Warisan Tuan Reading

Tuan Reading Wellington adalah seorang pensiunan juru tulis di kantor kejaksaan kota Weston. Ia memiliki ribuan buku. Ia selalu meluangkan waktu untuk membaca buku. Nyonya Maggie Stone, istrinya, juga gemar membaca. Suami istri itu tidak memiliki anak.
***
“Selamat pagi.”

Tampak seorang anak lelaki berumur sekitar 10 tahun bertubuh kurus berdiri di depan pintu rumah Tuan Reading yang terbuka.

“Peter, kau sudah datang? Ayo, masuklah,” kata Tuan Reading.

Tuan Reading bertemu Peter beberapa bulan lalu di stasiun. Saat itu Tuan Reading sedang menunggu kereta yang akan mengantarnya menuju pusat kota. Perpustakaan Kota ada di pusat kota, Tuan Reading hendak berkunjung ke sana.

Saat itulah datang seorang anak lelaki bertubuh kurus menawarkan jasa menyemirkan sepatu Tuan Reading.

“Siapa namamu?” tanya Tuan Reading.

“Nama saya Peter, Tuan. Maaf, apakah Tuan yang tinggal di Jalan Rainbow nomor 13?” jawab Peter, si penyemir sepatu.

“Benar. Bagaimana kau tahu?” sahut Tuan Reading.

“Saya sering melintas di depan rumah Anda, Tuan. Saya tinggal beberapa blok dari rumah Anda. Saya sering melihat Tuan sedang membaca sesuatu di dekat jendela,” kata Peter.

“Benarkah? Pasti saya sedang membaca buku, saat kau melintasi rumahku. Saya punya banyak buku di rumah.” jelas Tuan Reading.

“Benarkah? Saya punya beberapa buku dongeng HC Anderson di rumah. Aku membelinya dari hasil menyemir sepatu,” kata Peter, sepasang matanya tampak bercahaya.

“Kalau kau ada waktu, datanglah ke rumahku. Banyak buku dongeng anak di sana,” kata Tuan Reading.

“Anda serius, Tuan?” tanya Peter penuh semangat. “Tentu ada waktu bagi saya untuk membaca buku. Kapan saya bisa datang ke rumah Anda, Tuan?”

“Sebaiknya pagi. Itu saat yang tepat untuk membaca buku,” kata Tuan Reading. “Oh, ya, namaku Reading Wellington. Kau boleh memanggilku Tuan Eddie.”

“Baiklah, Tuan Eddie. Sampai jumpa besok pagi di rumah Anda,” sahut Peter.

Esoknya dan hari-hari berikutnya, pukul 8 pagi, Peter telah sampai di rumah Tuan Reading. Membaca buku di rumah lelaki tua itu. Pukul 10, Peter pamit untuk pergi ke stasiun, tempatnya mencari uang sebagai penyemir sepatu.
***
Hari ini Tuan Reading hanya membalik-balik halaman beberapa buku. Tak satu pun buku yang ia baca dengan penuh ketenangan. Sesuatu yang aneh di mata Peter.

“Ada apa dengan Anda, Tuan Eddie?” tanya Peter.

“Aku memikirkan sesuatu….bila nanti aku meninggal…..Bagaimana dengan semua buku koleksiku?” kata Tuan Reading.

Peter menutup buku yang sedang dibacanya. Ia berpikir sejenak.

“Menurut saya, Anda bisa menyumbangkannya ke perpustakaan, Tuan. Atau ke yayasan anak-anak telantar,” kata Peter.

“Kau benar, Peter,” Tuan Reading tersenyum. “Mengapa tak terpikirkan olehku?”

“Atau kalau Anda berkenan, Anda bisa mewariskan buku-buku itu pada saya,” Peter menyela hati-hati.
“Mewariskan?” Tuan Reading menatap Alfred.

“Benar,” Peter mengangguk. “Maksud saya, Anda tak perlu mewariskan semua buku, tapi sebagian saja.”

Tuan Reading terdiam. Sorot matanya memberitahukan bila ia sedang mempertimbangkan usul si penyemir sepatu yang telah menjadi bagian kehidupannya beberapa bulan terakhir ini.

Namun bagi Peter, ia merasa telah membuat kesalahan.

“Maafkan saya, Tuan,” kata Peter. “Anggap saja saya tak pernah mengatakan hal itu. Lupakan usul saya tadi…tentang warisan itu, Tuan.”

“Tidak, Peter,” Tuan Reading menyela. “Aku tidak akan melupakan usulmu. Aku akan mempertimbangkan. Ya, mempertimbangkannya.”

Kali ini, Peter yang terdiam.
***
Tuan Reading menghembuskan napas terakhir di ruang baca di rumahnya, suatu pagi, beberapa menit sebelum Peter datang. Lelaki tua itu meninggal dalam keadaan duduk, sementara kepala terkulai di meja, di atas buku yang belum selesai dibacanya.

Peter berkali-kali mengusap matanya yang memerah. Ini kali kedua Peter merasa kehilangan sosok orang yang mengasihinya, setelah kematian ayahnya lima tahun silam.

Sebulan setelah kematian Tuan Reading, Nyonya Maggie meminta Peter untuk datang ke rumah janda itu. Pada hari yang ditentukan, Peter menepati undangan itu. Di ruang baca peninggalan Tuan Reading, telah menanti Nyonya Maggie dan seorang lelaki gemuk berkepala botak.

“Peter, perkenalkan ini Tuan Jefferson, pengacara kami,” kata Nyonya Maggie. “Tuan Jefferson akan memberitahukan sesuatu padamu.”

Peter merasakan dadanya berdebar. Penyemir sepatu itu melihat si pengacara mengeluarkan beberapa dokumen dari tas. Si Pengacara membacakan dokumen-dokumen itu. Peter mendengarkan dengan saksama.

“Sekarang tentang diri Anda, Tuan Peter,” kata si pengacara. “Tuan Reading mewariskan sepuluh ribu buku koleksinya kepada Anda, Tuan Peter.”

Peter tertegun. Sepuluh ribu buku? Peter duduk terdiam, tak mampu berkata-kata.
***
“Sepuluh ribu buku?” Nyonya Peggy membelalakkan mata. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Sorot matanya tampak kebingungan. “Hendak kita taruh di mana buku sebanyak itu?”

“Tapi, Ibu. Buku-buku itu adalah wasiat Tuan Eddie. Aku harus merawatnya dengan baik,” kata Peter.

“Aku tahu, Peter. Tapi sepuluh ribu buku? Oh, tidak bisa kubayangkan, rumah kecil ini akan menjadi gudang buku,” kata Nyonya Peggy.

“Lantas bagaimana, Ibu?” tanya Peter.

“Aku tidak tahu, Peter. Benar-benar tidak tahu,” sahut Nyonya Peggy.

Peter duduk terdiam. Nyonya Peggy berjalan ke sana ke mari, menggaruk-garuk kepala. Sebentar lagi sepuluh ribu buku akan tiba di rumah mereka. Mereka benar-benar bingung. Mereka benar-benar butuh solusi, dari siapa saja. Kamu punya?
***SELESAI***

Sulistiyo Suparno, lahir di Batang, 9 Mei 1974. Cerpen dan dongeng karyanya tersiar di Bobo, Solopos, Suara Merdeka, Tribun Timur, Analisa, dan media lainnya. Bukunya yang telah terbit novel remaja Hah! Pacarku? (2006) serta antologi cerpen bersama Bahagia Tak Mesti dengan Manusia (2017) dan Sepasang Camar (2018). Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.

Facebook: Sulistiyo Suparno

Bagikan artikel ini:

2 pemikiran pada “Warisan Tuan Reading”

  1. Wah, bingung juga ya. Sepuluh ribu buku itu jumlah yang sangat banyak. Hm, bagaimana kalau Peter menitipkan buku-buku warisan Tuan Eddie ke yayasan anak-anak telantar? Selain mendapatkan tempat penyimpanan yang layak, Peter juga bisa berbagi buku-buku warisan Tuan Eddie dengan anak-anak yang lain.

    Balas

Tinggalkan komentar