Misteri Prasasti Hutan Larangan – Bab 10

BAB 10

Anak-Anak yang Menghilang

 

Hutan kembali sunyi. Sesiangan tadi suara binatang hutan terdengar saling bersahutan. Suara burung bernyanyi merdu di ujung-ujung dahan tertinggi, jeritan monyet liar yang saling berlompatan dari dahan ke dahan, suara tonggeret yang melengking, dan suara binatang hutan lainnya saling pamer suara masing-masing. Kali ini suara-suara itu perlahan menghilang, seolah tahu senja sudah datang. Sudah saatnya mereka kembali ke sarang.

Bima menoleh ke arah Jali yang tersandar lesu ke tiang gubuk.

“Kek Mahdi mungkin tidak akan datang ke gubuk ini, Li,” kata Bima gelisah.

Jali mengangguk. Mereka sudah menunggu lama sekali di tempat itu, tapi bayangan Kek Mahdi tidak tampak juga. “Sepertinya kita harus mencari jalan sendiri, Bim,” jawab Jali.

“Tapi kemana, Li? Semuanya sudah tampak gelap sekarang. Apa kita malah semakin tersesat nantinya?”

“Apa kamu mau menunggu sampai besok di sini?” Jali turun dari bangku kayu yang didudukinya. Bima langsung mengikuti. Membayangkan harus bermalam di tengah hutan seperti ini rasanya sangat menyeramkan. Masih ada waktu beberapa saat lagi bagi mereka untuk mencari jalan keluar. Mudah-mudahan saja lelaki-lelaki jahat tadi sudah tidak mencari mereka.

“Kurasa kita harus mencari jalan ke sebelah kiri gubuk ini, Li. Lihat, aku baru sadar ada jalan setapak yang sudah hampir tertutupi semak. Mungkin ini jalan yang biasa digunakan Kek Mahdi. Mudah-mudahan ini membawa kita sampai ke perbatasan hutan.”

Jali mengangguk semangat. “Ayo kita ikuti jalannya, Bim.”

Jali dan Bima berjalan perlahan-lahan. Mata mereka awas mencari tanda-tanda keberadaan jalan setapak itu. Salah melangkah bisa-bisa mereka bergerak ke arah lain, dan mereka semakin terjebak dalam belantara.

Suara jangkrik mulai terdengar  mengerik. Binatang-binatang malam lainnya mulai menyenandungkan suara-suara mereka. Malam akan segera tiba.

“Kita harus buru-buru, Bim, jangan sampai kita terjebak gelap malam di sini. Ayo, mumpung jalan masih kelihatan remang-remang!” Jali menarik lengan Bima. Situasi mereka serba sulit sekarang. Berjalan pelan-pelan akan membuat mereka terjebak malam, tapi terburu-buru pun bisa membuat mereka salah jalan. Tapi mereka harus berani mengambil keputusan.

“Lihat, ada bekas tapak kaki, Li!” sorak Bima senang. Dia menunjuk jejak langkah di depan mereka. Jejak itu berupa rumput-rumput yang layu seperti bekas terinjak Ada bekas tapak sepatu tergambar di rerumputan itu. “Siapa tahu ini jejak kaki Kek Mahdi.”

Bima sepertinya tidak sadar kalau Kek Mahdi tidak pernah menggunakan sepatu!

Mendengar sorakan gembira Bima, Jali malah terdiam membeku. Matanya menatap lurus ke depan. Beberapa meter di depan mereka berdiri sosok yang justru sedang mereka hindari saat ini.

Kang Slamet!

Lelaki itu terkekeh-kekeh melihat kekagetan dua orang anak di depannya. Bima yang baru menyadari kalau tapak kaki itu adalah jejak Kang Slamet ikut terkesiap kaget.

“Akhirnya kalian tidak perlu dicari lagi. Eh, malah nongol sendiri!” Kang Slamet tertawa ngakak. Dia senang karena bisa terbebas dari kemarahan Kang Dahlan kalau dia datang tanpa kedua anak itu. Dia berjalan mendekat dengan kedua tangan siap menyergap Jali dan Bima.

