajahnya, akan kita terima penuh bahagia sebagai karunia dari Tuhan!”

“Hanya fisiknya seperti kambing. Budi pekertinya mungkin lebih baik. Kita akan memeliharanya agar kelak ia tumbuh menjadi anak yang baik!” Kata  sang ibu.

Hari-hari berlalu. Si Kambing tumbuh dengan kasih-sayang yang sempurna.  Dia berbudi luhur, sopan, hormat kepada yang tua, sayang kepada yang muda, senang menolong sesama.

Tiba masanya Si Kambing dewasa. Ia punya keinginan seperti pemuda seusianya, menikah dengan seorang gadis. Disampaikanlah keinginan itu kepada kedua orang tuanya.

“Ibunda, Ayahanda…! Aku ingin menikah dengan putri raja!”

Kedua orang tuanya bertatapan heran.

 “Lamarkanlah olehku salah satu dari tujuh orang putri raja!”

Serasa petir menyambar gubuk reotnya. Betapa tinggi keinginan anaknya.

Karena cinta dan kasih sayang, kedua orang tua itu berangkat sangat pagi esok hari, menuju istana bertemu raja. Disampaikan keinginan meminang. Sang raja tercengang. Bersama permaisuri, diundanglah ketujuh putrinya yang jelita. Disampaikan maksud kedatangan orang tua Si Kambing.

Enam orang putri menolak. Hati kedua orang tua Si Kambing sakit tak terkira. Benarlah dugaan mereka, tak mungkin putri ingin menikah dengan anaknya.

“Biarlah saya tidak bersuami hingga tua, asalkan tidak menikah dengan seekor kambing!” Ucap  putri kedua.

“Maafkan anak-anak kami!” Ujar raja dan permaisuri.

Kedua orang tua itu bersedih.  Namun harapannya terkabul dari Putri Ketujuh.

“Saya menerima pinangan anakmu dengan syarat. Saat pernikahan berlangsung. Jalan dari rumahmu sampai ke istana harus dilapisi permadani emas. Rumah gubukmu diganti rumah emas. Pesta perkawinan digelar 40 hari 40 malam. Seluruh rakyat harus dijamu. Seluruh raja dari negeri seberang harus diundang.

“Saya meminta cincin, gelang, anting, sandal, baju pengantin, kursi pelaminan, alas kasur yang terbuat dari emas!”

Kedua orang tua itu kaget dan kebingungan.

“Apakah anakmu mampu memenuhi permintaan putriku?” Tanya Raja.

Orang tua Si Kambing menyetujui. Pulanglah mereka dengan langkah lunglai sebab bingung memikirkan syarat Putri Ketujuh. Di rumah, Si Kambing menyambut keduanya penuh ceria.

“Putri Ketujuh menerima lamaranmu. Dia meminta persyaratan yang mustahil dipenuhi!” Ungkap ayahnya sambil menyampaikan persyaratan putri.

“Hanya itu yang diminta putri, Ayah, Ibu?” Tukas anaknya.

Kedua orang tuanya heran. Anaknya begitu enteng, tidak terlalu risau dengan persyaratan itu.

Hari pernikahan tiba. Ayah dan Ibu Si Kambing terlelap karena lelah. Keduanya terkesima saat terbangun. Kilatan cahaya dari langit mengelilingi rumah mereka. Sekejap segalanya berubah. Tak didapati anaknya Si Kambing yang buruk rupa. Seorang lelaki gagah berpakaian megah, lengkap dengan kereta kuda berlapis emas sudah menunggu di depan rumah. Rumah tempat tinggalnya berubah istana berlapis emas. Di pekarangan, ratusan hewan ternak ditambah bahan makanan dari gandum dan beras telah tersedia. Ajaib. Di jalan, tergelar permadani emas menuju istana kerajaan. Si Kambing berseru mengajak orang tuanya segera bergegas. Pelayanan hilir-mudik, mempersiapkan pakaian terbaik untuk keduanya.

Iringan pengantin disaksikan ribuan hadirin. Si Kambing yang jelek berubah menjadi pangeran tampan. Raja, permaisuri, dan seluruh undangan, termasuk ketujuh putri raja terpana. Segala syarat yang diminta Putri Ketujuh dipenuhi. Raja menikahkan anaknya. Pesta berlangsung 40 hari 40 malam. Rakyat bergembira merayakan pernikahan Si Kambing dengan Putri Ketujuh. Ada enam orang yang berduka. Mereka para putri raja yang menolak pinangan Si Kambing.  Penyesalan selalu datang kemudian.

Si Kambing dan Putri Ketujuh hidup bahagia. Mereka mewarisi takhta kerajaan, diangkat menjadi raja dan permaisuri yang dicintai seluruh rakyat, disayangi seluruh makhluk. Sungguh benar! Siapa yang menanam kebaikan kelak akan menuai kebaikan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar