Antara Aku dan Ical

Ical namanya. Selain pintar, ia juga pandai bermain sepak bola. Jadi, tidak heran kalau Pak Lukman selalu menempatkannya sebagai kapten. Ia sangat berbeda dengan diriku. Aku tidak berprestasi. Bahkan, aku pernah tidak naik kelas.

Usai pelajaran olahraga, Pak Lukman memanggilku. “Ravan, mulai besok kamu latihan, ya.”

“Latihan apa, Pak?” tanyaku semangat.

“Sepak bola. Jadwalnya, bisa  kamu lihat di papan pengumuman dekat kantor guru!” ujar pak Lukman ramah.

“Kok, saya, Pak?” aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar.

“Kenapa bingung? Bapak pernah lihat kamu bermain bola bersama teman-temanmu. Ternyata kamu pintar juga, ya,” puji Pak Lukman sembari menepuk bahuku.

Sore hari dengan semangat empat lima aku berangkat latihan. Teman-teman yang lain sudah berkumpul di lapangan tidak terkecuali dengan Ical. Sepatu dan kaos bola merk terkenal membuatnya tambah keren.

“Anak baru, ya?” tegur Ical sedikit keras.

“Ya, dong, Cal!” jawabku penuh percaya diri.

Sok akrab, kamu!” jawabnya ketus. Ia kemudian pergi meninggalkanku tanpa basa-basi. Aku sangat kecewa dengan ucapannya tadi. Walaupun kami beda kelas, masa ia tidak mengenalku? Ia kelas 5A dan aku 5B.

Sepertinya, Ical kurang suka padaku. Dengan teman-teman yang lain ia akrab, bersenda gurau, tertawa riang. Denganku bertegur sapa saja dirinya enggan. Namun begitu, aku tidak mau ambil pusing. Teman-teman lain tetap akrab denganku.

“Anak-anak, seminggu lagi pertandingan memperebutkan piala bupati, Bapak harap kalian latihan dengan serius!” arahan pak Lukman setelah kami berlatih selama dua minggu.

“Horeee!” teman-teman bersorak gembira. Akan tetapi, aku diam saja. Aku takut tidak menjadi tim inti saat lomba nanti. Yang kudengar, akan dipilih lagi oleh Pak Lukman.

“Ravan, kamu sakit?” tiba-tiba pak Lukman menyebut namaku.

“Ehh…ahh enggak, Pak,” jawabku gugup.

“Bapak kira kamu sakit. Konsentrasi, ya!”

“Kucingnya yang sakit, Pak!” sindir Ical.

“Haha….” tanpa dikomando teman-teman menertawakanku. Aku jadi malu dengan celetukan Ical. Namun, aku hanya bisa menahannya.

Latihan hari ini selesai. Kami pulang dengan mengendarai sepeda. Iring-iringan kami sebentar-sebentar memenuhi jalan kemudian menepi lagi ketika ada kendaraan yang mau lewat. Semuanya terlihat senang. Termasuk aku yang  akan bertanding seminggu lagi.

Kulihat Ical keluar dari rombongan. Ia memacu sepedanya menjauhi kami. Ical memutar-mutar sepedanya.  Ia membuat gerakan melompat seperti akrobat. Teman-teman sangat mengaguminya. Ical benar-benar hebat, pujiku dalam hati.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang dari depan. Ical tidak sempat menghindar.  Dugg… Sepeda motor itu menabraknya. Ical terpental.

Semuanya panik. Kami serempak  menolong Ical. Aku sedih melihat kondisinya. Rasa dongkol, kecewa dengan sikapnya selama ini, seketika menghilang.

”Rama, Beno kalian ke rumahnya Ical, beritahu Pak Ihsan!” perintahku cepat.

”Yang lain kita bawa Ical ke tepi jalan. Bereskan juga sepedanya!”

Aku seperti panglima perang yang sedang mengatur prajurit. Untunglah mereka mendengar ucapanku.

Ical menderita luka parah. Kaki kanannya cedera dan retak. Aku dan teman-teman selalu menjenguknya. Ical jadi terhibur. Hari ini kami juga janjian mau ke rumah sakit. Akan tetapi, teman-teman belum ada yang datang. Aku ragu mau masuk. Cukup lama aku berdiri di depan pintu. Ingin rasanya aku mundur tapi Ical sudah terlanjur melihatku.

“Masuk Van,” ucapnya seraya tersenyum.

“Gimana keadaanmu, Cal?” tanyaku ragu.

“Sudah membaik. Terima kasih sudah datang menjengukku.”

“Sama-sama,” jawabku singkat. Untunglah Rama dan Beno datang. Suasana yang kaku secepatnya bisa teratasi oleh banyolan mereka.

***

Kemarin Ical diperbolehkan pulang. Hari ini adalah babak penyisihan pertandingan. Dion yang menggantikan Ical sebagai kapten. Dengan semangat yang tinggi, akhirnya kami bisa masuk final. Ical  selalu menyaksikan pertandingan walaupun berada di kursi roda.

“Ravan, semangat ya!” ucapnya sambil mengacungkan jempol.

”Pak Lukman tidak salah mengajakmu bergabung,” lanjutnya. Aku hanya tersenyum lebar. Aku tidak menyangka akan dapat pujian dari Ical.

“Aku nggak suka kamu bergabung di tim sekolah. Pak Lukman tidak mengetesmu, tiba-tiba langsung latihan. Menjadi tim inti lagi. Kamu memang pandai,Van. Maafkan aku, ya,” sesal Ical. Aku mengangguk, mengiyakan.

“Ravan, ayo masuk!” teriak pak Lukman karena pertandingan akan segera dimulai.

“Semangat, Van!” Untuk kedua kalinya ia mengacungkan jempolnya kepadaku.

Tim lawan sangatlah berat. Berkali-kali Pak Lukman mengganti pemain. Semangat dan tepuk tangan tidak henti-hentinya diberikan oleh teman-teman.

Karena kedudukan sama, akhirnya diadakan adu penalti. Teman-teman bersorak gembira. Tendangan terakhirku adalah kemenangan kami.

“Hidup Ravan!” teriak teman-teman spontan.

Dengan bangga kami bisa memberikan prestasi untuk sekolah tetapi yang tidak kalah penting adalah persahabatan. Akhirnya aku dan Ical bisa jadi teman yang baik.

Majalah Bobo 25 September 2015

Bagikan artikel ini:

2 pemikiran pada “Antara Aku dan Ical”

Tinggalkan komentar