“Kabuuuur ….”

Jali dan Bima langsung membalikkan badan mereka, lalu bergerak maju tanpa perlu dikomando lagi. Tapi Kang Slamet tidak mau kehilangan buruannya lagi. Dengan cepat dia menerjang dan menarik bahu Jali dan Bima, sampai kedua anak itu limbung.

BRUGG!!

Rasa letih karena menahan rasa lapar perutnya yang belum diisi makanan seharian ini, serta berlari-lari menghindari kejaran Kang Slamet, tubuh Jali dan Bima langsung ambruk dan jatuh ke rerumputan. Keduanya langsung mengerang akibat benturan itu. Meski jatuh di rerumputan, tetap saja mereka merasakan sakit.

Tapi jatuh bukan berarti kalah. Jali langsung mencari peluang untuk meloloskan diri begitu lelaki itu datang mendekat. Satu-satunya cara adalah dengan …. BUKK! Sebuah tendangan keras tersarang di perut Kang Slamet ketika lelaki itu menunduk untuk menarik tubuh Jali dan Bima.

Kang Slamet mengaduh dan tersurut mundur. Dia tidak menduga Jali akan menendangnya dengan posisi  berbaring seperti itu.

“Anak kurraangg aajjjjarrr …” erangnya marah. Badannya membungkuk, memegang perutnya yang terasa sakit.

“Lari Bim!”

Bima dan Jali melompat bangun, lalu berlari berbalik ke arah sebelumnya. Tak ada jalan lain untuk menghindari lelaki itu selain kembali ke hutan yang lebih dalam. Namun, Kang Slamet tidak membiarkan buruannya lepas lagi seperti tadi siang. Tanpa mempedulikan rasa sakit akibat tendangan Jali, dia melompat dan berlari kencang mengejar keduanya.

Jali dan Bima mulai kehilangan arah lagi. Jalan yang mereka lalui bukan jalan yang mereka lalui tadi. Mereka bergerak ke arah lain dari hutan ini. Tapi mereka tidak dapat memikirkan hal itu. Yang penting mereka selamat!

Keduanya menyibakkan semak ilalang yang menghadang mereka sebelum kemudian Jai tersadar apa yang ada di depannya kali ini. Dia menghentikan langkahnya tiba-tiba, lalu menarik lengan Bima yang ada di sampingnya.

“Jangan ke sana, Bim!” pekik Jali. Dia berhasil menarik Bima agar tidak melangkah lebih jauh. Keduanya berhenti dan kemudian berbalik cepat. Kang Slamet sudah berada di belakang mereka!

“Mau lari kemana lagi, bocah?” Lelaki itu menyeringai. Dia berjalan mendekat dan siap-siap menerjang ke arah dua anak itu lagi.

“Kamu tidak akan pernah bisa menangkap kami!” teriak Jali dengan berani. Dia mencibir membuat Kang Slamet menggeram marah. Dengan sekali sentakan, lelaki tinggi kurus itu menerjang maju.

“Minggir, Bim!” Jali menjerit sambil mendorong tubuh Bima ke samping. Setelah itu Jali sendiri merunduk sehingga Kang Slamet tidak berhasil meraih tubuhnya.

BRUUUSSS …

Tubuh Kang Slamet jatuh menerobos semak dan amblas ke dalam … Lumur hisap! Sayangnya pada saat melompat tadi, tangan Kang Slamet masih sempat menggapai dan meraih ujung kaos Jali, sehingga membuat Jali terpelanting dan ikut masuk ke dalam lumpur hisap.

“Jali!” Bima tersentak hebat. Dia baru menyadari kalau tadi Jali memperingatkannya terhadap jebakan lumpur hisap dibalik rerimbunan semak. Sekarang dia sendiri malah ikut jatuh ke dalamnya bersama Kang Slamet.

