Tongkat Segala Keinginan

oleh Alby Syafie

Zarki tersenyum senang. Dia akan menggunakan tongkat sihirnya untuk menolong semua orang. Itulah janjinya setelah menerima hadiah berupa tongkat sihir. Lalu Zarki melakukan petualangan setelah mendapat restu dari orang tuanya.

Zarki menyusuri jalanan di desa dan keluar masuk hutan. Langkah Zarki terhenti. Dia melihat sebuah gubuk. Dilihatnya seorang Nenek sedang menyiram tanaman. Zarki memperhatikannya dengan seksama. Nenek itu tersenyum saat menyiram tanaman yang berbunga. Senyumnya hilang saat menyiran tanaman tanpa bunga.

“Kasihan sekali Nenek itu. Pasti dia ingin semua tanamannya berbunga,” gumam Zarki.

Dari kejauhan, Zarki terus memperhatikan Si Nenek. Saat Nenek itu masuk ke dalam gubuknya, Zarki mulai beraksi. Dia mengayunkan tongkatnya. Wuzz… dzing… dalam sekejap dari tongkatnya keluar bintang-bintang kecil warna-warni. Hanya beberapa detik, semua tanaman telah berbunga. Melihat itu, Zarki tersenyum senang.

“Hm… aku sudah berhasil menolong Nenek dengan tongkat sihirku,” ujarnya kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.

Zarki bernyanyi kecil kembali menyusuri jalan setapak di hutan. Matanya tak hentinya memperhatikan sekeliling. Saat melihat gerumbulan tanaman tak berbunga, Zarki mengayunkan tongkatnya. Seketika tanaman itu berbunga dengan beraneka warna.

Langkah Zarki kembali terhenti saat sampai di sebuah tikungan. Tak jauh darinya, dilihatnya seorang bapak sedang memberi makan burung. Banyak sekali peliharaan burung milik si Bapak. Dilihatnya Si Bapak melepaskan seekor burung dengan senyum cerah.

“Pergilah, terbang yang tinggi,” ujar Bapak itu berteriak kepada burung yang baru saja dilepasnya.

Kemudian Bapak itu kembali lagi berjongkok. Di depannya ada bebeapa ekor burung yang terus mematuk-matuk makanan di tanah. Bapak itu kemudian mengambil seekor dan membentangkan sayapnya. Sayangnya burung itu tidak terbang tinggi. Dia hanya melompat dan terguling di tanah. Zarki terus memperhatikannya.

“Kasihan sekali. Pasti bapak itu sedih melihat burung-burungnya tidak bisa terbang seperti yang lainnya. Ah, aku harus membantunya,” pikir Zarki.

Saat dilihatnya Bapak itu masuk ke dalam rumah, Zarki kembali beraksi. Sekarang dia akan membuat burung itu bisa terbang. Hanya sesaat, dengan tongkat sihirnya, semua burung itu terbang. Menyaksikan hal itu , Zarki tersenyum senang. Zarki melanjutkan perjalanannya.

Di tengah jalan dia bertemu seorang perempuan setengah baya. Perempuan itu kewalahan membawa barangnya.

“Adakah yang bisa saya bantu, Bu,” tawar Zari pada perempuan itu.

“Oh, terimakasih, Nak. Keranjangku patah, jadi barang belanjaannya berhamburan kemana-mana,” jawab Ibu itu dengan sedih.

Zarki merasa iba. Niat ingin menolong kembali muncul di dalam pikarannya.

“Baiklah, Ibu. Saya bantu ibu,” ujarnya dan dalam sekejap tongkat sihirnya diayunkan.

Dalam hitungan detik sebuah keranjang telah berada di hadapan Si Ibu. Tidak sampai di situ. Zarki pun mengayunkan tongkatnya. Semua barang belanjaan Si Ibu tiba-tiba terbang dan masuk ke dalam keranjang. Tanpa satu pun yang tertinggal. Melihat itu perempuan tersebut tersenyum senang karena telah dibantu.

“Terimakasih ya, Nak.”

Zarki tersenyum dan mengangguk. Kemudian wanita itu pamit untuk pulang. Demikian dengan Zarki. Dirinya puas dan sangat senang. Petualangannya kali ini benar-benar sangat menyenangkan. Dia berniat pulang dan akan menceritakan semuanya pada orang tuanya. Zarki pun memutuskan untuk pulang.

Tidak sabar rasanya Zarki untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Zarki yakin pasti ayahnya akan senang dan bangga padanya. Karena tongkat sihir hadiah darinya telah membantu banyak orang. Zarki mempercepat langkahnya.

Dari kejauhan Zarki sudah bisa melihat rumahnya. Senyum merekah di bibir Zarki. Dia makin mempercepat langkahnya setengah berlari. Sampai di depan rumah, dia mengetuk pintu. Ayah muncul membukakan pintu untuknya disusul ibunya.

Zarki menghambur kepelukan Ayah dan Ibu. Mereka kemudian duduk bersama di ruang depan.

“Bagaimana petualanganmu, Zark?” tanya Ayah menatap putranya.

Tanpa diminta dua kali, Zarki langsung menceritan semua pengalamannya. Tak satupun yang luput dari cerita Zarki. Ayah dan Ibu hanya manggut-manggut mendengar cerita anaknya.

“Tongkat segala keinginan ini benar-benar hebat, Ayah. Bisa membantu banyak orang dan mahkluk hidup lainnya.” Zarki mengakiri ceritanya.

“Sebaiknya kamu harus belajar lagi menggunakan tongkat itu, Zarki,” ujar Ayah.

Zarki melongo bingung.

“Zarki sudah menggunakan tongkat ini seperti nasihat Ayah. Gunakan tongkat ini dengan baik, begitu, kan.”

“Benar. Ayah berpesan untuk menggunakan tongkat itu dengan baik. Untuk menolong sesama. Tapi semua ada tempatnya.”

“Maksud Ayah, apakah Zarki telah salah menggunakannya?”

“Tidak semua tanaman harus berbunga. Tidak semua burung bisa terbang. Itu yang perlu kamu pelajari. Semua sudah ada tempat dan aturannya masing-masing.”

Zarki berpikir dan kemudian menepuk jidatnya. Zarki ingat dengan burung-burung yang dibuatnya terbang. Burung itu terbang dengan aneh. Sekarang dia mulai paham apa maksud ayahnya. Zarki Janji akan belajar lagi.***

(Dimuat di Lampung Post 22 Oktober 2017)

Bagikan artikel ini:

Satu pemikiran pada “Tongkat Segala Keinginan”

Tinggalkan komentar