Bima mulai panik. Dia melihat Jali dan Kang Slamet mulai tenggelam ke dalam kubangan lumpur sebatas pinggang. Keduanya menggapai-gapai mencari sesuatu untuk menahan tubuh mereka terseret ke dalam lumpur.

“TOLOOOOOOOOOONG ….” jeritan Bima melengking, membahana di seisi hutan.

***

Saat itu sudah lewat Magrib. Gelap meremang melingkupi desa Margasari. Seorang lelaki tinggi besar berjalan tergesa dengan langkah-langkah panjangnya. Wajahnya berkerut-kerut. Bibirnya ditekuk ke bawah. Jelas sekali kalau dia sedang menahan emosi dan kemarahannya. Di samping dan belakangnya berjalan pula beberapa orang lainnya dengan langkah tak kalah cepatnya.

“Ini tidak bisa dibiarkan!” teriak seorang lelaki yang ada di sampingnya.

“Benar, mereka sudah menghina kita kalau caranya seperti ini,” teriak lelaki lainnya.

“Karena itu kita harus meminta keadilan. Kita tidak bisa dicurangi seperti ini terus.” Teriakan kemarahan itu terdengar silih berganti. Semuanya penuh dengan ungkapan emosi dan marah.

Di halaman Balai Desa rombongan orang itu berbelok. Tanpa mengucapkan salam, semuanya serentak memasuki Balai Desa, membuat kaget beberapa orang yang ada di dalamnya.

“Pak Duyo? Ada apa Pak, malam-malam begini?” Pak Jajat, ketua pemilihan Kepala Desa tampak kaget, apalagi melihat wajah Pak Duyo yang kelihatan sedang marah besar.

“Saya tidak terima diperlakukan seperti ini. Kemarin-kemarin saya sudah bersabar ketika saya dicurangi. Saya tidak mempermasalahkan ketika banyak poster-poster kampanye saya yang dicopot dari tempatnya atau dirobek seenaknya. Saya juga masih bisa bersabar ketika spanduk atau banner juga mengalami pengrusakan.” Nafas Pak Duyo tersenggal-senggal menahan emosi yang bergolak di dadanya.

“Oh, apakah ada kejadian pengrusakan media kampanye Bapak lagi?” tanya Pak Jajat kaget. Saat itu, Pak Wahyu yang ruangannya tidak jauh dari ruang panitia pemilihan Kades muncul dengan kening berkerut. Dia langsung menduga ada kejadian penting lagi yang terjadi kali ini.

Kedatangan Pak Wahyu langsung menyulut kemarahan Pak Duyo. Dia menatap Pak Wahyu dengan galak.

“Dimana anak saya kalian sembunyikan?” sembur Pak Duyo.

Pak Wahyu terlongo. “Anak? Siapa yang menyembunyikan anak?”

“Jujur saja, kalian ingin menghancurkan konsentrasi saya untuk pemilihan Kades besok hari. Setelah dalam beberapa hari belakangan ini merusak alat kampanye saya, sekarang kalian menculik Sandi, anak saya!”

“Astagfirullahaladzim ….” Pak Wahyu mengelus dadanya. “Pak Duyo jangan main tuduh begitu saja. Dari awal sudah saya sampaikan, tim kami tidak ada yang pernah merusak media kampanye Bapak. Semuanya sudah bersumpah, Pak. Kalau ternyata ada yang melakukan perusakan itu, mereka hanya ingin mengadudomba Bapak dengan saya saja.”

Pak Duyo masih tersenggal-senggal.

“Coba ceritakan, ada apa dengan anak Bapak?” Pak Wahyu menuntun Pak Duyo menuju kursi tamu, tapi langsung ditepiskan dengan kasar.

“Anak saya hilang diculik, disembunyikan, atau apalah!” Pak Duyo mendengus. “Apakah ini cara Pak Wahyu agar saya mengundurkan diri dari pencalonan Kades besok?”

“Astagfirullah, Pak ….” Pak Wahyu mengurut dadanya kembali. “Tidak terlintas sedikitpun di pikiran saya untuk berbuat curang seperti itu. Saya ingin pemilihan Kades yang baru ini berjalan dengan lancar dan aman, tanpa ada kecurangan-kecurangan yang terjadi. Biarlah warga desa yang memilih siapa yang terbaik menurut mereka.”

“Lalu dimana anak saya disembunyikan kalau begitu?”

“Apa benar anak Bapak diculik? Mungkin dia keasyikan bermain dengan teman-temannya, sehingga lupa pulang.”

“Anak saya belum memiliki teman di sini. Dia baru datang beberapa hari di desa ini. Setiap hari dia ada di rumah. Baru hari ini dia pergi dari pagi dan belum pulang sampai malam begini.”

“Sabar Pak, kalau memang begitu, siapa tahu dia tersesat. Kita akan mencarinya bersama-sama dengan warga desa.”

Pak Duyo membuang muka. Dia masih belum tenang. Apalagi teringat istrinya yang menangis terus-terusan di rumah.

Keributan itu memancing banyak perhatian warga. Berita itu segera menyebar dengan cepat. Banyak orang langsung berdatangan ke Balai Desa untuk melihat keributan itu. Diantara kerumunan itu menyeruak seorang anak kecil. Dia sama penasarannya dengan semua orang yang berdatangan ke tempat itu. Apakah benar Sandi sudah diculik.

Panca celingukan ke sekelilingnya. Dia baru saja pulang dari kota bersama Ayahnya. Begitu mendengar berita mengejutkan itu, dia langsung berlari ke Balai Desa. Dia berharap bertemu dengan Jalu, Jali, dan Bima di tempat ini. Tapi ternyata ketiga temannya itu tidak ada dimana-mana.

“Pak Kades, anak saya juga belum pulang!” seruan itu mengejutkan seluruh warga yang berkumpul. Serentak semua kepala menoleh ke arah pintu. Dari sana muncul sosok Pak Teguh, ayah Bima. Panca langsung tersentak.

“Anak kembar saya juga belum pulang, Pak Kades. Saya sudah mencari ke tempat-tempat mereka biasa bermain, tapi tidak ada seorang pun yang melihat mereka dari pagi.” Pak Koko, ayah Jalu dan Jali muncul tak lama kemudian. Berita tentang menghilangnya Sandi membuat kedua orangtua ini melaporkan kehilangan anak mereka juga.

Balai Desa tiba-tiba menjadi riuh dengan gumaman dan kegaduhan warga. Setelah kehilangan Sandi, anak Pak Duyo, tiba-tiba sekarang dilaporkan pula kehilangan tiga anak lainnya. Apa yang sudah terjadi di desa mereka? Apakah telah terjadi penculikan anak di desa ini?

Tiba-tiba Panca menggigil teringat rencana mereka di surau tadi malam. Apakah sudah terjadi sesuatu dengan mereka di Hutan Larangan?

“Saya tahu di mana mereka!” didesak oleh kekhawatiran terhadap tiga sahabatnya, tiba-tiba Panca berteriak kencang. “Mereka terjebak di Hutan Larangan!”

Balai Desa seakan meledak oleh seruan-seruan kaget dari setiap orang. Hutan Larangan? Bagaimana mungkin empat anak itu bisa sampai di sana?

***

Jalu dan Sandi terduduk kelelahan di sudut gua. Sedari tadi mereka berusaha melepaskan ikatan di tangan mereka. Sayangnya tidak sedikitpun ikatan itu melonggar. Keduanya malah merasa pergelangan tangan mereka semakin lecet tergesek tambang plastik itu.

Kang Dahlan bolak-balik menelepon seseorang yang dipanggilnya Dul. Dari percakapan yang tertangkap, batu prasasti ini akan mereka angkut malam ini juga. Mereka sudah memperkirakan empat anak yang hilang malam ini akan membuat seluruh warga desa geger. Bukan tidak mungkin orangtua mereka sedang kelabakan mencari anak mereka masing-masing sekarang. Tapi kalau prasasti ini tidak dibawa malam ini, akan sulit lagi bagi mereka untuk membawanya lain kali. Pak Duyo pasti sudah mencium gelagat tidak beres karena mereka tidak ada di rumah dan di tempat kerja tadi siang. Bisa saja dia akan menuduh dia terlibat dalam kehilangan anak-anak ini.

“Gara-gara kalian semua rencanaku berantakan!” Dia menatap penuh amarah ke arah Jalu dan Sandi. “Coba kalian tidak suka iseng datang ke penggalian tadi, semuanya masih akan berjalan seperti yang aku harapkan.”

Jalu dan Sandi mengkerut sambil merapatkan diri satu sama lain. Kemarahan itu benar-benar membuat mereka takut. Mereka mengakui, gara-gara mereka lah semua rencana jahat orang-orang ini jadi berantakan. Tapi, bukankah itu hal yang bagus? Prasasti ini tidak boleh keluar dari Hutan Laragan ini. Benda itu adalah milik dan akan menjadi kebanggan warga desa Margasari!

“Jun, kamu tunggui dulu anak-anak ini. Aku akan turun ke desa sebentar untuk mengabari Beben dan yang lainnya untuk bersiap-siap meninggalkan desa ini besok,” kata Kang Dahlan yang langsung diangguki Kang Ajun.

Sandi langsung terkesiap. Kang Beben adalah orang yang dipekerjakan Ayahnya juga untuk rencana pengaspalan jalan desa. Berarti selama ini Ayahnya sudah mempekerjakan para penjahat!

Sementara Jalu mengernyit melihat Kang Dahlan berjalan memasuki gua dan tidak keluar lagi untuk waktu yang lama. Apakah gua ini menghubungkan sebuah jalan keluar dari dalam Hutan Larangan? Pikirnya penuh tanda tanya. Apakah orang-orang ini pula yang dimaksud Kek Mahdi bahwa sekarang ini makin banyak orang yang memasuki Hutan Larangan?

Hutan Larangan sudah gelap. Untung saja di dalam gua itu sudah terpasang sebatang lilin. Rupanya Kang Dahlan dan teman-temannya pasti sering datang ke hutan ini pada waktu malam, buktinya sudah ada lilin di tempat ini.

“Kang Ajun, saya pengin pipis,” teriak Sandi tiba-tiba.  Jalu melirik bingung ketika Sandi menyikut lengannya, lalu mengedipkan mata ke arahnya. Sandi melirik ke arah lilin, lalu ke arah kakinya yang terbelit tali. Matanya mengedip lagi. Sekejap saja Jalu paham dengan maksudnya.

“Eh, tidak boleh!” Kang Ajun yang duduk tidak jauh langsung menoleh.

“Loh, masa nggak boleh pipis, Kang?” timpal Jalu.

“Di luar gelap. Kalian nggak takut?”

“Berarti saya boleh pipis di sini?”

Kang Ajun melotot. “Tidak bisa! Nanti gua ini bau pesing kemana-mana.”

“Tapi saya pengin pipis, Kang. Aduuuuh ….” Sandi meringis. Badannya bergerak-gerak seolah sedang menahan pipis yang sudah tidak bisa lagi ditahannya.

“HAH! Kalian bisanya menyusahkan saja. Sini!” Kang Ajun mendekati Sandi, lalu melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangannya. “Awas kalau kamu berusaha kabur. Lihat, aku membawa ini.” Dia melotot sambil meraih sebilah linggis di tangannya.

Sandi mengangguk. “Saya hanya ingin pipis saja, Kang.” Katanya sambil berjalan ke luar gua diikuti Kang Ajun.

“Jangan jauh-jauh!” bentak lelaki itu.

“Kalau dekat-dekat gua nanti bau pesingnya sampai di sana, Kang.”

Kang Ajun mendengus. Dengan kesal dia mengikuti Sandi berjalan agak menjauh dari gua. Begitu keduanya menghilang dalam gelap, Jalu langsung beringsut mendekati lilin. Dia paham maksud Sandi tadi. Dia ingin Jalu menggunakan lilin untuk melepaskan ikatan di tangannya, untuk kemudian melepaskan belitan di kakinya.

Sekejap saja Jalu sudah berusaha membakar ikatan tali plastik di tangannya dengan nyala lilin itu. Ternyata sulit sekali karena kedua tangannya diikat di belakang punggung. Meski begitu, Jalu tidak menyerah. Dia harus bisa memutuskan tali itu meski dia harus meringis kesakitan karena tangannya ikut terbakar api.

“Sudah belum? Pipis aja lama sekali?” Kang Ajun terdengar menggerutu.

“Sebentar Kang, saya seharian ini belum pipis, jadi harap dimaklum kalau lama,” jawab Sandi dengan cerdiknya. Kalau saja tidak sedang diburu-buru seperti ini, Jalu pasti akan tertawa mendengar gurauan Sandi tadi. Tapi saat ini ada hal lain yang harus diselesaikan.

TASSS …

Tali pengikat pergelangan tangan Jalu terputus. Dengan penuh semangat Jalu kemudian melepaskan ikatan di kakinya. Untung saja ikatan itu tidak terlalu kuat, sehingga dengan mudah Jalu melepaskannya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” pikiran Jalu langsung berputar. Apakah harus menolong Sandi, atau ….

“Heey!  Anak kurang ajar!”

Jalu tersentak. Rupanya Sandi dan Kang Ajun sudah kembali ke dalam gua. Dengan kaget Kang Ajun melihat Jalu sudah berdiri dengan tangan dan kaki yang terbebas dari ikatan.

“Jangan lari!” lelaki itu tidak kalah bingungnya. Kalau dia mengejar Jalu, bagaimana dengan Sandi yang juga sudah tidak terikat. Tapi kalau menjaga Sandi, Kang Dahlan pasti marah besar kalau satu anak berhasil melarikan diri.

Jalu bingung, haruskah dia meninggalkan Sandi sendiri di sini? Tapi Sandi kemudian membebaskan kebingungannya.

“Lari, Lu! Cari bantuan!”

Jalu berbalik dan berlari ke dalam gua. Kang Dahlan tadi berjalan memasuki gua ini. Pasti ada jalan keluar dari Hutan Larangan ini melalui gua ini. Dengan menempelkan telapak tangan kirinya ke dinding gua, Jalu berjalan cepat menyusuri gua itu. Hanya dengan cara seperti itu dia bisa menyusuri gua yang sangat gelap ini.

“HEY, KEMBALI!” Kang Ajun merubah pemikirannya. Dia pikir, lebih baik menangkap Jalu dan membiarkan Sandi di tempat ini. Sandi tidak mungkin lari ke dalam hutan dengan resiko tersesat di kegelapan malam.

Melihat gelagat Kang Ajun yang bermaksud mengejar Jalu, Sandi pun bergerak cepat. Dia menjulurkan sebelah kakinya ketika lelaki itu berlari di dekatnya sehingga Kang Ajun langsung tersandung. Brukk! Badannya limbung dan jatuh berdebum ke lantai gua.

“Kurang ajar!”dia mendelik ke arah Sandi.

Sandi melompati badan Kang Ajun yang melintang di tengah gua. Dia bermaksud mengikuti Jalu mumpung lelaki ini masih belum bangkit dari jatuhnya. Sayang Kang Ajun membaca gerakan kaki Sandi, sehingga ketika anak itu melompatinya, dia menangkap salah satu kaki Sandi dan menariknya.

BUUGG!

Sandi memekik kesakitan ketika tubuhnya jatuh menghempas lantai gua yang keras. Dadanya langsung sesak sehingga dia berguling-guling kesakitan.

“Itu hukuman untuk anak sok pemberani seperti kalian!”

Kang Ajun menatap puas ke arah Sandi sebelum berlari mengejar Jalu.

***

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan komentar